Mohon tunggu...
Thomas Je
Thomas Je Mohon Tunggu... Menulis yang ingin ditulis

There's no Superman.....\r\n\r\n...menulis yang ingin ditulis....

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Sang Rektor Tidak Tahu Kalimat Ini Majas Satire?

18 Februari 2020   07:35 Diperbarui: 18 Februari 2020   07:40 797 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sang Rektor Tidak Tahu Kalimat Ini Majas Satire?
tribuntimur

Baru-baru ini kita dihebohkan dengan berita tentang seorang dosen di Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang dinonaktifkan oleh Rektornya. Penyebabnya adalah unggahan di status facebook sang dosen, Sucipto Hadi Purnomo yang dianggap menghina presiden sebagai simbol negara. Postingan tanggal 10 Juni 2019 tersebut dilakukannya 2 bulan setelah pilpres dan berbunyi seperti kalimat menyindir atau satire.

"Penghasilan anak-anak saya menurun drastis tahun ini. Apakah Ini Efek Jokowi yang terlalu asyik dengan Jan Ethes?" ini adalah postingan yang ia tulis di wall facebook pribadinya.

Satire adalah gaya bahasa untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang. Satire biasanya disampaikan dalam bentuk ironi, sarkasme, atau parodi. Gaya bahasa satire memang tidak mudah. Tidak mudah dilakukan dan tidak mudah dicerna. Butuh kecerdasan lebih, baik bagi si pembuat maupun bagi si penerima. 

Kalimat yang diposting sang dosen itu memang ambigu, lumayan sulit untuk diterima sebagai sebuah satire apalagi sarkasme. Terlalu datar dan seperti dibuat dengan sungguh-sungguh. Jadi tidak heranlah kalau banyak orang yang tidak paham kalau kalimat itu adalah satire. 

Padahal kalau mau diperhatikan lebih lanjut, kalimat ini dibuat untuk menyindir orang-orang yang selalu menyalahkan Presiden Jokowi jika ada peristiwa apapun yang tidak menguntungkan. Pak Dosen ini mengatakan bahwa memang tujuannya untuk itu. Kenyataannya memang anak-anaknya mengalami penurunan pendapatan salam tempel dari saudara-saudaranya saat Lebaran.

Sudah mahfum bahwa tiap Lebaran, biasanya anak-anak akan mendapatkan sangu/salam tempel/angpao dari Omnya, Pakdhe, Kakek, Nenek dan saudara tua lainnya. Menurut sang dosen, memang ada penurunan perolehan sangu Lebaran anak-anaknya. Maka dengan santaipun dia posting status di atas, sekali lagi dengan bahasa satire yang ternyata berbuntut panjang.

Sang Rektor Unnes mengatakan bahwa pihaknya tidak mentoleransi setiap unggahan di media sosial yang dilakukan oleh dosen, tenaga kependidikan, maupun mahasiswa di lingkungan kampus yang dipimpinnya, yang menghina simbol NKRI dan kepala negara. Pasalnya, ketentuan terkait hal itu diatur dalam UU ITE dan RKUHP dengan ancaman hukuman pidana. 

catatanpringadi.com
catatanpringadi.com
Unnes melalui tugas pokoknya Tridharma perguruan tinggi memiliki peran dalam meneguhkan peradaban bangsa Indonesia, sebutnya. Sebagai perguruan tinggi negeri, Unnes memiliki kewajiban untuk menjaga NKRI dan Presiden sebagai simbol negara. Jadi kalau ada dosen yang mengunggah konten menghina presiden berarti yang bersangkutan tidak beradab. Karena itu, melalui Keputusan Rektor UNNES Nomor B/167/UN37/HK/2020, dosen tersebut dibebaskan sementara dari tugas jabatan dosen untuk menjalani pemeriksaan yang lebih intensif.

Belakangan diketahui bahwa ternyata sang rektor pernah bermasalah terkait kasus plagiasi yang membelitnya. Sebelumnya dia pernah diduga menjiplak makalah mahasiswanya yang dia kirim ke jurnal bahasa. Yang terakhir dan cukup berat adalah disertasinya diduga plagiat demi meraih gelar doktor linguistik di Universitas Gadjah Mada. 

Sang dosen Sucipto adalah anggota Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) Kementerian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) yang kini telah menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Dan terakhir sebagai aktivis EKA, dirinya hadir sebagai saksi di Polda Jawa Tengah berkait kasus plagiasi yang diduga membelit Rektor Unnes.

Mungkinkah ini menjadi penyebab kalimat satire berubah menjadi pelanggaran UU ITE terhadap simbol negara a.k.a Presiden Republik Indonesia? Hanya Tuhan dan Jan Ethes yang tahu.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x