Mohon tunggu...
Mohammad Thoriq Bahri
Mohammad Thoriq Bahri Mohon Tunggu... Lainnya - Analis Keimigrasian pada Direktorat Jenderal Imigrasi

Analis Keimigrasian pada Direktorat Jenderal Imigrasi, yang mencoba memberi warna dengan tulisannya.

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan Pencari Suaka, Kelompok Ekonomi Rentan dalam Masa Pandemi COVID-19

13 Mei 2020   16:35 Diperbarui: 26 Januari 2021   09:07 455
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Photo by Ahmed akacha from Pexels

Namun, sebagian besar pekerja Migran, terutama mereka yang berstatus illegal. akan memilih untuk tetap bertahan akan mencoba mencari pekerjaan lain yang sesuai dengan jenis Visa yang mereka miliki, dan tinggal di tempat penampungan sementara.  Salah satu negara yang memiliki tempat penampungan semetara untuk Pekerja Migran adalah Singapura. 

Kondisi di tempat penampungan sementara ini secara prosedur kesehatan sangat rentan, hal ini dikarenakan kondisi sanitasi yang tidak layak, dan sebagian besar dari mereka harus tinggal berdesakan dan saling berbagi fasilitas antara pekerja satu dengan pekerja lainnya.F Fenomena ini cukup menarik, karena Singapura yang sebelumnya mengklaim memiliki angka infeksi COVID-19 terendah di ASEAN, tiba-tiba melonjak tajam dan menjadi negara dengan tingkat infeksi COVID-19 tertinggi di ASEAN, yang disebabkan karena tingginya infeksi para Pekerja Migran yang tinggal di tempat penampungan sementara, serta menjadi episentrum penyebaran COVID-19 yang teridentifikasi baru-baru ini.

Kemudian, dampak berikutnya adalah semakin tingginya angka ketimpangan global.  Negara-negara seperti Filipina, Bangladesh, Ghana, dan Honduras sangat bergantung pada pengiriman uang dari warga negara mereka yang bekerja sebagai pekerja migran di luar negeri. 

Bahkan, menurut data yang dirilis oleh Bank Dunia pada tahun 2018, negara berkembang secara keseluruhan menerima $ 529 miliar dalam bentuk remitansi, atau sebesar 75 persen dari total arus masuk investasi asing langsung diterima pada tahun yang sama. Dapat dibayangkan, dengan pembatasan selama pandemik COVID-19, maka sumber-sumber pendapatan untuk keluarga di negara-negara berkembang akan terkena dampak, menciptakan efek domino pada perekonomian negara yang bergantung pada remitansi, dan, pada gilirannya, semakin memperluas kesenjangan antara negara kaya dan miskin.

Dampak ekonomi berupa PHK massal, yang terjadi di negara destinasi pekerja migran dan terhentinya arus remitansi internasional akan menciptakan dampak yang lebih luas dalam jangka panjang. Meningkatnya angka kemiskinan dan kelompok ekonomi rentan akan mendorong meningkatnya angka kejahatan dan kriminalitas, terutama di negara yang menggantungkan perekonomian mereka terhadap pekerja migran mereka di luar negeri.

Work from Home (WFH), Apakah juga untuk Pekerja Migran?

Pada masa Pandemi COVID-19 ini, banyak dari Pemerintah di dunia memberlakukan kebijakan WFH, terutama bagi negara yang terdampak COVID-19. Penetrasi infrastruktur digital yang masif mempermudah penerapan kebijakan ini, namun pertanyaannya adalah apakah semua pekerjaan dapat dilaksanakan secara online?. 

Diketahui bahwa sebagian besar pekerja migran yang berasal dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, memiliki tingkat pendidikan yang rendah dan bekerja di sektor-sektor informal. Pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja migran, terutama bagi mereka yang memiliki tingkat keterampilan yang rendah, mengharuskan mereka untuk bekerja secara fisik, dikarenakan pekerjaan seperti pekerja konstruksi hingga Asisten rumah tangga membuat WFH tidak dapat diterapkan. 

Pekerjaan sehari-hari para pekerja migran yang mengharuskan secara fisik pergi bekerja, menempatkan mereka pada risiko lebih besar tertular dan menyebarkan COVID-19 dan menempatkan mereka dalam kelompok rentan, karena banyak dari pekerja migran yang tidak memiliki akses ke perawatan kesehatan yang layak.

Resiko Pembatasan dari Sisi Migrasi Internasional

Repatriasi, tanpa disertai kesempatan untuk mendapatkan penghasilan di tengah pandemic COVID-19, akan menjadi bom waktu bagi Pemerintah setempat. Berbagai dampak mulai dari ekonomi, ketimpangan, dan pembatasan mobilitas akan meningkatkan keputusasaan para pekerja migran yang dipulangkan tanpa jaminan ekonomi, sedangkan di saat yang sama, akses untuk bekerja secara prosedural keluar negeri semakin minim.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun