Mohon tunggu...
T.H. Salengke
T.H. Salengke Mohon Tunggu... Tukang Ketik

Ora et Labora

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Menelisik Agama Sebagai Sumber Konflik

19 Juni 2017   00:16 Diperbarui: 19 Juni 2017   00:48 1422 10 7 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menelisik Agama Sebagai Sumber Konflik
Bibliophilesreverie.com

AGAMA sering disebut-sebut sebagai sumber konflik. Tentu dengan melihat sepak terjang kelompok radikal  di seluruh dunia yang sering mengatasnamakan agama. Munculnya sikap Islam phobia di kalangan masyarakat barat seolah-olah agama yang mendoktrin kekerasan kepada pemeluknya. Sebenarnya siapa dan apa motif kelompok radikal bertindak ganas hingga mengorbankan masyarakat awam yang tidak berdosa?

Melalui berbagai karya tulis yang sangat menarik, Karen Armstrong mengulas panjang lebar tentang konflik komunal yang sering dikaitkan dengan agama. Bagaimana dengan pelaku teror di Indonesia?

Mantan biarawati Katolik ini beberapa tahun lalu sering wira-wiri ke Indonesia untuk memenuhi undangan ceramah sosial dan keagamaan. Banyak masalah sosial yang terjadi terutamanya kasus terorisme yang sering dikaitkan dengan agama. Demikian juga dengan gerakan radikal, baik mengatasnamakan agama maupun kedaerahan, dinilai kerap membelit bangsa Indonesia.

Setelah berhenti menjadi biarawati, Karen Armstrong menekuti dunia tulis menulis disamping menjadi akademisi dan spiritualis. Wanita kelahiran Inggris ini telah menghasilkan 20 buah buku yang secara umum menyorot kehidupan sosial umat beragama khususnya lima agama besar dunia yang sedikit sebanyak diungkapkan dalam bukunya A History of God: The 4000-Year Quest of Judaism, Christianity and Islam.

Dengan mengkampanyekan konsep hidup welas asih (compassion), Karen Armstrong dengan tegas menolak kalau agama sebagai sumber konflik. Baginya, agamalah yang justru mengajarkan ummatnya untuk saling menghargai antara satu sama lain dan menjauhi konflik. Puncak gerakan Armstrong adalah memproklamirkan The Charter For Compassion yang ditandatangani oleh Ratu Noor dari Jordania, Dalai Lama, dan Bishop Desmon Tutu.

Sebenarnya, apa yang diutarakan oleh Armstrong bersifat common sense dan sering diucapkan oleh orang tua di rumah, ustadz dan tokoh agama di masjid, guru ngaji di langgar, bapak ibu guru di kelas, orang-orang tua di dalam masyarakat. Secara umum, bagi saya tidak ada yang baru dan juga bagi masyarakat Indonesia yang kental memegang perinsip ketimuran.

Namun yang menarik dari ide Karen Armstrong adalah disaat dunia menyalahkan agama sebagai biang konflik komunal, penulis buku Fields of Blood: Religion and The History of Violence ini justeru berkata sebaliknya, agamalah yang mendorong terciptanya suasana yang kondusif dan damai. Inilah yang menyedot perhatian dunia termasuk dunia Islam. Indonesia sebagai negara berpunduduk Islam terbesar di dunia melihat Armstrong sangat sesuai untuk berbicara di negara-negara barat yang sering menilai Islam sebagai agama perang.

Hingga saat ini, masyarakat barat sering mengelindingkan bola salju tentang radikalisme dalam Islam yang seolah-olah Islam merupakan agama yang mendoktrin ummatnya bertindak radikal sehingga muncullah Islam phobia di kalangan mereka, padahal pelaku tindakan terorisme bukan saja orang Islam tetapi diketahui datang dari berbagai agama dan kepercayaan.

Saya melihat, kekerasan di Indonesia justru bersumber dari politik dan kekuasaan, persaingan tidak sehat antar kelas masyarakat yang menguasai kapital, persaingan antar suku mayoritas dan minoritas yang disertai oleh memudarnya rasa saling menerima serta hilangnya kasih sayang antar kelompok dalam sebuah masyarakat. Tetapi sayang, agama sering dibawa-bawa karena agamalah isu yang paling sensitif untuk dijadikan alasan “menghalalkan” sesebuah tindakan.

Untuk itulah saya mencoba menulis artikel sederhana ini sebagai bahan renungan kita bersama tentang kekerasan yang sering terjadi tanah air. Semoga berkenan.(*)

KL:19062017

VIDEO PILIHAN