Tilaria Padika
Tilaria Padika Petani

Juru celoteh dan tukang cemo'oh yang #SOBARI - sok benar sendiri. Twitter: @tilariapadika | surel: tilaria.padika@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Artikel Utama

Hubungan Trump-Kim Jong-un Membaik, Trump-Trudeau Memburuk

12 Juni 2018   14:20 Diperbarui: 13 Juni 2018   10:40 1882 16 10
Hubungan Trump-Kim Jong-un Membaik, Trump-Trudeau Memburuk
Trum-Kim Jong-un dan Trump-Trudeau [ilustrasi diolah dari nymag.com dan wjs.com]


"Very, very good ... . Excellent relationship ... . ... solve a big problem, a big dilemma. ... Working together, we'll get it taken care of." Kevin Liptak dari CNN menulis ungkapan kegembiraan Trump.(12/06/2018) Trump memang tampak antusias dalam pertemuan pertamanya dengan Kim Jong-un, pemimpin Korea Utara, "musuh" lama yang sebelumnya senantiasa bikin mangkel hati karena keras kepala mengembangkan persenjataan nuklir. Padahal urusan menghancurkan kehidupan pakai nuklir adalah prerogatif Amerika. Tetapi Trump juga sedang bersedih.

Trump patut bergembira. Setelah para pendahulunya gagal, ia mungkin akan berhasil melunakkan sikap Korea Utara, mendesak dan membujuk negara itu melucuti persenjataan nuklirnya.

"Obama, Schumer, and Pelosi did NOTHING about North Korea ..." kicauan Trump di twitternya 8 Juni lalu.

Maka pantaslah sejak jauh-jauh hari Trump tidak dapat menyembunyikan semangatnya.

"Otw Singapura nih, kami punya kesempatan untuk mencapai hasil yang sangat luar biasa untuk Korea Utara dan dunia. Pasti akan jadi hari riang ria, pakai buanget, dan saya tahu Kim Jong-un sudah kerja keras, pakai buanget (lagi), mau lakukan hal yang jarang ia buat sebelumnya ..."

tangka-layar twitter Donald Trump
tangka-layar twitter Donald Trump

Ini beda dengan ketika hendak ke Quebec untuk bertemu Perdana Menteri Trudeau, Kanselir Markel, PM Mai, PM Tanabe dan pemimpin-pemimpin Eropa lainnya. Trump tampak malas-malasan saat itu. Ia tiba paling telat, pulang paling duluan. Sehabis foto-foto bersama yang ia sebut "foto keluarga". Trump langsung cabut ke Singapura.

Staf Kolumnis The Guardian, Simon Jenkins menulis (theguardian.com, 11/6/2018) Trump merasa hadir di pertemuan G7 sia-sia belaka sebab tanpa kehadiran Rusia dan China, dua negara yang menurut Trump merupakan kekuatan terpenting di dunia selain Amerika Serikat.

"Luar biasa berada di Singapura, kagum gue sama udaranya," Trump menulis di twitter, Minggu pagi. 

Sekretaris Negara Mike Pompeo melihat bosnya tampak yakin, bersikap positif, dan bersemangat untuk mencapai kemajuan nyata dalam soal Korea Utara.

Trump tambah semangat lagi ketika ternyata ulang tahunnya ke-71 dipestakan oleh PM Singapura. "Kita punya pertemuan yang sangat menarik besok. Saya pikir besok akan beres-beres saja. Saya hargai lho, keramahan, profesionalisme, dan persahabatan Anda."(abcnews.go.com, 11/6/2018 ).

Trudeau melukai hati Trump
Meski tampak riang hendak bertemu Kim Jong-un, musuh bebuyutan yang cocok jadi cucunya itu, bukan berarti Trump tidak menyimpan gundah di hati.

Di balik kegembiraannya, Trump juga sedih. Ia merasa dikhianati Trudeau, Perdana Menteri Kanada, negeri tetangga di utara.

Ketika Trump dalam penerbangan menuju Singapura, PM Trudeau menyelenggarakan konferensi pers dalam penutupan pertemuan pemimpin negara-negara G7.

PM Trudeau menyinggung kebijakan tarif impor baja (25%) dan aluminium (10%) yang beberapa bulan terakhir jadi bahan pertengkaran dengan Presiden Donald Trump.

Baca juga: Kangen Putin, Trump Kena "Bully"

Trudeau harus menyinggung itu sebab selama jadi Perdana Menteri Kanada, kebijakan Trump yang inilah yang paling bikin mangkel hatinya, menggelisahkan tidurnya.

Bagaimana tidak? Kanada--bersama Meksiko--adalah eksportir baja terbesar ke Amerika Serikat. Sebaliknya Amerika Serikat adalah importir baja terbesar dunia.

Kebijakan Trump akan membuat Kanada tekor, penerimaan negaranya mengempis, industri bajanya terancam macet, buruh-buruh di-PHK.

Trudeau harus sampaikan itu, sekali lagi. Trudeau menganggap selama pertemuan kemarin Trump belum juga memahami kegundahan hatinya. Atau lelaki tua menggemaskan itu terlalu keras kepala sehingga pendekatan senyum telegenik-nya harus diganti dengan pendekatan cadas pula.

