Mohon tunggu...
Padika
Padika Mohon Tunggu... youtube.com/c/kedaipolitikindonesia

Petani separuh hati dan penulis recehan youtube.com/c/kedaipolitikindonesia

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Basa-basi, Berkompasiana Tak Beda Bertetangga

17 Maret 2018   07:12 Diperbarui: 14 Desember 2018   15:38 928 41 43 Mohon Tunggu...
Basa-basi, Berkompasiana Tak Beda Bertetangga
Ilustrasi diolah dari document.no

Hidup tanpa basa-basi menghasilkan masyarakat yang kering, sebab menjadi kaku satu sama lain di dalam pergaulan. Mungkin jauh lebih dingin dibanding laboratorium digital dengan jejeran komputer pada meja-meja membisu. Sebaliknya, banyak pula yang memandang kebanyakan basa-basi menghasilkan masyarakat yang palsu.

Entahlah. Mana yang benar, mungkin saya tak hendak menilai itu. Saya hanya ingin berbagi permenungan, dan biarkan artikel ini mengalir, entah ke mana kelak bermuara. Bukan untuk apa-apa. Sekedar untuk merenung saja dan menuliskannya.

Permenungan itu serupa meditasi fungsinya. Meditasi berdampak ke dalam, menyadari hakitat diri. Merenung dan menuliskannya berdampak ke luar, menyadari diri sebagai satu kesatuan masyarakat.

Kesadaran itu sendiri bisa jadi tujuan. Tak harus ia sarana menuju perbaikan. Sekedar sadar. Tak mesti menilai dan bertindak.

"Eh, Om  sudah salaman ke rumah Pak Nyoto di blok sebelah?"

"Belum. Ada gerangan apa, Bang?"

"Lahiran, Om. Kucingnya baru saja melahirkan."

"Errrr, apa perlu kita ke sana untuk sampaikan selamat?"

"Iya, Om. Kalau saya iya, nggak enakan soalnya. Waktu pohon mangga di depan rumah saya mati, Pak Nyoto datang sampaikan bela sungkawa."

"Oh, begitu ya. Saya juga kalau begitu. Pak Nyoto pernah kirimkan bunga ketika jempol saya berdarah tertusuk jarum."

Percakapan serupa di atas sering kita saksikan dan alami dalam hidup bertetangga. Sekedar basa-basi. Saling menyapa, berbalas senyum, yang tidak memerlukan alasan apa-apa atau apapun dapat jadi alasan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN