Mohon tunggu...
Thomas Panji
Thomas Panji Mohon Tunggu... Mahasiswa

Berusaha dengan sebaik mungkin

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Mencari "Vaksin" untuk Hoaks Corona

8 Juli 2020   08:52 Diperbarui: 8 Juli 2020   21:39 240 5 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mencari "Vaksin" untuk Hoaks Corona
ilustrasi hoaks mengenai corona. (sumber: shutterstock via kompas.com)

Corona sebagai virus memang sangat berbahaya. Namun, infodemik ternyata jauh lebih berbahaya ketimbang corona.

Era tahun 1960-an, tokoh besar dunia Levi C. Finch dan Robert W. Taylor mengubah cara kita berkomunikasi dan membangun relasi sosial. Penemuannya, yaitu internet, mengubah banyak bentuk dalam aspek kehidupan di sekitar kita. Marshall Mcluhan dalam bukunya The Global Village: Transformations in World Life and Media in the 21st Century (1989), menyebutkan di masa depan nanti manusia akan mampu membuat sebuah “perkampungan global” atau “global village”.

Karena internet bisa menciptakan sebuah sistem konektivitas tanpa batas yang membuat semua orang bisa mengakses banyak hal, mulai dari berita; hiburan; perkembangan bisnis; musik hingga info mengenai kesehatan. Sebagai contoh, salah satu bentuk global village yang bisa kita temukan dan paling dekat dengan kehidupan kita adalah grup Whatsapp keluarga.

Dalam perkembangannya, grup Whatsapp keluarga telah bertransformasi dari grup silaturahmi menjadi forum diskusi. Transformasi ini dipengaruhi berbagai isu yang sedang berkembang di media yang kemudian menjadi sebuah komoditas obrolan. Namun, transformasi ini justru mendatangkan hal buruk, yakni bermunculannya hoax yang di dapat dari berbagai pesan forward tanpa melalui proses verifikasi

Sebuah artikel berita yang diterbitkan Tirto.id (13/5/2019), menyebutkan meningkatnya usia seseorang akan sangat mempengaruhi tingkat kepercayaan terhadap sebuah arus informasi. Data menunjukkan sebesar 56,64% untuk usia 36-45 tahun dan 66,67% untuk usia >45 tahun. 

Ilustrasi mengenai Infodemik | europeangeneration
Ilustrasi mengenai Infodemik | europeangeneration

Korelasi antara peningkatan umur dan kepercayaan ini, kemudian juga berpengaruh ke tindakan untuk membagikan berita dari satu grup whatsapp ke grup yang lain. Prosentasenya masih didominasi oleh orang tua, yakni sebesar 39,85% untuk usia 36-45 tahun dan 46% untuk usia >45 tahun.

Data diatas menggambarkan Whatsapp keluarga dapat menjadi sebuah tempat yang sangat rawan bagi penyebaran hoax karena sumber beritanya tidak melalui proses verifikasi yang kuat. Fenomena ini jelas akan sangat mengganggu dan berbahaya bagi semua orang, apalagi di tengah situasi pandemi Covid-19 seperti saat ini, karena bisa menimbulkan berbagai reaksi negatif yang justru dapat semakin memperparah keadaan.

Selain itu, penyebaran berita hoax mengenai Covid-19 bisa menjadi salah satu tempat yang sempurna bagi berkembangnya sebuah varian virus baru yang bisa jadi jauh lebih berbahaya dan ganas ketimbang Covid-19 itu sendiri. Sejumlah pakar komunikasi menyebutnya fenomena ini sebagai infodemik atau informasi hoax mengenai penyakit dan pandemi seperti virus corona. Lalu, bagaimana dan dengan cara apa kita dapat “memvaksinasi” infodemik?

Infodemik secara sederhana dapat dimengerti sebagai bentuk misinformasi dan disinformasi dari berita mengenai Covid-19 yang saat ini sedang menjadi pandemi. Menurut Sabrina Weiss dalam artikel Inside the infodemic: Coronavirus in the age of wellness (newstatesman.com, 2020), infodemik adalah kesalahan informasi yang tersebar melalui jaringan online mengenai pemberitaan virus corona (Covid-19) yang sering menyajikan berbagai rangkaian klaim dan kepalsuan hingga dapat menimbulkan efek ketakutan bagi masyarakat global.

WHO yang menjadi aktor utama dalam usahanya untuk menyudahi situasi pandemi ini, mengakui bahwa infodemik akan membuat semua orang menjadi bingung untuk bisa mendapatkan informasi yang kredibel mengenai penyebaran virus dan bagaimana cara melawannya. Andrew Pattison, manajer solusi bisnis digital untuk WHO (World Health Organization) mengklaim, informasi palsu mengenai Covid-19 menyebar jauh lebih cepat dari pada virus corona itu sendiri (Thomas, 2020).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x