Maka berkatalah Trudeau kepada wartawan soal rencana tindakan Kanada terhadap Amerika. Gigi ganti gigi---dokter gigi pasti pusing--, darah ganti darah, Kanada akan membalas tarif baja dan aluminium Amerika Serikat dengan tarif yang sama besar pula untuk produk-produk Amerika Serikat yang hendak masuk ke pasar Kanada. Perang tarif!

"Orang Kanada itu sopan, rasional, tetapi kami juga tidak mau ditekan-tekan," tambah Trudeau (vox.com, 10/6/2018).

Di dalam pesawat, Trump membaca ini. Hatinya terluka. Jadi semua senyum dan senda gurau anak manis itu selama pertemuan dua hari lalu palsu belaka? Hah! Ia boleh menanggap serius semua kemesraan itu. Terlalu!

Trump kecewa. Jemarinya segera mengetikkan kicauan, "PM Kanada Justin Trudeau sungguh lemah lembut selama pertemuan @G7 ternyata hanya untuk berkata dalam konferesi pers setelah saya pergi bahwa "Tarif AS itu penghinaan" dan "dia tidak mau didorong-dorong." Sungguh tidak jujur dan lemah. Tarif kami adalah balasan atas 270% tarifnya terhadap produk susu kami." (kicuan twitter @realDonaldTrump 10 Jun 2018, 7:04 AM)

Diolah dari tangkap-layar twitter Donald Trump dan foto Trump-Trudeau di nymag.com
Diolah dari tangkap-layar twitter Donald Trump dan foto Trump-Trudeau di nymag.com

Melihat bosnya diperlakukan demikian di saat lelaki tua itu harus terlihat kuat menjelang bertemu bocah keras kepala Kom Jong-un, amarah sejumlah anak buah Trump meruap. 

Penasihat ekonomi gedung putih, Larry Kudlow menyebut Trudeau sebagai pengkhianat yang menikam dari belakang (News Corp Australia Network, 11/06/2018).

Bisa dimaklumi mengapa Om Larry Kudlow adalah punggawa Gedung Putih yang paling marah soal ini. Sebenarnya bukan karena Trudeau yang manis saat ketemu langsung bosnya tetapi menikam dari belakang. Bukan.

Baca juga: Kangen Putin, Trump Kena "Bully"

Larry Kudlow paham awan hitam yang menggantung di langit Amerika Serikat. Jika Kanada membalas Amerika Serikat dengan perang tarif; Uni Eropa juga sudah menyatakan akan mengenakan tarif tambahan untuk semua ekspor Amerika Serikat ke Eropa; demikian pula tentangga di Selatan, Meksiko bahkan akan menaikkan tarif untuk daging babi Amerika, kacaulah sudah negaranya. Apalagi, perang dagang dengan China sedang mendaki ke puncaknya.

Ia sebagai juru bisik urusan ekonomi pemerintahan Trump tentu yang akan paling dipersalahkan sejarah oleh keterpurukan Amerika Serikat. Trump tidak terlalu mengerti hal ini.

Maka setelah beberapa hari ini mencaci maki Trudeau sebagai pengkhianat, pengecut, tukang tikam dari belakang, pagi tadi Larry Kudlow kena serangan jantung. Ia dilarikan ke rumah sakit. Belum jelas perkembangan kondisinya. Hati-hati, twitter dan marah-marah di depan media bisa membunuhmu.

tangkap-layar twitter Donald Trump tentang Larry Kudlow dilarikan ke Rumah Sakit karena serangan jantung
tangkap-layar twitter Donald Trump tentang Larry Kudlow dilarikan ke Rumah Sakit karena serangan jantung

Ya, Om-Tante. Ini bukan sekadar problem hati Trump yang gundah-gulana oleh sikap Trudeau. Ini bukan soal kegirangan Trump bertemu Kim Jong-un. Di balik polemik ini tersimpan malapetaka. 

Perang dagang Om-Tante, bukan urusan bom-membom pakai nuklir. Perang dagang yang terbesar dalam sejarah sedang menanti di depan hidung kita.

Saya merasa ---baru pakai feeling, belum telusuri matang--- jika perang dagang ini akhirnya pecah (untuk sementara belum sebab AS menunda pemberlakuan tarif impor Baja dan Aluminium hingga bulan depan) dunia akan segera masuk krisis baru, krisis yang akan menenggelamkan Amerika Serikat dari tahtanya sebagai pemimpin ekonomi kapitalis dunia.

Pertanyaannya, apakah Indonesia sudah pasang kuda-kuda menyambut kondisi ini? Bagaimana dengan gelombang barang-barang dari negara-negara adidaya ekonomi yang berbelok menuju Indonesia karena saling proteksi antara mereka?

Nantikan artikel berikutnya.

___

Ancaman Perang Nuklir Trump-Kim Jong-un Mereda, Ancaman Perang Dagang Epik Trum lawan Trudeau dan Uni Eropa Meningkat

___

Baca artikel-artikel Tilaria Padika terkait persoalan luar negeri