Tigaris Alifandi
Tigaris Alifandi Eksekutif The Tigaris Institute

Kuli penikmat ketenangan | Membaca, menulis dan bekerja

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

European Super League di Antara Sepak Bola, Uang, dan Hukum

6 November 2018   20:19 Diperbarui: 8 November 2018   11:52 825 2 0
European Super League di Antara Sepak Bola, Uang, dan Hukum
Presiden FIFA: Gianni Infantino. (Foto: Reuters)

Sejenak saya akan alihkan anda semua dari hiruk pikuk UEFA Champions League nanti malam. Karena ini adalah kabar yang menggemparkan dunia sepak bola. Utamanya benua biru, kiblat industri sepak bola. Ini lebih hebat dari "sekedar UCL" yang kita saksikan sekarang.

Der Spiegel, majalah berita asal Jerman. Merilis bocoran data dari Football Leaks, Wikileaks versi sepak bola yang sudah dibentuk sejak 2015.Pihak yang mengaku tidak bekerja untuk siapapun, tidak berpihak kepada seorang aktor intelektual. 

Menggandeng 15 media besar, 80 jurnalis dan European Investigative Collaboration. Bekerja dan beroperasi untuk kepentingan umum. Bertindak dengan landasan yang sama seperti tweet Edward Snowden,

"Speak not because it is safe, but because it is right"
Dikabarkan, beberapa klub menginisiasi dibentuknya sebuah liga super yang hanya berisi klub elit dan punya tradisi besar. European Super League. Rencananya dimulai 2021, berisikan 16 klub elit Eropa. 

Sebelas klub inisiator tidak dapat didegradasi selama 20 tahun, di antaranya Real Madrid, Barcelona, Manchester United, Manchester City, Arsenal, Liverpool, Chelsea, Juventus, AC Milan, Bayern Muenchen dan Paris Saint Germain. Ditambah lima klub undangan yang bersedia ikut yaitu Olympique Marseille, Inter Milan, AS Roma, Borussia Dortmund dan Atletico Madrid.

Namun, ada syarat mahal yang harus dipenuhi. Yaitu klub yang ikut super liga gila ini harus meninggalkan kompetisi domestik dan UCL yang mereka jalani. Alias, bukan UEFA yang menginisiasi liga elit ini. Rencananya, perusahaan asal Spanyol, Key Capital Partner, akan menjadi mitra utama penyelenggara liga ini.

Football Leaks tidak hanya merilis tentang inisiatif pembentukan liga elit ini. Disana juga diterangkan beberapa dokumen rahasia menarik. Bagaimana PSG dan Manchester City mengakali sanksi akibat aturan Financial Fair Play. Tentang beberapa klub Inggris yang mengemplang pajak. Serta beberapa pemain yang telah menjuarai UCL diduga kuat positif menggunakan doping.

Namun, gaung super liga elit gila ini benar-benar ramai sekarang.

Revolusi Besar lewat Super Liga Elit
Charlie Stillitano, co-Founder dan Chairman dari Relevent Sports. Menyelenggarakan sebuah pertandingan yang tak mungkin ia lupakan. Mempertemukan dua klub dengan aset kekayaan terbesar di dunia. 

Dua klub yang sangat populer. Real Madrid melawan Manchester United. Diselenggarakan di Michigan, dihadiri hampir 110 ribu pasang mata, rekor terbanyak penonton sepak bola di Amerika Serikat sampai saat ini. Mengawali atensi besarnya untuk menginisiasi terbentuknya sebuah kompetisi elit, yang benar benar eksklusif, mahal, elit dan bergengsi.

Mr. Zero Mistakes, julukan Mourinho untuk dirinya. Bagaimana Stillitano mengemas sepak bola, itu "Amerika Banget". Bisnis lah yang menjadi alasan penting.

Sebenarnya ide untuk membentuk liga elit macam ini sudah muncul jauh-jauh hari dahulu. Namun, mulai intensif diskusinya sejak 2015, setelah Stillitano mengirim email kepada dua orang eksekutif Real Madrid. Berisi tentang presentasi detail liga elit, berikut ketentuan klub yang boleh ikut. Bagaimana pertandingan dihelat di awal dan akhir pekan untuk memanjakan pemirsa bola mania. Seberapa lama kompetisi dijalankan. Dan sebagainya.

Apalagi, ketika Karl-Heinz Rummennige, CEO Bayern Muenchen, menjadi presiden ECA (European Club Association) untuk delapan tahun kedepan sejak 2016. Ide untuk membentuk liga elit berisikan klub besar Eropa mulai dihembuskan. Bahkan, legenda Timnas Jerman dan Bayern Muenchen itu diduga terlibat konspirasi besar ini, meskipun ia membantah tuduhan itu.

futbolentrelineas.net
futbolentrelineas.net
Alasan utamanya, terkait imbal balik kompetisi, yaitu dana segar, klub elit yang dirasa bisa lebih besar daripada yang mereka dapatkan sekarang. Siapa lagi kalau bukan karena UEFA, yang katanya Justinus Lhaksana (Coach Justin) dalam podcast Box2Box, berisikan para mafia di dalamnya. Diduga aliran dana melimpah itu kalau kata orang Jawa "dicuil setitik". 

Apalagi setelah apa yang menimpa Platini dan Sepp Blatter di UEFA dan FIFA. Seakan menjelaskan bahwa induk organisasi sepak bola itu dijangkiti wabah korupsi akut. Entah lah apakah iddem dengan PSSI kita.

Meskipun manajemen anyar kedua asosiasi sepak bola itu menegaskan komitmen untuk melakukan revolusi besar-besaran dalam organisasi mereka. Perlu bukti konkret dan cepat agar sekelompok konspirator elit itu percaya.

Revolusi yang UEFA janjikan dirasa tidak serius. Mereka tak kunjung melakukan revolusi kompetisi seperti yang mereka janjikan untuk meredam kemungkinan disintegrasi klub elit dari UCL. Raul Sanilehi menjelaskan bahwa ada kemungkinan UEFA membentuk kompetisi ketiga selain UCL dan UEL untuk mengakomodasi hal itu. Namun dskusi tentang liga super elit itu makin intensif. Konspirasi itu tetap berjalan.

Bahkan, klub inisiator sudah mempersiapkan aspek legal dan bisnisnya. Mereka sudah punya alasan yang tepat untuk keluar dari aturan eksisting. Dimana kantor mereka akan dibentuk. Bagaimana kompetisi nanti dikelola tanpa intervensi federasi. Bagaimana penghasilan nantinya dibagi. Sudah sangat matang dirancang. Bisa dibilang tinggal tentukan tanggal bagus.

Begitu profesional mereka mengelola industri sepak bola. Saya harap PT Liga Indonesia Baru dan PSSI ketularan ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2