Mohon tunggu...
Thomson Cyrus
Thomson Cyrus Mohon Tunggu... Wiraswasta - Wiraswasta, blogger, vlogger

Untuk Kerjasama, Bisa hub Kontak Email : thomsoncyrus74@gmail.com DM IG : @thomsoncyrus74

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Artikel Utama

Belajar dari Durian Ucok, Biarkan AHY Matang Pohon dan Jangan Dikarbit

3 Agustus 2018   15:18 Diperbarui: 3 Agustus 2018   20:45 2962
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sangat terlihat saat Pilkada DKI, dia masih sangat hijau, baik ketika berdebat yang saat itu terlihat dipoles, dilatih cara berbicaranya, dihafal materi jawabannya maupun saat berkampanye, nuansa SBY nya sangat kental. Lalu kita memang sadar, AHY belum waktunya dipanen.

Bahwa dia punya potensi iya. Buah yang secara genetika bagus, rasanya manis, warnanya menarik, jika dipetik lebih cepat dari waktunya, dia pasti kelihatan pucat, rasanya asam meski sudah dimatangkan lewat proses karbitan. AHY kurang lebih sama, ia terlahir dari genetika yang bagus, Bapaknya Jenderal, ibunya putri seorang Jenderal, sekoalhnya bagus.

Tapi ada yang terlupa, belum saatnya dia di panen. Buah hasil karbitan bisa saja, bagus kulitnya, kuning menarik, selera kita tergoda, tetapi dalamnya kita bisa pastikan rasanya kurang manis justru bisa hambar, mudah busuk dan gampang berubah warna, cepat kena jamur dan kita gampang dan tidak berpikir panjang membuangnya ke tempat sampah.

SBY berpikir, Dia bisa menggembleng AHY, selagi masih punya kekuatan, selagi masih ada waktu buat dia mengantarkan AHY ke puncak tertinggi, lalu dia putuskanlah AHY kini saatnya. Dalam soal ini, kita tak pernah ragu kemampuan SBY untuk memoles, membuat AHY itu bagus di luar, tetapi jangan lupa, buah tidak pernah kita rasakan bagian kulitnya tetapi kita memakan bagian dalamnya.

Mencari pemimpin juga begitu, bisa saja demokrat bersama SBY berhasil mengangkat AHY ke survey tertinggi dengan berbagai macam konsultan politiknya, tetapi SBY lupa bahwa semua ada prosesnya. Rakyat bisa saja dibenaknya bahwa AHY itu bagus, muda dan bisa dijadikan pemimpin masa depan serta idola millenial.

Kita tidak boleh lupa, itu bagian luarnya saja. Yang kita butuhkan dari seorang pemimpin kan bagian dalamnya. Kemampuannya, integritasnya, daya juangnya untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa ini.

Bangsa ini memiliki masalah yang sangat kompleks. Mulai dari ideologi, ekonomi, sosial budaya, pertahanan kemananan, tatanan politiknya penuh dengan dinasti dan koncoisme. Akademisi nya tidak profesional melihat permasalahan, tetapi tergantung kepada siapa yang membayar. Generasi muda nya terjangkit penyakit pengkomsunsi teknologi tanpa pernah berpikir untuk memproduksi, sehingga masa depan kita tergantung dari luar.

Kita teriak teriak semua diambil asing, padahal kita yang tidak siap. Ada anak muda seperti Ahy berpotensi bagus, tetapi ada petani seperti SBY tidak sabar untuk memetiknya. Saya takut, AHY cepat "membusuk" karena petaninya tidak sabar.

Ketidaksabaran SBY memang sudah banyak kita lihat dari berbagai aspek, termasuk Ibas Yudhoyono adalah buah yang belum layak dijual, tetapi selama ini sudah dijajakan di DPR sebagai ketua fraksi, akibatnya fraksi tidak produktif.

Agus H Yudhoyono seharusnya dibiarkan SBY matang pohon, lalu suatu ketika di petik. AHY yang matang pohon, meskipun dia tidak sehebat SBY nanti, tetapi rasa AHY nya pasti terasa. Kalau sekarang, karena buah ini buah karbitan. Apapun yang dilakukan oleh AHY pastinya rasanya masih rasa SBY.

Lihatlah misalnya, koalisi yang akan dibangun Demokrat bersama Gerindra, PKS dan PAN saat ini, rasa SBY nya sangat kental. SBY masih ingin mendominasi, meski dia tidak mengakuinya. Lihatlah misalnya pertemuan SBY bersama Prabowo di Kuningan. Cara konfrensi pers nya, SBY style banget. Lalu kapan matangnya AHY? Kalau saja SBY masih selalu yang terdepan?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun