Mohon tunggu...
Padika
Padika Mohon Tunggu... youtube.com/c/kedaipolitikindonesia

Petani separuh hati dan penulis recehan youtube.com/c/kedaipolitikindonesia

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Roy Suryo, Presiden Jokowi, dan Anak-anak Kita

3 September 2018   09:01 Diperbarui: 3 September 2018   12:20 0 12 8 Mohon Tunggu...
Roy Suryo, Presiden Jokowi, dan Anak-anak Kita
Kicauan bernada cemburu Roy Suryo [tangkap layar twitter @KRMTRoySuryo2]

Beberapa kali jika sedang bertandang ke tetangga untuk sekadar duduk-duduk menikmati kopi dan memantau anak saya bermain bersama teman-teman se-permukiman, saya kerap simak percakapan dan perilaku bocah-bocah.

Ada satu kecenderungan kanak-kanak yang boleh dikatakan negatif: iri hati atau cemburu. Biasanya perasaan negatif itu mereka ekspresikan saat melihat salah seorang teman punya mainan baru.

Bocah A memiliki sepeda baru, sedang berlatih naik sepeda dengan ayahnya. Bocah B yang tampaknya seorang pencemburu melontarkan pernyataan kepada kumpulannya, "Si A sedang pamer sepeda baru." Dalam kondisi ekstrem, ada pula bocah yang mengajak menjauhi si pemilik mainan baru.

Saya menyadari kecenderungan kanak-kanak untuk cemburu atau iri hati adalah hal alamiah. Adalah tugas orang tua untuk mendidik anak agar berkurang sifat-sifat negatif yang alamiah itu dalam diri mereka.

Itulah hebatnya manusia. Budi pekerti dikembangkan untuk menekan naluri negatif.

Karena itu anak saya sudah sejak kecil dididik agar tidak menjadi seorang pencemburu; agar sportif mengakui kelebihan orang lain sekaligus bangga pada diri sendiri.

Ketika membaca berita pernyataan-pernyataan Roy Suryo terhadap pemerintahan Joko Widodo, terutama sejumlah pernyataan terakhirnya terkait sepak terjang Presiden Joko Widodo dalam momentum Asian Games, saya jadi teringat perilaku cemburu dan iri hati kanak-kanak tadi.

Saya tidak dapat menahan diri untuk membayangkan Roy Suryo di masa kanak-kanaknya. Mungkin ia sering melihat teman-teman sepermainan punya sesuatu yang tidak ia miliki. Karena tidak ada orang dewasa yang awas menyadarkannya, Roy menjadi seorang anak pencemburu dan iri hati. Sikap mental itu bertahan hingga Roy dewasa. Itu dugaan spontan saya.

Ada juga saat saya menduga pernyataan-pernyataan Roy bukan lahir dari hati kanak-kanak pencemburu dan iri hati. Roy hanya sedang menjalankan tugas partai dengan sebaik-baiknya, melontarkan kritik kepada capres petahana, apapun bentuknya sesering mungkin.

Bisa jadi Partai Demokrat menugaskan Roy demikian agar prestasi-prestasi presiden sekarang tidak tampak kemilau, dan sebaliknya kekurangan-kekurangannya nyaring terdengar seperti gemerincing giring-giring di kaki kuda.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x