Mohon tunggu...
Kurnia Nasir
Kurnia Nasir Mohon Tunggu... musikus jalanan

musikus jalanan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Damai dalam Perbedaan

24 Oktober 2019   21:20 Diperbarui: 24 Oktober 2019   21:28 0 0 0 Mohon Tunggu...
Damai dalam Perbedaan
sindonews

Kita bersama tahu bahwa Islam itu mengajarkan kedamaian dan bukan pertikaian. Kita ingat Nabi Muhammad yang hijrah dari Mekkah ke Madinah tidak memerangi kaum yang berbeda dengannya di Madinah, seperti umat Kristiani.Beliau menghargai keberadaan kaum yang berbeda dengan dirinya. Hanya saja kehidupan mereka diatur oleh peraturan yang dibuat oleh Nabi, sehingga tidak menimbulkan pertikaian dan pertentangan.

Kehidupan Indonesia sejatinya sama halnya dengan kehidupan saat Nabi Muhammad di Madinah meski dengan kemasan berbeda. Indonesia terdiri atas banyak keragaman etnis, keyakinan, bahasa, dan sebagainya, tetapi dituntut untuk bisa saling menghargai satu sama lain. Pemeluk Kristen harus bisa menghargai pemeluk muslim, begitu juga Hindu terhadap Budha, Islam terhadap agama lainnya seperti yang selama ini diperlihatkan oleh masyarakat Indoensia.

Terbentuknya image bahwa Islam adalah radikal tak lepas dari kejadian-kejadian global seperti penyerangan menara kembar WTC di New York dan pengakuan dari pihak yang melakukannya. Beberapa kejadian yang mengindikasikan kekerasan semisal di Eropa dan Asia memperkuat image itu.

Indonesia juga tak lepas dari berbagai kejadian kekerasan termasuk bom yang melibatkan banyak orang maupun pribadi yang mengatasnamakan agama yaitu Islam terhadap orang yang mereka sebut kafir. Kita tentu ingat bom Bali yang meluluhlantakkan beberapa kafe di Bali dan menewaskan ratusan orang sebagian besar wisatawan asing. Beberapa diantaranya pekerja kafe. Juga bom Bali dua yang meledak beberapa tahun setelahnya.

Juga ada beberapa kejadian seperti bom Thamrin, dan beberapa kejadian bom di Jakarta. Terakhir adalah bom Surabaya yang begitu mengejutkan masyarakat Indonesia. Karena terjadi ketika umat Kristiani beribadah dan dilakukan oleh satu keluarga yang menjadi pengantin untuk memerangi kafir di dunia.

Hal ini sangat luar biasa karena secara nyata pelaku salah menerjemahkan soal hubungan muslim dengan non muslim. Non muslim yang kemudian mereka panggil dengan panggilan kafir, sejatinya mirip seperti kaum yang berbeda keyakinan dengan muslim ketika Nabi Muhammad bertempat tinggal di Madinah. Mereka mampu hidup bersama dengan damai tanpa ada pertikaian ataupun kekerasan, karena ada aturan-aturan yang dibuat oleh Nabi sehingga mereka damai.

Jadi sebenarnya kekerasan yang dilakukan oleh muslim terhadap non muslim dan berdalih berdasarkan agama adalah hal yang tidak tepat, alias membajak perintah Nabi Muhammad sendiri. Sehingga hal itu tak layak terjadi lagi, apalagi di bumi Indonesia yang penuh dengan keberagaman ini.

Sudah sepatutnya kita hidup dengan damai dan menghargai satu sama lain, meskipun dalam konteks perbedaan. Sama seperti halnya masyarakat Madinah zaman nabi, hidup dalam perbedaan itu hanya perlu pengaturan, dan bukan pembinasaan satu terhadap lain yang berbeda.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x