Tilaria Padika
Tilaria Padika Petani

Kompasiana adalah dunia tanpa kelas bagi para penulis. Bukan lapak bagi mereka yang merasa diri ninggrat dalam kepenulisan. Di Kompasiana, kita semua adalah jelata. Menulis di sini adalah bentuk perlawanan terhadap aristokrasi jejadian dalam dunia kepenulisan.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Menulis di Kompasiana itu Investasi

17 Mei 2018   15:23 Diperbarui: 17 Mei 2018   15:41 433 35 20
Menulis di Kompasiana itu Investasi
Ilustrasi. Sumber: accountingweb.com


Bagi sebagian orang, menulis adalah hobi. Bagi yang lainnya, menulis merupakan pekerjaan berupah. Saya yakin semua bersuka cita jika hobi menulis dan menghasilkan uang bisa dijalankan sekaligus. Di Kompasiana, hal itu kian mungkin kini.

Dahulu orang-orang yang ingin menulis dengan kehendak bebas, kapan pun ia suka untuk tema apapun akan mendapatkan kesenangan tetapi kecil peluang mengantongi upah. Sebaliknya, seorang jurnalis tentu memperoleh upah tetapi terpaksa mengorbankan kesenangan sebab kerap diminta menulis tema yang bukan ketertarikannya dan dikejar tenggat waktu.

Tetapi bagaimana jika kini, oleh perkembangan model bisnis yang dipengaruhi fleksibilitas pasar tenaga kerja, seorang penulis bisa mendapatkan keduanya, uang tetapi juga kesenangan? Artinya ia menulis hal-hal yang menarik hati dan nalarnya tanpa diperintah-perintah redaktur atau majikan.

Ya, dunia memang tidak hitam putih. Fleksibilitas pasar tenaga kerja yang merugikan pekerja kerah biru itu bisa saja menguntungkan bagi orang-orang tertentu, orang-orang yang memiliki waktu luang untuk mengerjakan hobinya.

Mari kita bahas.

Kelenturan pasar tenaga kerja telah melahirkan beragam bentuk relasi kerja baru antara majikan dan tenaga kerja. Kini para penjual faktor produksi tenaga kerja tidak harus menjadi buruh untuk mendapatkan imbalan upah. Semakin banyak model bisnis dengan hubungan balas jasa antara pemilik modal dan para pekerja berbentuk komisi. Contoh yang paling tua adalah agen asuransi. Contoh anyarnya adalah tukang ojek dan supir taxi daring. Para pekerja itu mendapatkan penghasilan dari komisi atas setiap produk yang terjual. 

Tentu saja model seperti ini ada untung ada ruginya. Pekerja bisa saja tidak mendapatkan apa-apa, bisa juga memperoleh pendapatan berkali-kali lipat dibandingkan sebagai buruh. Semua tergantung kerja kerasnya. 

Di dunia kepenulisan, berkembangnya model crowdsourcing menghasilkan bentuk relasi kerja yang kurang lebih menyerupai itu tetapi mengandung perbedaan penting. Perbedaan penting ini berdampak kepada status penulis yang boleh dipandang sebagai investor, bukan lagi pekerja.

Mengapa begitu?

Orang kaya yang sangat populer, Warren Buffett mendefinisikan investasi sebagai "...the process of laying out money now to receive more money in the future."(1)

Laman Wikipedia mengartikan investasi sebagai "akumulasi suatu bentuk aktiva dengan suatu harapan mendapatkan keuntungan pada masa depan."(2)

Situs Investopedia memberikan sejumlah sudut pandang dalam pengertian investasi. Pertama adalah "the purchase of goods that are not consumed today but are used in the future to create wealth." Kedua sebagai "any mechanism used for generating future income." Ketiga, investasi juga merupakan "Taking an action in the hopes of raising future revenue."(3)

Perhatikan bahwa definisi-definisi di atas mengandung 3 unsur.

Pertama terkait apa yang dihasilkan dan itu selalu berupa uang atau kesejahteraan atau pendapatan di masa depan.

Kedua, apa yang diinvestasikan. Bentuknya tidak selalu berupa uang. Bisa berupa aktiva, yaitu apapun yang dapat menghasilkan uang. Bisa berupa barang, juga tindakan atau kerja.

Ketiga terkait investasi sebagai suatu proses, sebagai akumulasi, atau dapat disebut sebagai proses berkesinambungan sebelum tiba masa menikmati keuntungan.

