Tilaria Padika
Tilaria Padika Petani

Artikel sejarah - ekonomi - politik - sosial budaya Twitter: @tilariapadika | surel: tilaria.padika@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan Pilihan

Selamat Idulfitri, Saya Harus Mudik

14 Juni 2018   00:37 Diperbarui: 14 Juni 2018   01:11 629 20 15
Selamat Idulfitri, Saya Harus Mudik
Rute Mudik 2018 saya 14/06 dan 16/06

Hai, Selamat Idulfitri, Kompasianers. Mohon maaf jika selama ini ada artikel dan komentar yang melukai hati. Semoga Kompasianers yang merayakan dilimpahi suasana hati cerah ceria, syukur, dan bahagia bertemu sanak kerabat dan kenalan. Semoga hari-hari Indonesia ke depannya kian damai dan sukacita seperti suasana hati Kompasianers hari ini.

Saya menulis dan mengunggah artikel ini malam 13/06 dan mengatur agar terbit pagi-pagi sebab Kamis 14/06 pukul 07.00 saya sudah harus berangkat ke sebuah desa di pedalaman. Saya diminta hadir untuk menulis soal kegiatan Festival Pangan Lokal yang bertempat di desa itu.

Namanya desanya Oh'aem I, terletak di Kecamatan Amfoang. Saya belum pernah masuk hingga ke dalam desa itu meski sudah berulang kali ke desa tentanggnya, Oh'aem II.

Di Desa Oh'aem I selama 2 hari (14-15 Juni) akan diadakan festival pangan lokal 3 desa: Lelogama, Oh'aem I, dan Oh'aem II. Tema festivalnya dalam bahasa Timor-Dawan, "Tah'an TahTababua Am Nahat Batan A'Hunut," yang diterjemahkan ke Indonesia sebagai 'Masak dan Makan Bersama Makanan Tempo Dulu."

Saya yakin festival ini bakal asyik dan merupakan acara yang langka sebab  umumnya pada festival pangan yang pernah diadakan, orang-orang memamerkan berbagai produk makanan olahan yang rumit-rumit, bukan 'masak dan makan makanan tempo dulu.'

Jika dirimu belasan tahun terjun dalam isu pangan lokal, Om-Tante, engkau akan tahu bahwa salah satu sebab mengapa beras---dan kini mi instan---menjadi pangan pokok dominan, bukan sekedar karena kebijakan berasnisasi Orde Baru, tetapi juga karena kemudahan memperoleh, mengolah, dan menyajikannya.

Maka upaya mengembalikan pangan lokal seharusnya dititikberatkan kepada upaya membuat pengolahan dan penyajian bahan-bahan pangan lokal kian praktis, sesuai tuntutan langgam hidup keluarga masa kini. Bukan sebaliknya dengan mengolah dan menyajikan pangan a la sajian resepsi para raja.

Rumah tangga masa kini tidak punya cukup waktu untuk mengolah dan menyajikan pangan dengan cara yang sulit dan lama demi tampilan yang menarik.

Baiklah, saya akan simpan soal ini untuk dibahas lebih jauh nanti, sepulang dari acara itu, 16/06.

Oh'aem terletak jauh, 101 km dari tempat saya saat ini. Kondisi jalan ke sana juga sangat buruk. Beberapa tahun lampau, saya hampir masuk jurang gara-gara itu. Karena itu lah saya harus berangkat pagi-pagi, sekitar jam 7 agar sudah tiba siang hari, sebelum pukul 12.00.

Saya tidak ingin melewatkan hari pertama, 14/06 saat mata acara demonstrasi pengolahan pangan lokal secara 'tempo dulu.' Hari kedua akan diisi dengan pameran makanan jadi dan foto-foto dari komunitas fotografer.

Desa Oh'aem I dan II  juga terbatas dalam akses telekomunikasi dan penerangan listrik.

Untuk mengirim atau menerima sms, kita harus mencari titik-titik tertentu, ke tempat yang agak tinggi dan menunggu beberapa saat. Jika telepon genggam sudah menangkap sinyal, jaga agar jangan sampai tubuh atau lenganmu bergeser, bisa hilang lagi sinyalnya.

Begitu kondisinya lima tahun lalu. Semoga kini sudah lebih baik.

Tetapi kata panitia yang pekan lalu mengundang saya, kondisi akses listriknya belum berubah. Listrik ke Oh'aem diproduksi oleh PLN ranting Lelogama, ibukota Kecamatan Amfoang. Listrik hanya menyala di malam hari. Ketika butuh listrik untuk kegiatan di siang hari, kita harus menyediakan genset.

Dengan kondisi yang demikian maka Idulfitri kali ini saya sama seperti Om-Tante, mudik.

KBBI mendefinisikan mudik sebagai verba "(berlayar, pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman)." Itu arti mudik yang baku. Sementara dalam ragam cakap (tak baku), mudik adalah  "pulang ke kampung halaman."

Oh'aem adalah desa di pedalaman. Pergi ke Oh'aem berarti mudik, harfiah.

Sekali lagi, selamat Idulfitri bagi Om-Tante yang merayakan kemenangan berpantang sebulan penuh. Pengekangan diri membuat hidup menjadi berarti, sebab apalah artinya kemerdekaan melakukan apapun jika itu sama saja kekalahan jiwa atas hasrat daging?

Tabik. [@tilariapadika]

Baca yang lain di Seri EDISI RAMADAN Tilaria Padika