Mohon tunggu...
Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Lingkungan Belajar yang Ramah dan Bersahabat

28 Agustus 2020   09:46 Diperbarui: 28 Agustus 2020   09:50 79 3 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Lingkungan Belajar yang Ramah dan Bersahabat
Photo : Interaksi Murid - Guru SMP Citra Berkat CitraLand, Surabaya/ Doc. pribadi

"Sekolah masa depan tidak akan seperti sekolah-sekolah yang pernah ada sebelumnya. (Mungkin) kita akan menggunakan seluruh komunitas sebagai lingkungan belajar" - Anne Taylor @ Creating the Future

DALAM proses pendampingan tumbuhkembang seorang anak, berlaku prinsip pepatah Afrika, 'Dibutuhkan orang sekampung untuk mendidik seorang anak.' Jangankan mendidik - yang prosesnya sepanjang hayat; untuk dapat menumbuhkembangkan kegemaran belajar dalam diri seseorang saja dibutuhkan proses waktu yang tidak sebentar, banyak faktor dan pihak yang perlu dilibatkan.

Perlu diingat dan disadari bersama bahwa kegemaran belajar perlu dibiasakan dan dilatihkan sejak dini; mengingat hal tersebut tidaklah secara alamiah dan otomatis dimiliki oleh seseorang. 

Idealnya, melalui proses pembelajaran yang by design, sosok guru tidak sekedar melakukan transfer pengetahuan, namun perlu diperlengkapi dengan kompetensi dan keterampilan sebagai motivator dan komunikator handal guna menumbuhkan kegemaran belajar dalam diri para murid melalui proses tegur sapa yang asertif; ramah dan bersahabat.

Pertanyaan reflektif yang dirasakan penting dan mendesak untuk dikemukakan ke ruang publik terkait dengan proses, suasana, dan esensi dari belajar yang dialami dan dirasakan oleh para murid, yakni "Apakah proses belajar dalam menimba ilmu dan pengetahuan yang berlangsung dan dialami di rumah, sekolah, dan di masyarakat terasa membahagiakan; ramah dan bersahabat dalam menumbuhkembangkan setiap potensi dari mereka?"

Jawaban atas kesemua pertanyaan reflektif tersebut bisa ringkas, bisa pula kompleks; tergantung dari kebeningan batin dan niatan dari si penjawab. Namun yang jelas, dibutuhkan kebesaran dan kerendahan hati untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan arif dan bijaksana guna menemukan solusi atas problematika terkait kualitas pembelajaran dan pendidikan di negeri ini.

Penulis dalam opini, "Suasana Belajar yang Menggembirakan dan Mencerdaskan" (Kompasiana, 26 Agustus 2020), menuliskan bahwa proses belajar akan berdampak bila prosesnya berlangsung dalam suasana yang menggembirakan dan mencerdaskan. Senada dengan pendapat Peter Kline dalam 'The Everyday Jenius', yang menyatakan bahwa belajar akan efektif jika dilakukan dalam suasana menyenangkan..

Melalui iklim lingkungan belajar yang sehat; nampak melalui terciptanya suasana belajar yang kondusif; riang dan gembira, didukung dengan atmosfir pola komunikasi antara murid-guru-orangtua yang ramah dan bersahabat sebagai mitra dalam berpikir, rekan bertindak, dan kawan berbincang yang setara dan sederajat diharapkan proses pembelajaran dan pendidikan dapat bertumbuh dan berkembang dengan optimal.

Belajar dari anak

Najelaa Shibab (2018) dalam bukunya yang berjudul, 'Semua Murid Semua Guru 2' mengatakan bahwa dalam hubungan belajar-mengajar, terdapat perbedaan antara guru sebagai pengajar dan sebagai fasilitator. Pembeda utamanya adalah pada paradigmannya.

Sebagai pengajar, peran guru adalah memberikan ilmu dan pengetahuan. Sedang sebagai fasilitator, guru turut belajar dari anak; bahwa anak hadir di ruang belajar untuk mengelola dan mengendalikan dirinya sendiri dalam proses belajar. Anak turut terlibat dalam menentukan tujuan belajar dan diberdayakan untuk mengekspresikan cara yang dipilihnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan