Mohon tunggu...
Om Gege
Om Gege Mohon Tunggu... Petani - Coffee4Soul.club

Coffee4Soul.club || Petani separuh hati, kuli tempo-tempo, penulis recehan, provokator kambuhan, revolusioner musiman

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Cinta Tak Mengenal Aturan

2 April 2018   04:28 Diperbarui: 2 April 2018   04:32 836 25 11
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Cinta Tak Mengenal Aturan
Ilustrasi: diolah dari pixabay

Cinta adalah kata yang paling sering terucap tetapi paling longgar batasannya. Sepanjang sejarah, sepertinya sudah ribuan kali pujangga cengeng hingga filsuf kurang kerjaan mencoba definisikan cinta. Tampaknya semua rumusan mereka berakhir di tong sampah.

"Jangalah seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain." Demikian surat Paulus kepada orang-orang beriman di Korintus  membuka Surat Gembala Uskup Agung Kupang untuk Paskah 2018. Kalimat itu menjadi salah satu definisi cinta. 

Bunyinya serupa kebijaksanaan Romawi, "Amare nilhil est alu, nisi eum ipsi amre, quem amas nulla utilitate quaerita."Mencintai adalah tiada lain dari mencintai dia yang engkau cintai tanpa mencari keuntungan.

Gereka di paroki tempat domisili orang tua saya meringkasnya dengan tepat sebagai "cinta butuh pengorbanan." Demikian tertulis pada bentangan spanduk di depan gereja.

Jika dipikirkan, bukankah itu berarti bertentangan saja dengan prinsip "rationis amor est," cinta itu rasional? Bukankah rasional itu berarti berhitung untung-rugi; menimbang pengorbanan dan capaian; mengukur yang diberi dan diterima?

Cinta tidak mungkin rasional. Itu sebabnya"amantes sunt amentes,"orang yang sedang jatuh cinta tampak gila.

Sudah sering kita melihat itu. Seseorang terus saja mencintai meski berkali-kali hatinya luka oleh yang dicintai. Banyak kisah-kisah demikian pada telenovela absurd di layar tivi. Padanya kita mencibir. Sungguh tak berkualitas. Tetapi  kita juga mengamini kemungkinannya. Benarlah,"amor caecus est,"cinta itu buta.

Kita sulit menerima kenyataan ada cinta kekasih setara cinta ibu. Ya, cinta seorang ibu pada anak, takkan pupus walau tak berbalas. Tiada ingkar meski anak khianat,  mengabaikannya kala usia mengalahkan otot-tulang-syaraf.

Hari ini kita kembali memperingati cinta terbesar yang pernah ada. Sang Maha Cinta yang dalam kemanusiaanNya tidak lepas dari takut, tetapi toh tak menolak juga cawan yang diberikan kepadaNya, sebuah tanggungjawab hingga akhir demi rekonsiliasi manusia dan penciptaNya.

Dengan ketulusan cinta yang demikian, Ia mengalahkan ketakutan, mengalahkan diri sendiri, bahkan menaklukan maut. Benarlah, "amor vincit omnia," cinta mengalahkan segalanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...
Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan