Tilaria Padika
Tilaria Padika Petani

Artikel sejarah - ekonomi - politik - sosial budaya Twitter: @tilariapadika | surel: tilaria.padika@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Wanita Artikel Utama

39 Tahun Perempuan Iran Melawan Kewajiban Berhijab

10 Maret 2018   13:15 Diperbarui: 10 Maret 2018   15:45 2514 29 19
39 Tahun Perempuan Iran Melawan Kewajiban Berhijab
Aksi 100.000 Perempuan Iran pada 8 Maret 1979, menolak kewajiban berhijab. Sumber: HENGAMEH GOLESTAN /telegraph.co.uk

Setelah menulis Cerpen "IWD dan Para Perempuan 1917 bagian I", sebuah episode dari Seri Jyestha, si Penjelajah Ruang-Waktu saya tiba-tiba ingin sekali melihat foto-foto unjuk rasa Hari Perempuan Internasional. Kerinduan saya bukan pada foto perayaan IWD emak-emak kelas menengah di Indonesia. Saya justru penasaran bagaimana kini rupa peringatan IWD di kota-kota di Iran tahun ini. Pada tanggal itu, 39 tahun lampau, para perempuan Iran untuk terakhir kalinya merdeka atas diri mereka.

Ya! Hari Perempuan Internasional 8 Maret 1979 adalah hari pertama dari enam hari unjuk rasa perempuan terbesar dalam sejarah Iran.

Tanggal 7 Maret 1979. Belum sebulan Perdana Menteri Bahtiar melarikan diri, pertanda kekuasaan Pahlevi sungguh berakhir. Tetapi Republik Islam Iran belum resmi berdiri. Referendum untuk menentukan bentuk negara baru akan dilangsungkan pada 30 Maret. Perempuan Iran, The daughters of Revolution dikejutkan oleh pengkhianatan rezim baru, rezim yang mereka perjuangkan dengan berdarah-darah. Sebuah peraturan telah dikeluarkan oleh Ayatollah Khomeini sebelum resmi berkuasa. Perempuan Iran wajib mengenakan hijab.

Sontak, pada tanggal 8 Maret 1979, 100.000 perempuan Iran berbasis bersama kaum pria berpikiran maju menolak penelikungan terhadap semangat revolusi, menolak kewajiban mengenakan hijab.

Hengameh Golestan, pelopor fotofrager perempuan di Iran menceritakan momentum tersebut melalui pameran foto di London 2015 lalu. "Witness 1979" judul pameran itu.

"Kaum perempuan menggelar pemogokan hari itu sebab malam sebelumnya mereka membaca pengumuman di surat kabar bahwa perempuan harus mengenakan hijab saat ke tempat kerja. Jadi tak ada yang masuk kerja, mereka berunjuk rasa, turun ke jalan, sejak pagi di mulai dari Universitas Tehran." Golestan mengenang peristiwa itu. Menurutnya, perlawanan perempuan, Maret 1979 itu bukan sekadar masalah hijab, tetapi perjuangan mempertahankan hak-hak perempuan Iran yang telah dicapai dan berkembang selama 70 tahun, sejak revolusi konstitusional Iran 1909 (1).

IWD di Teheran, 8 Maret 1979 menolak kewajiban berhijab. Sumber: HENGAMEH GOLESTAN /telegraph.co.uk
IWD di Teheran, 8 Maret 1979 menolak kewajiban berhijab. Sumber: HENGAMEH GOLESTAN /telegraph.co.uk
Menurut Mahnaz Matin, penulis buku Iranian Women's Uprising March 8th 1979 Vol. I, perlawanan perempuan menolak kewajiban berhijab pada Maret 1979 adalah gerakan protes pertama yang lahir dari revolusi itu sendiri dan melawan tindakan para pemimpin revolusi.

