Mohon tunggu...
Thurneysen Simanjuntak
Thurneysen Simanjuntak Mohon Tunggu... Senang mengajar dan menulis

Masih tetap belajar menulis.....

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

"Sustainable Palm Oil", Penyelamatan Hutan dan Satwa di Tangan Konsumen Bijak

22 Oktober 2015   10:37 Diperbarui: 23 Oktober 2015   11:16 530 10 3 Mohon Tunggu...

Ilustrasi - kelapa sawit (Shutterstock)

Sungguh hal yang paradoks. Indonesia berprestasi sebagai negara produsen minyak sawit yang terbesar di dunia. Dengan hasil yang fantastis. Faktanya, tahun 2008, dari penjualan 17,4 juta ton minyak sawit mencapai 6,8 juta dollar US. Sektor perkebunan sawit juga sukses menyumbang 8 milyar dolar US dari total nilai ekspor Indonesia dan mempekerjakan 3 juta orang pada 2007.

Tetapi amat disayangkan, perusakan lingkungan semakin tahun semakin bertambah pula demi pembukaan lahan-lahan sawit baru di Indonesia. Bisa anda bayangkan, jutaan hektar hutan telah dibakar dari tahun ke tahun. Jutaan orang di Riau, Kalimantan dan daerah lainnya, hanya bisa meratap menghadapi masalah asap yang tak kunjung berakhir. Bagaimana hati tidak tersayat melihat bayi yang baru lahir tanpa protes harus menghirup udara yang kotor untuk bernafas?

Berapa jenis tanaman dan satwa yang langka yang punah dan kehilangan habitatnya akibat kebakaran dan perusakan lingkungan tersebut. Banyak satwa yang dibantai karena dianggap pengganggu kelapa sawit, seperti gajah. Gajah ternyata 70% kematiannya karena diracun oleh pemilik kebun sawit, gajah-gajah ini dianggap hama karena memakan umbut (ujung) dari pohon sawit, terutama ketika sawit tersebut memasuki tahap panen. Terbayang kerugian yang dialami oleh petani sawit, sehingga dengan jalan pintas gajah tersebut diracun, bukan dengan cara mengusir.

Keadaan demikian membuat habitat dan populasi Gajah Sumatera (Elephas maximus) mengalami penurunan drastis. Sekitar 70% habitatnya hilang atau rusak hanya dalam satu generasi (25 tahun) sejak 1985. Bahkan sebanyak 23 kantong populasi gajah pun mengalami kepunahan lokal pada periode tersebut, yang sebagian besar berada di Lampung dan Riau. Sementara Konservasi Gajah Indonesia dan staf pemerintah dari instansi terkait dalam sebuah lokakarya awal 2014, diperoleh angka sekitar 1.700 ekor gajah yang tersisa di seantero Sumatera. Jumlah ini, bahkan dianggap over-estimate atau berlebih, sehingga perlu pengecekan lapangan. Padahal, perkiraan pada 2007, populasinya masih berkisar 2.400 – 2.800 individu.

Saat ini, dua jenis orangutan juga terancam hidup dan habitatnya. Seperti orangutan yang hidup di Sumatera (Pongo abelii) dan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Satwa ini banyak banyak mengalami pembantaian. Hal ini bisa kita lihat di berbagai media massa beberapa waktu lalu. Berdasarkan data dari Indonesia Palm Oil Advocacy Team tahun 2010, ada 10 juta hektare lahan di Kalimantan yang merupakan “rumah” bagi orangutan telah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit.

Berdasarkan status yang diberikan oleh Lembaga Konservasi Satwa Internasional IUCN, Orangutan Kalimantan dikategorikan spesies genting (endangered), sedangkan Orangutan Sumatera lebih terancam lagi karena masuk kategori kritis (critically endangered). Kedua spesies tersebut juga terdaftar dalam Apendiks l dari CITES (Convention on International Trade in Endangerd of Wild Species of Fauna and Flora) atau Konvensi Perdagangan Internasional Satwa dan Tumbuhan Liar Terancam Punah

Menurut para pakar orangutan, saat ini populasi Orangutan di Indonesia diperkirakan hanya tersisa 60.000 individu yang tersebar di Kalimantan dan Sumatera. Untuk Orangutan Sumatera, diperkirakan populasi yang ada tinggal sekitar 7.000- 11.000 individu.

Perlu diketahui juga bahwa tindakan pembantaian Orangutan dan Gajah Sumatra tersebut, dapat dikategorikan sebagai tindakan pelanggaran hukum. Pelaku tindakan ini melanggar UU No. 7 Tahun 1999 tentang "Pengawetan Jenis Tanaman dan Satwa," dan UU No. 5 Tahun 1990 tentang "Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya" dengan sanksi hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp lOO juta.

Tetapi ternyata tidak serta merta dengan adanya hukuman dan sanksi tersebut menyelesaikan permasalahan yang ada. Selanjutnya apa yang bisa kita lakukan? Saatnya konsumen bijak bertindak!


Konsumen Bijak #BeliYangBaik

Kalau pembakaran hutan, perusakan lingkungan dan pembantaian satwa demi lahan baru dan keberhasilan sepihak bagi perkebunan kelapa sawit tidak dihentikan, bisa kita banyangkan bagaimana kehidupan dimuka bumi ini bagi generasi berikutnya.

Kampanye WWF Indonesia #BeliYangBaik merupakan kampanye yang mendorong konsumen menjadi konsumen yang bijak, karena disadari bahwa konsumen tersebut memegang peranan penting dalam melestarikan lingkungan atau sebaliknya merusak hutan dan mendukung pembantaian satwa dengan membeli dan mengkonsumsi produk-produk yang dihasilkan dari sawit seperti minyak, cokelat, mie, kosmetik, shampo, yang dari proses bahan baku dan proses pengolahannya tidak mendukung program ramah lingkungan.

Untuk itu, para konsumen, perlu sepakat untuk mengatakan ‘tidak’ untuk produk-produk yang dalam proses pengolahannya tidak mengikuti aturan-aturan yang mendukung kelestarian lingkungan dan satwa. Bagaimana kita tahu? Sebagai konsumen bijak, mari kita membuka diri dan mempelajari produk-produk yang berasal dari sawit dan turunannya mana yang dikelola dengan benar.

Saat ini, ternyata telah ada sertifikasi atau label dari RSPO pada produk-produk yang berasal dari minyak sawit. Produsen yang sudah memegang sertifikasi RSPO ini menjadi jaminan bahwa produsen aman dari tindakan pembunuhan gajah. Tak hanya pelestarian gajah yang diatur tapi juga mereka menerapkan dan menegakkan standar konsistensi dengan hukum hak asasi manusia internasional dan menghormati hak masyarakat.

RSPO itu sendiri adalah Rountable on Sustainable Oli. Sebuah lembaga nirlaba yang merupakan asosiasi yang menyatukan para pemangku kepentingan dari tujuh sektor industri minyak sawit - produsen kelapa sawit, pemroses atau pedagang kelapa sawit, produsen barang-barang konsumen, pengecer, bank dan investor, LSM baik LSM pelestarian lingkungan atau konservasi alam, maupun sosial.

RSPO juga menjamin bahwa tidak ada hutan primer baru atau kawasan bernilai konservasi tinggi lainnya yang dikorbankan untuk perkebunan kelapa sawit, dan bahwa hak-hak dasar dan kondisi hidup jutaan pekerja perkebunan, petani kecil, dan masyarakat asli dihargai sepenuhnya. Dengan pandangan inilah, RSPO secara proaktif terlibat dengan petani kelapa sawit, pengolah sawit, perusahaan, pengecer, LSM dan investor untuk bekerja sama menuju suplai global minyak sawit yang diproduksi dengan bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.

RSPO juga mempromosikan praktik produksi minyak sawit yang bekelanjutan (Sustainable Palm Oil) maksudnya bahwa perusahaan dalam produksi minyak sawit tersebut memperhatikan 4 unsur utama yaitu minyak sawit yang dihasilkan harus memenuhi peraturan dan hukum, memperlihatkan aspek lingkungan, memperhatikan tatanan sosial, serta memberikan manfaat ekonomis atau yang dikenal kaidah 3 PL (profit, people, planet, legal). Sederhananya, perusahaan yang memproduksi minyak sawit tidak membuka lahan dengan cara dibakar, tidak ditanam dilahan yang emisi gas tinggi, lebih banyak menggunakan pupuk organik daripada pupuk kimia, dan lain sebagainya.

Akhirnya, saya simpulkan bahwa untuk berperan dalam melestarikan lingkungan, banyak cara yang bisa dilakukan. Mungkin anda tidak sebagai pembuat regulasi atau peraturan, pengawas pelaksanaan peraturan di lapangan tetapi hanya sebagai konsumen. Maka jadikanlah itu sebagai kontribusi yang hebat dengan #BeliYangBaik dengan standar RSPO.

Sumber Referensi :
http://www.beliyangbaik.org/
http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/07/perkembangan-rspo-dalam-pelestarian-minyak-sawit
http://www.wwf.or.id/?41042/Berikan-Orangutan-Kemerdekaan-dari-Kebun-Sawit-Tak-Lestari
http://www.wwf.or.id/?40922/Suka-Makan-Gorengan-vs-Pelestarian-Gajah

  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN