Tilaria Padika aka George
Tilaria Padika aka George Petani

Artikel sejarah - ekonomi - politik - sosial budaya Twitter: @tilariapadika | surel: tilaria.padika@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Politik

Politisasi Pengucapan Al-Fatihah Jokowi, Taktik Dog-Whistle Politics

11 Oktober 2018   22:01 Diperbarui: 11 Oktober 2018   22:16 1487 11 3
Politisasi Pengucapan Al-Fatihah Jokowi, Taktik Dog-Whistle Politics
Presiden Jokowi dalam pembukaan MTQ [NU.or.id]

Pada 8 Oktober lalu Presiden Joko Widodo membuka perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional XXVII di Medan, Sumatera Utara. Ia mengajak peserta bersama-sama membaca Surat Al-Fatihah untuk mendoakan korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala.

Sebagai orang Jawa yang tak pernah bisa lepas sepenuhnya dari pengaruh bahasa ibu, Presiden Jokowi mengucapkan Al-Fatihah sebagai 'Al-Fatekah.'

Karena ini tahun politik, 'keliru' ucap Presiden Joko Widodo segera jadi bahan percakapan publik. Ada yang terang-terang menyerang Presiden dengan sarkasme vulgar; ada yang bahkan menuduhnya melecehkan Al-Qur'an, ada yang sekedar menjadikan bahan pembahasan.

Banyak yang kurang awas akan situasi politis ini, menyangka kehebohan ini sekedar respon reaksioner warganet yang kurang terdidik dan memang sudah membenci Joko Widodo.

Tidak banyak yang sadar kemungkinan dog-whistle propaganda sedang dimainkan kelompok tertentu dengan menekankan 'salah' dialeg Jokowi.

Dog-whistle politics  adalah taktik propaganda atau komunikasi politik yang aslinya disebut multivocal communication.

Komunikasi multivokal adalah strategi komunikasi menggunakan diksi yang memiliki makna tertentu bagi kelompok yang disasar (ingroup) dan tidak dipahammi oleh kelopok lainnya (outgroup).

Bagi politisi, komunikasi multivokal disampaikan untuk mengkonsolidasikan kelompok pendukungnya dalam suatu komunikasi terbuka untuk pesan-pesan yang dilarang aturan atau sekedar agar tidak membuat kelompok lawan waspada.

Mengeksploitasi sentimen rasis dan identitas agama dilarang di Indonesia, juga disepakati dalam deklarasi formal para kontestan politik untuk tidak digunakan. 

Demikian pula di sejumlah negara seperti Amerika Serikat. Itu sebabnya di AS komunikasi multivokal digunakan para politisi untuk menyampaikan pesan-pesan rasis yang hanya dipahami para pendukungnya (ingroup). Umumnya ini digunakan para politisi Partai Republik, kaum konservatif.

Pada 2005, komunikasi multivokal dalam politik populer sebagai dog whistle politics, digunakan oleh para politisi konservatif di Inggris untuk menyampaikan pesan-pesan konsolidasi kepada para pendukungnya.

Istilah ini aslinya berasal dari Australia, digunakan oleh ahli strategi politik Lynton Crosby yang berperan sebagai konsultan politik John Howard saat bertarung memperebutkan kursi Perdana Menteri Australia.

Dalam konteks "salah ucap" Joko Widodo, kubu lawan politik Joko Widodo dihadapkan kepada dua pilihan, menyerang Joko Widodo secara terbuka soal pengucapan yang tidak sesuai standar bahasa Arab atau membicarakannya melalui kode  yang hanya dimengerti oleh ingroup penentang Joko Widodo.

Menyerang secara terbuka akan jadi boomerang bagi kubu lawan Jokowi karena itu berarti menyerang kelompok pemilih terbesar, orang-orang Jawa yang oleh pengaruh bahasa ibu umumnya mengucapkan Al-Fatihah sebagai Al-Fatekah.

Karena itu tidak ada politisi resmi kubu lawan Jokowi yang terang-terangan mengomentari hal ini. Yang banyak berbicara adalah akun-akun media sosial tanpa riwayat dalam dunia nyata.

Pesan di balik percakapan miring soal salah ucap ini adalah "lihatlah, ia representasi kelompok yang mencoba menodai Islam dengan memperkenalkan istilah Islam Nusantara."

Dengan demikian percakapan soal salah ucap Presiden Jokowi menjadi dog-whistle bagi para penentang istilah dan kultur Islam Nusantara untuk menyolidkan diri. Dalam konteks politik ini berarti memperkuat konsolidasi para pendukung capres yang jadi lawan Joko Widodo yang beririsan rapat dengan penentang kelompok Islam Nusantara (Nahdatul Ulama).

Percakapan negatif soal salah ucap Al-Fatihah Presiden Joko Widodo ini bukan hal yang lepas pisah dari kenyataan bahwa di Sumatera, basis bagi para penentang istilah dan kultur Islam Nusantara adalah juga basis bagi Prabowo Subianto; tidak lepas pisah dari kenyataan bahwa PKS sebagai parpol yang kerab berseteru sengit dengan Nahdatul Ulama adalah pendukung utama Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno dalam pemilihan presiden 2019.

Percakapan 'keliru' pengucapan Al-Fatihah Presiden Jokowi adalah seruan konsolidasi ingrup kubu penentang Joko Widodo tanpa membuat para pendukung Joko Widodo terjaga. Para pendukung Joko Widodo akan tetap tenang, memandang persoalan ini hanya reaksi biasa warganet menyangkut perbedaan pandangan terhadap kaidah pengucapan kata-kata dalam kitab suci.

Sumber:

  1. Ian Haney Lpez (2014) Dog Whistle Politics. Oxford University Press, USA,
  2. Bethany L. Albertson. "Dog-Whistle Politics: Multivocal Communication and Religious Appeals." Political Behavior (2015) 37:3--26
  3. Detik.com (09/10/2018) "Jokowi Ucapkan 'Alfatekah', Nusron: Itu Logat Orang Jawa." news.detik.com/berita/d-4248437/jokowi-ucapkan-alfatekah-nusron-itu-logat-orang-jawa
  4. NU.or.id (10/10/2018) "Polemik 'Al-Fatekah' Jokowi Menurut Pakar Linguistik." nu.or.id/post/read/97048/polemik-al-fatekah-jokowi-menurut-pakar-linguistik