Mohon tunggu...
Om Gege
Om Gege Mohon Tunggu... Coffee4Soul.club

Coffee4Soul.club || Petani separuh hati, kuli tempo-tempo, penulis recehan, provokator kambuhan, revolusioner musiman

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Jubir Prabowo Kurang "Briefing"

24 Maret 2018   07:59 Diperbarui: 24 Maret 2018   08:50 939 15 15 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jubir Prabowo Kurang "Briefing"
sumber: tangkapan layar metrotvnews.com

Semalam saya tonton debat di media kampanye Pak Surya Paloh. Eh, salah. Maksud saya media milik Pak Surya Paloh, Metro TV. Pak Adian Napitulu (PDIP) --kelu juga ini lidah nyebut Pak-- berhadapan dengan Pak Riza Patria (Gerindra). Apalagi jika bukan soal Indonesia bubar 2030?

Perdebatan ini jauh dari menarik. Pak Riza jelas bukan lawan Pak Adian dalam soal retorika. Sudah sejak masih aktivis mahasiswa, Pak Adian kharismatis dalam soal retorika. Maka tertelan bulat-bulatlah Pak Riza.

Lain soal retorika, beda pula perkara konten. Menurut saya dari sisi konten, bukan Pak Adian yang mengalahkan Pak Riza. Adalah pers, metro tv, pemenangnya.

Pers masa kini memang nakal. Mereka bermain demi kepentingan mereka sendiri, mencari sisi sensasional dari sebuah peristiwa.

Ketika Pak Amin Rais bicara tentang ketimpangan penguasaan sumber daya agraria yang belum bisa dituntaskan oleh Pak Jokowi sebab pemerintah masih tampak lebih mengutamakan legalisasi tanah rakyat, bukan hakikat dari pernyataan itu yang dikejar media, tetapi aspek sensasional dari tuduhan ngibul-nya. Demikian pula ketika Pak Prabowo mengutip novel bule dalam pidatonya tentang dominasi kaumnya, para elit bisnis dalam perekonomian Indonesia, yang dikejar media adalah aspek sensasional dari ramalan Indonesia bubar yang berbasis karya fiksi.

Seharusnya para politisi Gerinda menyadari upaya reframing oleh media. Mereka sebenarnya bisa trickymemanfaatkan gencarnya publikasi atas peristiwa ini untuk mencuri panggung bagi narasi besar mereka, narasi yang sesungguhnya sama saja dengan yang diangkat kubu Pak Jokowi dengan Tri Sakti dan Nawacitanya: kedaulatan nasional.

Itu yang tidak tampak dalam penampilan Pak Riza Patria di layar Metro TV semalam. Meski di tengah Pak Riza sempat berupaya menguraikan narasi besar ketimpangan ekonomi oleh dominasi asing, toh akhirnya ia kembali terbawa ke percakapan soal novel karya bule itu.

Pak Riza dan para politisi Gerindra sebaiknya tidak usah ngotot  mencari kemungkinan karya fiksi itu bisa jadi semacam prediksi akan masa depan. Ngapain? Om-om sekalian bukan pemasar novel itu, bukan karyawan toko buku, bukan pula penerbit.

Jangan pula menjadikan novel bertema masa depan seposisi dengan tetralogi sejarah Pramoedya yang bahkan seorang Takeshi Shiraishi pun jadikan pembanding atas sumber data non-fiksi. Ramalan akan masa depan berbeda dengan penulisan ulang masa lalu.

Seharusnya cukup disampaikan saja begini,"Ah soal novel itu kan hanya semacam beranda percakapan. Hanya pintu masuk agar menarik. Seperti halnya lead dalam sebuah artikel. Inti pembicaraan yang dimaksudkan Pak Prabowo adalah soal dominasi Pak Hasyim, eh maksudnya elit bisnis dan pihak asing dalam penguasaan sumber daya ekonomi." Begitu saja. Lalu segera masuk ke soal-soal yang selama ini diteriakkan Pak Prabowo.

Terus, bagaimana menjelaskan kemungkinan negara bubar?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x