Mohon tunggu...
Padika
Padika Mohon Tunggu... youtube.com/c/kedaipolitikindonesia

Petani separuh hati dan penulis recehan youtube.com/c/kedaipolitikindonesia

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Soal Indikator Kemiskinan, Jangankan Politisi, Akademisi pun Bisa Salah

18 Agustus 2018   02:51 Diperbarui: 18 Agustus 2018   03:30 0 18 10 Mohon Tunggu...
Soal Indikator Kemiskinan, Jangankan Politisi, Akademisi pun Bisa Salah
Ilustrasi: probonoaustralia.com.au

Tiga tahun lalu, ketika masih kuli formal saya dapat tugas singkat survei pasar Jagung di sejumlah kabupaten di wilayah Timur Flores. Karena banyak hotel penuh, admin menempatkan saya dan bos di sebuah resort di tepi pantai.

Hanya ada 5 tamu saat itu. Saya dan bos, seorang lelaki Swis berbahasa Jerman, dan sepasang kekasih berkebangsaan Spanyol.

Karena tamu sedikit, para tamu bisa mengobrol saat sarapan pun makan malam.

Sepasang kekasih Spanyol itu bercerita jika mereka tinggal terpisah karena alasan pekerjaan. Yang perempuan bekerja di Manila Filipina, yang lelaki di Bangkok. Keduanya baru bisa puas-puasan berduaan di saat liburan panjang, yang mereka gunakan untuk mengunjugi negara indah seperti Indonesia, termasuk untuk bercinta tentunya.

Mereka harus bekerja dan tinggal berbeda negara bukan karena turuti passion. Tak! Eropa sedang krisis kata mereka, pekerjaan susah diperoleh. Maka merantaulah mereka menjadi pekerja migran kaya ke negara-negara Asia, yang meski mengupah mereka lebih murah, biaya hidup juga lebih murah sehingga tetap saja ada yang bisa ditabung untuk hari tua kelak.

Indonesia adalah negara favorit mereka. Dalam kondisi setipis-tipisnya dompet, mereka tetap saja bisa melanglang ke tempat-tempat eksotis di negeri ini. "semua-semua murah," kata bule Spanyol yang cewek.

Nah, mengapa saya ceritakan ini? Agar Om-Tante bisa menarik kesimpulan. Tingkat kesejahteraan bukan bergantung kepada nominal uang di dompet kita, tetapi pada daya beli atau purchasing power dari uang itu. Uang banyak namun kebutuhan hidup tinggi sama saja dengan pendapatan pas-pasan namun apapun murah, apalagi gratis (seperti di negara-negara sosialis yang kesehatan dan pendidikan gratis, perumahan dan transportasi murah).

Anda mungkin sudah tahu, di New Zealand tukang bersih-bersih yang hanya kerja kebaskan kemoceng dan ayunkan sapu diupah 18 dollar per jam (Hampir Rp 180.000) namun masih ada saja yang hanya bisa kasih makan anaknya dua kali sehari. Karena apa? Karena biaya hidup juga besar.

Begini intinya.

Ketika Bank Dunia bikin indikator yang namanya international poverty line yang sekarang nilainya 1,90 dollar AS itu, mereka sudah paham pula persoalan relativitas daya beli ini.

Itu sebabnya mereka tidak maksudkan 1,90 dollar (yang kini sedang trending di mulut politisi kita) sebagai ukuran yang kita tafsirkan setara 1,90 x Rp 13.000 (atau whatever kurs Rupiah sekarang). Bukan!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN