Tilaria Padika aka George
Tilaria Padika aka George Petani

Artikel sejarah - ekonomi - politik - sosial budaya Twitter: @tilariapadika | surel: tilaria.padika@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Menulis di Kompasiana itu Investasi

17 Mei 2018   15:23 Diperbarui: 17 Mei 2018   15:41 900 36 20
Menulis di Kompasiana itu Investasi
Ilustrasi. Sumber: accountingweb.com

Bagi sebagian orang, menulis adalah hobi. Bagi yang lainnya, menulis merupakan pekerjaan berupah. Saya yakin semua bersuka cita jika hobi menulis dan menghasilkan uang bisa dijalankan sekaligus. Di Kompasiana, hal itu kian mungkin kini.

Dahulu orang-orang yang ingin menulis dengan kehendak bebas, kapan pun ia suka untuk tema apapun akan mendapatkan kesenangan tetapi kecil peluang mengantongi upah. Sebaliknya, seorang jurnalis tentu memperoleh upah tetapi terpaksa mengorbankan kesenangan sebab kerap diminta menulis tema yang bukan ketertarikannya dan dikejar tenggat waktu.

Tetapi bagaimana jika kini, oleh perkembangan model bisnis yang dipengaruhi fleksibilitas pasar tenaga kerja, seorang penulis bisa mendapatkan keduanya, uang tetapi juga kesenangan? Artinya ia menulis hal-hal yang menarik hati dan nalarnya tanpa diperintah-perintah redaktur atau majikan.

Ya, dunia memang tidak hitam putih. Fleksibilitas pasar tenaga kerja yang merugikan pekerja kerah biru itu bisa saja menguntungkan bagi orang-orang tertentu, orang-orang yang memiliki waktu luang untuk mengerjakan hobinya.

Mari kita bahas.

Kelenturan pasar tenaga kerja telah melahirkan beragam bentuk relasi kerja baru antara majikan dan tenaga kerja. Kini para penjual faktor produksi tenaga kerja tidak harus menjadi buruh untuk mendapatkan imbalan upah. Semakin banyak model bisnis dengan hubungan balas jasa antara pemilik modal dan para pekerja berbentuk komisi. Contoh yang paling tua adalah agen asuransi. Contoh anyarnya adalah tukang ojek dan supir taxi daring. Para pekerja itu mendapatkan penghasilan dari komisi atas setiap produk yang terjual. 

Tentu saja model seperti ini ada untung ada ruginya. Pekerja bisa saja tidak mendapatkan apa-apa, bisa juga memperoleh pendapatan berkali-kali lipat dibandingkan sebagai buruh. Semua tergantung kerja kerasnya. 

Di dunia kepenulisan, berkembangnya model crowdsourcing menghasilkan bentuk relasi kerja yang kurang lebih menyerupai itu tetapi mengandung perbedaan penting. Perbedaan penting ini berdampak kepada status penulis yang boleh dipandang sebagai investor, bukan lagi pekerja.

Mengapa begitu?

Orang kaya yang sangat populer, Warren Buffett mendefinisikan investasi sebagai "...the process of laying out money now to receive more money in the future."(1)

Laman Wikipedia mengartikan investasi sebagai "akumulasi suatu bentuk aktiva dengan suatu harapan mendapatkan keuntungan pada masa depan."(2)

Situs Investopedia memberikan sejumlah sudut pandang dalam pengertian investasi. Pertama adalah "the purchase of goods that are not consumed today but are used in the future to create wealth." Kedua sebagai "any mechanism used for generating future income." Ketiga, investasi juga merupakan "Taking an action in the hopes of raising future revenue."(3)

Perhatikan bahwa definisi-definisi di atas mengandung 3 unsur.

Pertama terkait apa yang dihasilkan dan itu selalu berupa uang atau kesejahteraan atau pendapatan di masa depan.

Kedua, apa yang diinvestasikan. Bentuknya tidak selalu berupa uang. Bisa berupa aktiva, yaitu apapun yang dapat menghasilkan uang. Bisa berupa barang, juga tindakan atau kerja.

Ketiga terkait investasi sebagai suatu proses, sebagai akumulasi, atau dapat disebut sebagai proses berkesinambungan sebelum tiba masa menikmati keuntungan.

Dengan pengertian itu, saya berani katakan bahwa menulis di Kompasiana adalah sebuah investasi.

Hal ini terkait program K-Reward Kompasiana, yang mengkuti model relasi majikan-penulis pada platform media berbasis crowdsourcing lain yang tumbuh pesat selama 5 tahun terakhir ini.

Tentu saja kita butuh asumsi-asumsi agar syarat Kompasiana sebagai investasi melalu K-Reward berlaku. Asumsi utama adalah K-Reward menjadi mekanisme remunerasi reguler dan kontinyu kepada para penulis yang mandatori sifatnya. Jadi bukan program tempo-tempo seperti yang sedang berlangsung dalam masa ujicoba ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2