Dengan pengertian itu, saya berani katakan bahwa menulis di Kompasiana adalah sebuah investasi.

Hal ini terkait program K-Reward Kompasiana, yang mengkuti model relasi majikan-penulis pada platform media berbasis crowdsourcing lain yang tumbuh pesat selama 5 tahun terakhir ini.

Tentu saja kita butuh asumsi-asumsi agar syarat Kompasiana sebagai investasi melalu K-Reward berlaku. Asumsi utama adalah K-Reward menjadi mekanisme remunerasi reguler dan kontinyu kepada para penulis yang mandatori sifatnya. Jadi bukan program tempo-tempo seperti yang sedang berlangsung dalam masa ujicoba ini.

Dengan asumsi itu, menulis di Kompasiana adalah sebuah investasi karena menulis menjadi proses menumpuk aktiva yang kelak menghasilkan pendapatan berkelanjutan.

Kian banyak artikel yang kita hasilkan, akan kian banyak pendapatan di hari-hari mendatang. Ini berbeda dengan relasi majikan-jurnalis seperti di media konvensional di mana para jurnalis menjual kerja (diupah atau digaji) atau para penulis lepas yang menjual produk (artikel) untuk sekali transaksi.

Mari kita lihat contoh pada kasus K-Reward periode ujicoba, 23 Maret-23 April lalu. Perkiraan saya--berdasarkan K-reward yang saya peroleh---nilai per view pada K-Reward periode ujicoba itu adalah Rp 10,-. Perkiraan ini berdasarkan asumsi setiap view untuk tiap-tiap artikel dan setiap penulis dihargai sama, dan benar-benar hanya berdasarkan view yang dihasilkan pada periode lomba tanpa ada pertimbangan lain. Asumsi kedua, view-meter dan data artikel pada laman profil para Kompasiana benar adanya.

Kita lihat para peraih K-Reward tertinggi. Banyak di antara 10 besar peraih K-Reward tidak lagi aktif menulis di Kompasiana, entah itu berhenti sama sekali atau hanya menghasilkan sejumlah kecil artikel.

Contohnya Kompasianer Hendra Wardhana. Ia hanya menulis 9 artikel---jika saya tak salah hitung---selama sebulan periode program dengan 25 ribu kunjungan. Tetapi keseluruhan 700 artikel yang pernah ditulisnya menyumbang kunjungan hingga lebih dari 100.000 selama program berjalan. Artinya rata-rata per artikel yang pernah Pak Hendra tulis dikunjungi lebih dari 100 kali dalam rentang waktu 23 Maret-23 April.

Kompasianer Gustav Kusno tidak menulis apapun selama periode program. Tetapi view yang dihasilkan oleh 997 artikel yang pernah Pak Gustav tulis mencapai lebih dari 78 ribu selama program berlangsung, rata-rata lebih dari 78 kunjungan per artikel.

Bidan Care telah berhenti posting di Kompasiana sejak Desember 2013 namun selama periode program, 257 artikelnya menghasilkan lebih dari 60.000 view. Rata-rata lebih dari 200 kunjungan per artikel.

Kompasianer Kosasi Kwek hanya menulis 20 artikel dan telah berhenti posting sejak 2015. Tetapi 20 artikel itu terus menghasilkan kunjungan dan pada sebulan periode program lalu dikunjungi lebih dari 57.000 kali, alias lebih dari 2.500 kunjungan per artikel dalam sebulan.

Dengan contoh-contoh di atas, tidakkah jelas bahwa waktu yang kita alokasikan untuk menulis di Kompasiana adalah kerja menumpuk aset? Aset kita adalah artikel. Kelak artikel-artikel ini terus menghasilkan pendapatan meski kita tak lagi menulis. Artikel-artikel ini menghasilkan passive income.

Demikianlah. Anda punya pendapat lain? Jika tidak, tunggu artikel berikutnya yang membahas jenis artikel seperti apa sebagai aset yang baik itu? Kita akan coba pelajari karakter artikel yang ditulis oleh kompasianer-kompasiner hebat dalam contoh di atas.

Anda mau? Nah, berikan komentar yang enak agar saya semangat menelaah dan menuliskannya untuk Anda. Jika tak, saya akan simpan sendiri pengetahuan itu. Tabik.

Baca artikel-artikel Seri Tilaria Padika tentang MENULIS

***

Tilaria Padika

17052018