Tilaria Padika aka George
Tilaria Padika aka George Petani

Artikel sejarah - ekonomi - politik - sosial budaya Twitter: @tilariapadika | surel: tilaria.padika@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Mungkin Rocky Gerung Benar

16 April 2018   03:29 Diperbarui: 16 April 2018   10:44 3866 39 20
Mungkin Rocky Gerung Benar
Ilustrasi, diolah dari pepnews.com dan christianobserver.net

Tak perlu saya ceritakan lagi pernyataan Rocky Gerung, bensin yang mengobarkan api amarah orang-orang yang terlalu sibuk untuk sekadar menyempatkan diri buat berpikir. Anda tentu sudah membaca soal itu. Jika belum, cari tahu sendiri di beragam warta yang ada. Saya justru ingin menyiramkan lagi bensin agar api kian berkobar. Semoga dengan itu, oleh kemarahan Anda, belenggu kelembaman berpikir yang mengikat nalar kita bisa putus berkeping-keping.

Rocky Gerung bisa jadi benar. Benar menurut saya. Syaratnya adalah apa yang dia maksud senada dengan pecahan puzzle yang saya sembunyikan dalam sejumlah artikel di hari-hari lampau. Coba Anda periksa artikel "Percakapan Senja Petani dan Bocah Gembala" dan artikel "Mengapa Sebenarnya Sudut Pandang 'Matter' dalam Menulis?"

Jika Anda terlalu malas untuk membaca itu, saya berikan quote kontekstual dari masing-masing artikel itu.

Dalam artikel "Percakapan Senja Petani dan Bocah Gembala" ada penggalan dialog Petani dan Bocah Gembala, begini bunyinya:

"Kitab-kitab kuno menceritakan Genesis dengan sastra."
"Mengapa sastra?"
"Sebab Tuhan Sang Maha Penyair dan dengan sastra selembut-lembutnya kebenaran disampaikan, menunggu dipecahkan berabad-abad, cuil demi cuil."

Sementara dalam artikel "Mengapa Sebenarnya Sudut Pandang "Matter" dalam Menulis?" ada paragraf berbunyi:

"Ketika teks ditiupkan, Ca. Kebudayaan adalah gendang telinga yang menyaringnya. Kebudayaan pula bibir yang meneruskan bisikan sehingga teks menggema. Artinya, teks yang hidup di tengah-tengah kita telah direkonstruksi kebudayaan, telah disesuaikan agar dapat terdengar. Tanpa itu, teks hanya akan menjadi bebunyian tanpa makna. Tanpa rekonstruksi, ia tak akan bisa hidup dari masa ke masa."

Baiklah, mari kita bahasakan lebih terang benderang barang ini. Katakanlah tanpa reserve, kita semua percaya bahwa teks yang disucikan itu memang suci, datang sebagai wahyu yang disabdakan.

Wahyu yang suci disabdakan, tetapi disabdakan dalam bahasa manusia. Manusia-manusia, orang-orang terpilih mendengarkan wahyu dengan nalar mereka, nalar manusia. Teks suci selanjutnya kembali meminjam nalar manusia-manusia terpilih untuk diwartakan, diceritakan ke beragam penjuru dunia, dituliskan dan berubah wujudnya dari lisan menjadi tulisan, diterjemahkan,dan ditafsirkan. Begitu besar peran akal-budi manusia yang ditumpangi Sabda Ilahi, Teks suci.

Akal budi manusia adalah produk sosial. Ia dibentuk oleh konteks, yaitu ruang dan waktu tempat pemiliknya hidup. Termasuk di dalamnya adalah kultur, sudut pandang dominan, gaya tutur dan gaya tulis yang jaya di masanya.

Dari kebudayaan tempat teks itu pertama kali disiarkan dan berkembang, Teks meminjam banyak gaya tutur (dan kemudian tulis) yang hingga kini digunakan juga dalam ragam teks sastra atau fiksi. Ragam teks ilmiah waktu itu kiranya belum berkembang.

Karena itu teks kitab suci bersifat konotatif, tidak denotatif sebagaimana ragam teks ilmiah. Juga tidak seperti teks ilmiah yang semata-mata referensial sebab penulis harus menjaga teks tetap impersonal, teks dalam kita suci itu referensial sekaligus ekspresif. Pengalaman batin penutur atau penulis sangat terlibat di dalam meneruskan (menuturkan dan menuliskan kembali) teks suci.

Persamaan gaya bahasa (tutur dan kemudian tulis) inilah yang mungkin membuat Rocky Gerung menyatakan "kitab suci adalah fiksi".

Tetapi Rocky Gerung tentu paham bahwa gaya fiksi dalam kitab suci tidak menceritakan kisah yang sekadar imajinasi penulis. Gaya fiksi dalam kitab suci menceritakan kisah yang sungguh ada, nyata, konten yang benar-benar terjadi atau terucapkan pada suatu masa di zaman dahulu. Singkatnya tubuh fiksi kitab suci bukan wadah dari kisah fiktif. Kitab suci berisi kenyataan (bukan fiktif) yang disampaikan dengan meminjam tubuh (cara teks disampaikan) yang menyerupai fiksi atau sastra.

Agar terkesan ilmiah, saya mau bilang, teks dalam kitab suci mengadung arti harfiah atau literal tetapi sekaligus mengandung makna alegoris, moral, dan anagogi.

Artinya teks kitab suci adalah penulisan atas kisah nyata yang disampaikan berabad-abad, turun temurun, menyebar kepada peradaban-peradaban yang beragam. Tetapi kisah itu atau pesan dalam kisah yang dikisahkan lagi itu berisi alegori yang meminjam simbol-simbol metaforis yang akrab dalam peradaban tempat teks/pesan/kisah itu pertama kali lahir.

Kisah itu berisi pesan-pesan moral yang hanya dapat dipahami dengan memahami makna yang tersembunyi di balik alegori. Kisah atau pesan atau teks itu adalah satu kesatuan --meski merupakan himpunan dari beragam teks yang dikumpulkan dari penulis, masa, dan kebudayaan yang berbeda-- yang anagogi, mengarah kepada satu hal, Tuhan dan pesan-pesan untuk menjalani cara hidup yang dikehendaki Tuhan.

Jadi demikianlah menurut saya. Mungkin itulah yang dimaksudkan Rocky Gerung sebagai kitab suci itu fiksi yang bukan fiktif. Jika dugaan saya benar, berarti khusus untuk Kitab Suci agama saya, saya pikir Rocky tidak keliru.

Kitab suci adalah kebenaran, adalah kenyataan, yang disampaikan dengan gaya tutur dan tulis yang serupa seperti gaya dalam teks-teks fiksi. Ia kebenaran yang disampaikan melalui alegori, yang menyembunyikan pesan moral untuk digali, yang seluruhnya adalah satu kesatuan yang mengarahkan kita kepada Tuhan atau kepada apa yang harus kita jalani di dalam kehidupan, gaya hidup yang dikehendaki Tuhan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2