Nasser Mohajer, yang bersama Matin menulis buku The Post-Revolutionary Women's Uprising of March 1979 mengatakan, kebangkitan perempuan Iran, Maret 1979 adalah gerakan sosial yang paling penting dalam menentang kediktatoran Shah. Para perempuan menuntut kemerdekaan, meneriakkan slogan "sekarang, bukan despotisme, tegakkan kebebasan!"(2)

Sejarah memutuskan lain. Euforia kemenangan revolusi atas dinasti Pahlevi menjauhkan kaum perempuan dari dukungan rakyat umumnya. Para sekutu di era perjuangan bersama melawan Pahlevi memalingkan muka. Maka 39 tahun lamanya, para perempuan Iran kehilangan kebebasan atas tubuh mereka.

Tetapi kehendak perempuan Iran akan keberdekaan belum dingin mengabu. Meski kecil, bara masih menyala.

Dalam beberapa tahun terkahir, perlawanan dalam bentuk baru berkembang. Para perempuan memanfaatkan media sosial untuk mengkampanyekan kebebasan. 'My Stealthy Freedom' nama kampanye mereka adalah bentuk gerilya baru melalui media sosial. Gerakan ini dipelopori Jurnalis Iran, Masih Alinejad pada 3 Mei 2014 dan terus meluas, bersambut dukungan perempuan Iran dan komunitas Internasional.

My Stealthy Freedom memperjuangkan hak asasi individual perempuan Iran untuk memilih menggunakan hijab atau tidak sesuai keinginan pribadi mereka.(3)

Awalnya ini adalah gerilya daring. Para perempuan Iran, melalui facebook,twitter, youtube,Vimeo dan media sosial lain mengunggah foto dan video mereka melepaskan jilbab dan mengibarkannya sebagai simbol kemerdekaan individual untuk memilih, kemerdekaan atas tubuh sendiri.

Perempuan Iran melancarkan kampanye #MyStealhtyFreedom. Sumber: Facebook/mystealthyfreedom
Perempuan Iran melancarkan kampanye #MyStealhtyFreedom. Sumber: Facebook/mystealthyfreedom
Kini, gerakan itu semakin berani. Aksi melepas jilbab tidak lagi dilakukan di tempat-tempat tersembunyi. Para #GirlsOfRevolutionStreet, demikian kini mereka menyebut diri, melakukannya di tempat-tempat keramaian. Pada 8 Maret kemarin, seorang mahasiswi pemberani membuka dan melambai-lambaikan jilbab di halaman Universitas Mazandaran. Aksi ini telah mendapat kecaman resmi birokrat kampus (4).

Menghadapi gerakan yang kian gencar ini, pemerintah Iran terbelah. Peraturan kewajiban berhijab memang tidak dicabut, tetapi Massoumeh Ebtekar, Wakil Presiden Urusan Perempuan menyatakan perempuan tak berhijab tidak akan lagi dipenjara. Bertentangan dengan itu, Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan para perempuan yang mengkampanyekan penolakan berhijab dapat dipenjara 10 tahun. Posisi presiden ini didukung Kepala Kepolisian Tehran, Hossein Rahimi (4).

Dengan perkembangan terkini, saya berharap menemukan foto-foto aksi Hari Perempuan Internasional di Iran menampilkan para perempuan berhijab dan tanpa hijab berada dalam barisan massa aksi meneriakkan tuntutan-tuntutan hak kaum perempuan.

Sayangnya, yang saya peroleh adalah berita represi aparat kepolisian terhadap para perempuan Iran ketika unjuk rasa baru dimulai di depan kantor Kementerian Tenaga Kerja di Azadi Ave, Teheran. Para perempuan yang menuntut penghapusan diskriminasi, termasuk diskriminasi dalam dunia kerja dipukul dengan tongkat. Dua puluh aktivis perempuan ditangkap.(5)

Baiklah, Daughter of Revolution. Baiklah, para Girls of Revolution Street. Mungkin kalian harus menunggu 40 tahun untuk kemerdekaan dan kesetaraan, atau mungkin 50 tahun. Hormatku untuk kalian. Jangan menyerah.

***

Tilaria Padika

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2