Thurneysen Simanjuntak
Thurneysen Simanjuntak Guru

Memikirkan alasan harus menulis lebih penting daripada memikirkan cara menulis. Tetapi memulai menulis itu ternyata jauh lebih penting dari keduanya. Sebab dengan memulai menulis maka kedua hal itu pun akan kamu pahami. (thurprosmart@gmail.com)

Selanjutnya

Tutup

Parenting

Strategi Membangun Keluarga Ideal

20 Mei 2018   14:43 Diperbarui: 20 Mei 2018   18:39 409 0 0
Strategi Membangun Keluarga Ideal
Ilustrasi (dokpri)

Semua orang pasti mendambakan keluarga yang harmonis dan bahagia. Tapi tidak serta merta setiap orang yang sudah berkeluarga bisa meraihnya.

Ada banyak tantangan dan hambatan yang harus dihadapi untuk mewujudkan keluarga yang ideal. Dan yang siap menghadapi serta melampauinya, merekalah yang akan sukses membangun keluarga.

Tidak begitu dengan kisah berikut.

Semasa kecil, di dekat rumah kami, ada keluarga muda. Bulan-bulan awal pernikahan mereka terlihat begitu bahagia. Tapi tidak lama berselang mereka pun mulai sering adu mulut. Sebagai tetangga, lumayan terganggu juga mendengar pertengkaran mereka saban hari.

Sesungguhnya mereka sudah berkali-kali mendapat nasihat dari para orangtua di kampung. Tapi semuanya sia-sia. Pada akhirnya keluarga muda tersebut berakhir dengan 'sad ending'.

Malam itu, warga pun dihebohkan dengan tindakan nekat sang istri. Singkat cerita, sang istri membakar dirinya setelah terlebih dahulu menyiramkan minyak tanah ke sekujur tubuhnya. Dan tidak lama berselang, si istri pun meninggal dunia.

Peristiwa tersebut, adalah salah satu gambaran kegagalan membangun keluarga. Dan masih banyak kegagalan lainnya yang pernah kita saksikan di tengah-tengah masyarakat. Mulai dari perceraian dengan alasan ketidakcocokan dan perselingkuhan. Hingga masalah lain yang terkadang sepele dan tidak masuk akal.

Kalau begitu, bagaimana seharusnya strategi membangun keluarga agar tetap awet dan langgeng?

Menurut hemat saya, tidak ada rumusan bakunya. Bagi setiap keluarga tentu memiliki resep yang berbeda. Mungkin untuk keluarga A lebih cocok menggunakan strategi dan cara X. Sementara keluarga B lebih tepat menggunakan strategi dan cara Y.

Tetapi, apa pun strategi dan cara yang dilakukan orang dalam membangun keluarga, bahwa satu hal yang tidak boleh hilang dari sebuah keluarga adalah cinta. Sebab kekuatan cintalah yang membuat orang rela berkorban, mampu memerhatikan satu dengan yang lainnya, menghargai dan  kesiapan menerima setiap kekurangan pasangan. Seperti cinta Tuhan pada umatnya, begitu pula cinta itu tumbuh dan menjadi landasan dalam sebuah keluarga ideal.

Dan sesungguhnya, jika ingin membangun keluarga ideal bukanlah dimulai ketika hari pernikahan seseorang. Tapi jauh sebelumnya. Masa pranikah itu sebenarnya memiliki andil besar dalam membangun keluarga.

Misalnya, sebelum menikah maka seseorang seharusnya telah menyiapkan kedewasaan rohani, mental dan emosional, memilih orang yang benar-benar bisa siap mendampinginya baik dalam keadaan suka maupun duka, serta memiliki pekerjaan atau penghasilan. Sebab akar dari permasalahan keluarga tidak jauh dari hal-hal yang itu juga.

Bagi yang sudah berkeluarga harusnya terus belajar. Sebab membangun keluarga tidak pernah ada kata tamat. Setiap hari, ada saja masalah dan tantangan baru yang harus dihadapi. Jadi selalu ada pelajaran barunya. Jika keluarga tidak terbuka untuk mau belajar bersama, maka itulah awal dari kemunduran keluarga.

Begitulah langkah filosofisnya. Terus bagaimana pula dengan langkah teknis untuk membangun keluarga yang ideal tersebut?

Langkah Membangun Keluarga Ideal

Nah, secara teknisnya dalam membangun keluarga, penulis ingin mengutip dari sebuah infografis dari media sosial BKKBN. Dalam infografis tersebut, setidaknya ada 6 langkah membangun keluarga yang ideal.

Sumber : IG@BKKBNofficial
Sumber : IG@BKKBNofficial
Pertama, menikahlah pada usia ideal.

Saran pernikahan ideal tentu bukan tanpa alasan. Hal itu pasti telah melalui sebuah kajian para ahli dan penelitian yang dalam melalui orang-orang yang sudah berkeluarga.

Untuk itu, pernikahan dini sangat tidak dianjurkan dan sebaiknya harus dihindari. Jika ditinjau secara medis, pernikahan dini itu kurang baik untuk kesehatan reproduksi. Sementara dari aspek lain, pernikahan dini cenderung bisa menimbulkan masalah karena ketidaksiapan mental, emosional dan finansial.

Bagaimana pula jika menikah terlalu lama?

Dari pengamatan penulis, ini terkait dengan pemenuhan kebutuhan anak kelak. Misalnya, orangtua sudah menjelang pensiun (tidak produktif) ternyata masih harus berjuang menyekolahkan anak mereka. Kalau begini repot kan? Kalau sudah punya warisan tujuh turunan mungkin tidak menjadi masalah, tapi umumnya kenyataannya kan tidak demikian.

Di samping itu, jika menikah terlalu lama, ada kemungkinan proses kelahiran akan terjadi masalah ketika sudah melampaui batas usia sehat untuk melahirkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2