Puisi

Dilema

14 Januari 2018   07:29 Diperbarui: 14 Januari 2018   08:55 177 0 0

Di depan penghulu aku begitu yakin ma kamu,
kau istri pertama dan terakhirku,
dengan harapan kau wanita andalan satu-satunya,
cantik dan cerdas, sempurna ...
Kini aku berubah,
kau tak seperti yang kuharapkan,
kopi pagiku selalu telat di mejaku,
uang belanjaku tak sepadan pelayananmu,
penuh kepalsuan atas nafsumu.
Penuh keraguan kujemput sebuah harapan,
tuk goreskan legalitas baruku yang kedua kali,
dengan serangkaian janjiku tunjukkan kesan tulusku,
istri mudaku, kau pasti tersiksa menantiku,
marah dan cemburu pasti bakar hatimu,
sewaktu-waktu kau kan cabik-cabik muka dan mulutku,
Tuhan pun pasti geram melihat dilema ini,
tapi apa ada daya, aku cuma jasad penuh belatung-belatung kesombongan.


(Solo, di pinggiran sungai bengawan solo, 14 Jan '17, 07:07 WIB)