Mohon tunggu...
Padika
Padika Mohon Tunggu... youtube.com/c/kedaipolitikindonesia

Petani separuh hati dan penulis recehan youtube.com/c/kedaipolitikindonesia

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

3 Alasan Pendukung Jokowi Jangan Terprovokasi Aksi 2019 Ganti Presiden

30 Agustus 2018   02:17 Diperbarui: 30 Agustus 2018   06:14 0 9 6 Mohon Tunggu...
3 Alasan Pendukung Jokowi Jangan Terprovokasi Aksi 2019 Ganti Presiden
Pengadangan Ahmad Dhani di Surabaya [sumber: Kompas.com]

Adu mobilisasi massa itu penting sebab pemilu pada dasarnya adu jumlah. Tidak sekedar vote di hari-H, adu jumlah juga berlangsung di jalan-jalan, di laman-laman media massa, pada dinding akun-akun media sosial. Kumpulan dalam jumlah besar mempengaruhi banyak hal. Ia membangkitkan moral tiap-tiap unsur dalam himpunan, ia medan gravitasi yang menyerap masuk unsur-unsur lepas yang masih berdiri di pinggiran.

Mobilisasi massa menolak aksi deklarasi #2019GantiPresiden adalah adu jumlah. Sayangnya, adu jumlah yang membenturkan langsung kumpulan lawan kumpulan adalah langkah keliru. Blunder. Terjebak provokasi lawan.

Elemen-elemen pendukung Joko Widodo perlu belajar menahan diri, berlatih disiplin, tunduk pada satu komando agar ada kesatuan gerak berdasarkan timbangan matang, tidak sekedar bereaksi yang berpotensi menghasilkan kerugian bagi kubu sendiri.

Berikut saya jelaskan tiga alasan pentingnya.

Pertama

Pada 2014 individu-individu kritis yang kerab tampak batang hidungnya di layar televisi berunjukrasa menolak kebijakan-kebijakan pemerintahan SBY terbelah sikap politiknya ketika menghadapi pemilu dan pilpres. Mereka menghendaki pemerintahan baru tidak melanjutkan kebijakan-kebijakan SBY yang sangat beraroma neoliberal.

Pilihan akan mudah dijatuhkan andai dua kubu pasangan calon yang bertarung saat itu mewakili dua pendekatan berbeda: ekonomi kerakyatan versus neoliberal. Sialnya, baik kubu Jokowi pun Prabowo mengusung narasi yang sama: kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, kepribadian dalam budaya. Trisakti!

Maka individu-individu ini, yang jumlahnya hanya nol koma sekian persen dari total pemilih namun berpengaruh dalam pembentukan wacana publik lewat militansi mereka, kemudian menimbang hal lain agar menemukan perbedaan antara Jokowi dan Prabowo: komitmen pada demokrasi.

Malang bagi Prabowo. Masa lalunya yang terkait penculikan aktivis; kedekatan dengan keluarga Orde Baru; kemesraan dengan kelompok milisi seperti FPI; dan dukungan kekuatan politik pengusung fundamentalisme agama menorehkan belang citra anti-demokrasi pada profilnya.

Demokrasi. Inilah alasan utama banyak individu militan pejuang demokrasi dan keadilan sosial dahulu memberi dukungan kepada Joko Widodo. Mereka berharap, dengan kemenangan Joko Widodo, tidak ada lagi ormas-ormas yang merasa di atas hukum, yang bisa seenak perut sendiri melakukan aksi-aksi sweeping dan pembubaran acara-acara diskusi, pentas seni, berbagai unjuk rasa beragam kelompok masyarakat sipil.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x