Thonthowi Dj
Thonthowi Dj

Pengelana dunia maya. Pekerja kreatif. networker. communications specialist.

Selanjutnya

Tutup

Kandidat Artikel Utama

Politik Bisa Menghidupi Keluarga Muda?

31 Oktober 2018   10:52 Diperbarui: 1 November 2018   19:48 972 4 2
Politik Bisa Menghidupi Keluarga Muda?
Ilustrasi (KOMPAS)

"BIASANYA orang terjun ke dunia politik dalam usia matang, setelah menjadi pengusaha terlebih dulu. Mengapa Anda berdua sudah berani terjun di dunia politik pada usia muda." Pertanyaan-pertanyaan semacam ini yang saya tangkap banyak muncul di salah satu kelas di arena IdeaFest 2018, dengan narasumber dua politikus muda, Faldo Maldini dan Tsmara Amani, pada Jumat (26/10) di JCC, Jakarta.

Faldo kini berumur 28 tahun, sudah berkeluarga punya satu anak masih balita. Dia masuk Partai Amanat Nasional (PAN) pada usia 25 tahun. Posisinya saat ini Wakil Sekretaris Jenderal.

Sedangkan Tsamara sekarang berusia 22 tahun. Masuk Partai Solidaritas Indonesia pada usia 20 tahun. Dia perlu nunggu setahun untuk bisa menjadi pengurus partai karena minimal harus berusia 21 tahun.

Pertanyaan yang muncul di IdeaFest tersebut wajar. Anak muda rata-rata setelah lulus bakal mencari kerja, atau langsung berbisnis. 

Sedangkan yang terjun ke dunia politik, rata-rata setelah berusia matang dan bisnisnya berjalan baik. Atau, yang sudah mengumpulkan cukup tabungan dari hasil kerjanya. 

Ada pula, yang baru berani terjun ke dunia politik setelah memiliki jaringan dan posisi yang kuat.

Karena itu, bagi anak muda generasi milenial, pilihan Faldo dan Tsamara cukup aneh. "Kalau dalam bisnis, selalu ada cash in dan cash out. Dalam politik, yang ada hanya cash out, tidak ada cash in," kata Faldo.

Untuk perekonomian keluarga, sejauh ini Faldo mengandalkan klinik kesehatan di rumahnya. Istri Faldo yang seorang dokter, mengelola klinik tersebut. Adapun Tsamara justru baru lulus kuliah.

Kondisi tersebut menjadi tantangan, namun tak menyurutkan tekad mereka terjun ke dunia politik. Bagi Tsamara, sebenarnya penghasilan politisi yang berhasil menjadi anggota DPR, sudah lebih dari mencukupi. "Penghasilan anggota DPR itu rata-rata Rp200 juta per bulan. 

Saya kira cukup bagi keluarga Bang Faldo dengan anak satu. Apalagi buat saya yang kebutuhannya tidak banyak, sangat lebih dari cukup," ujar Tsamara.

Pertanyaan yang muncul kemudian tidak berhenti di situ. "Bagaimana Anda melawan korupsi, yang mungkin malah datang dari Partai Anda."

Baik Tsamara dan Faldo mengakui, guna masuk DPR biaya yang perlu dikeluarkan seorang politisi sangatlah besar. Tak jarang kemudian, politisi ini kemudian melakukan korupsi untuk menutupi biaya yang telah dikeluarkan sebelumnya.

Karena itu, Faldo dan Tsamara meminta dukungan masyarakat, khususnya generasi muda, agar keduanya tetap konsisten dengan prinsip antikorupsi. Dukungan yang mereka perlukan tentu saja dengan memilih mereka untuk masuk ke DPR, bagi yang berada di daerah pemilihan Faldo dan Tsamara.

"Saya paham tantangan Bang Faldo (mempertahankan prinsip) di internal partainya lebih besar. Sedangkan saya dan teman-teman PSI, sebagai partai baru, tantangannya memang lebih untuk meyakinkan masyarakat, bahwa kami bertekad melakukan perubahan," ujar Tsamara. Salah satu tekad itu ditunjukkan dengan menolak sama sekali calon legislatif yang pernah menjadi terpidana korupsi.

Faldo mengaku sering berdebat dengan para senior di partainya, tidak terkecuali dengan ketua umum partainya, Zulkifli Hasan. "Saya akan berupaya keras untuk tetap mempertahankan prinsip. Karena itu, dukungan teman-teman semua memang sangat kami harapkan," ujarnya.

Faldo meyakini, politik adalah jalan terbaik baginya untuk berbuat baik bagi orang banyak, sebagai tabungan dirinya guna masuk surga. 

Tsamara memiliki prinsip yang kurang lebih sama. Melalui jalan politik, banyak kebijakan yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak yang dibuat. 

Di sinilah posisi politisi menjadi sangat penting, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bukankah politik saat ini justru memecah belah bangsa? Faldo dan Tsamara mengaku sering berdebat keras. Bahkan, sangat keras. Bagi keduanya, hal-hal yang bersifat substantif seperti pembangunan ekonomi atau pun sosial misalnya, memang harus diperdebatkan. "Perdebatan itu tidak membuat saya lalu bermusuhan dengan Bang Faldo," ujar Tsamara.

Sebagai pelaku di dunia politik, keduanya mengaku sedih, karena perdebatan politik di masyarakat di bawa sampai masuk hati. Bagi mereka perdebatan cukup berhenti di otak saja. Tidak perlu dibawa sampai ke hati.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2