Analisis

Daya Dukung LingkunganMembuat Wisata di DIY Bertahan

7 November 2018   14:52 Diperbarui: 7 November 2018   15:04 220 0 0
Daya Dukung LingkunganMembuat Wisata di DIY Bertahan
hipwee.com

Selama saya tinggal di Jogja, yang paling lekat dengan kota ini dalah pariwisatanya. Dahulu Bantul menjadi pariwisata alternatif selain wisata budaya di candi-candi dan pusat kota Jogja. Lambat laun tren itu bergeser, hotel-hotel dan pantai di daerah Bantul lambat laun sepi peminat. Banyak faktor yang mempengaruhi fenomena tersebut, diantaranya sebgai berikut:

Pertama, berkembangnya potensi wisata di daerah lain. Dahulu pantai-pantai daerah Bantul menawarkan keeksotisan akan budaya dan mitosnya, namun hal itu ternyata dikalahkan oleh pesona alam di pantai daerah lain. Terbukti bahwa pelestarian budaya dan mitos saja tidak cukup untuk menjadikan suatu tempat wisata mampu bertahan.

Sepanjang garis pantai Kabupaten Gunung Kidul terbentang puluhan pantai yang masih 'perawan'. Tidak hanya itu, pantai-pantai di Gunung Kidul berpasir putih, fakta itulah yang menjadi keunggulan pantai di daerah tersebut jika dibndingkan dengan pantai di Bantul.

Kedua, di beberapa objek wisata unggulan di daerah bantul terjadi konflik antara warga dan investor atau bahkan pemerintah. Pengelolaan wisata yang cenderung kurang berpihak pada warga setempat menjadikan konflik muncul. Beberapa pemukiman dan lahan milik warga digusur pemerintah. Carut marut tersebut cukup membuat minat wisata menurun.

Ketiga, di daerah Bantul terdapat beberapa titik penambangan pasir sedangkan muara-muara mulai tercemar oleh beberapa limbah. Sulit dipungkiri bahwa kenyataannya pantai di daerah Bantul relative kurang bersih bila dibandingkan dengan Gunung Kidul, pantai Depok misalnya.

Apa sih kira kira yang menarik dari wisata Gunung Kidul? Sepertinya pertanyaan seperti itu sudah tidak diperlukan. Karena semua orang sudah pasti tertarik! Namun di luar itu masih banyak yang perlu dibenahi dari pengelolaan wisata di Gunung Kidul.

Aspek yang sering kita lupakan dalam narasi tentang kepariwisataan adalah mengenai lingkungan. Banyak tempat wisata yang justru melupakan daya dukung lingkungannya. Satu hal yang bisa dilakukan adalah dengaan menerapkan aturan-aturan ketat terhadap pengelolaan objek wisata. Ada dua kendala jika kita bicara mengenai aturan. 

Pertama soal miskinnya usul aturan yang spesifik dan ketat mengenai lingkungan di tingkat legislatif. Kedua, pengawasan dari aturan yang telah ada terlalu longgar dan cenderung memberi celah pada pelnggaran atau bahkan terjadinya pembiaran.

Oleh siapa hal tersebut dilakukan? Tentunya oleh legisatif. Sedangkan membicarakan  Leislatif di tingkat daerah tak lengkap jika tak menyiggung megenai DPD. Selama ini peran dan fungsi DPD agak kurang terekspos, padahal dikarenakan mereka perwakilan tokoh daerah maka harusnya para DPD sangat tahu soal kualitas dan masalah daerahnya. 

Khusus Gunung Kidul dan DIY pada umumnya ada nama besar seperti Bambang Soepijanto yang mendaku sebagai calon DPD DIY yang kemungkinan mampu menyelesaikan masalah-masalah di atas. Sehingga ada harapan bahwa pengelolaan daya dukung ligkungan di objek wisata semakin baik. Hal tersebut tidak lepas dari latar belakang beliau yang basah kuyub dalam pengelolaan lingkungan dan kehutanan di DIY terutama di Gunung Kidul. Sehingga objek wisata tidak hanya ramai, tetpi juga mampu bertahan dan terjaga dengan baik.