Tilaria Padika aka George
Tilaria Padika aka George Petani

Artikel sejarah - ekonomi - politik - sosial budaya Twitter: @tilariapadika | surel: tilaria.padika@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Presiden Genderuwo

9 Maret 2018   11:32 Diperbarui: 19 Maret 2018   02:45 1080 6 5
Presiden Genderuwo
Ilustrasi diolah dari socialmarketingfella.com dan brilio.net

Maret, 04. Pukul 19.21

Bilah menarik rokok dalam-dalam, menahan napas sebentar, lalu menghembuskan asap putih melalui hidungnya. Ia mengulangi hingga tiga kali sebelum meneguk kopi. Lalu berulang lagi, tiga kali tarikan panjang rokok, seteguk kopi.

"Ada masalah lagi, Kang Bilah?" Parto, si pemilik gerobak jualan kopi dan rokok itu sudah hafal benar tingkah laku Bilah.

"Biasalah, Bang. Naik-turun dalam hidup."

Tetapi Parto tahu, jika cuma masalah biasa, tarikan rokok Bilah tidak akan sepanjang sekarang. Apalagi sejak tadi Bilah tidak banyak bicara. Demi sopan-santun, Parto tidak bertanya lagi.

"Bang, ambil rokok dua batang ya. Bayarnya esok-esok. Kopinya juga ya."

Parto mengerti, di bulan-bulan setelah pemilu dan pilkada, Bilah menjadi miskin. Tetapi setahun menjelang Pemilu dan Pilkada, Bilah akan membayar semua hutangnya, bahkan hutang teman-teman kongkow. Tidak jarang juga, Parto menerima tips untuk sesuatu yang bukan karena apa-apa. Tips saja. Bilah sedang banyak rejeki.

Pukul 23.20

"Pah, mama baru saja dapat pesan di telegram. Besok ada rapat. Sudah ada order yang masuk dalam rangka 2019 nanti." Sinta, istri Bilah menyampaikan kabar yang sedikit melegakan hati.

"Oh, ya. Dari siapa, Mah? Kok di grup papa masih sepi."

"Ya, kan Papa di kelompok yang bertahan. Tentu menunggu kantor mama nyerang. Mama juga belum tahu siapa yang order. Cuma disuruh hadir briefing besok dan baca-baca materi tentang hantu."

"Tentang hantu? Hahahaha, mau bikin novel keroyokan kali, Mah."

"Nggak mungkin lah. Sudah, Papa tidur duluan, mama mau googling bahan dulu."

Maret, 05. Pukul 20.10

"Gimana rapatnya, Mah?"

"Sudaaaah. Isunya tentang hantu. Papah siap-siap saja. Besok kalau kami sudah mulai nembak, pasti Papah dikontak untuk konsolidasi."

"Yang order siapa, Mah?"

"Masih sama, Pah. Hanya kantornya pindah. Dikasih tempat baru."

"Oh, nggak di Menteng lagi? Majikan baru?"

"Masih sama, cuma ikut pindah ke Antasari."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2