Mohon tunggu...
Theresia Sumiyati
Theresia Sumiyati Mohon Tunggu... Guru - https://www.kompasiana.com/theresiasumiyati8117

Saya seorang ibu dengan 2 orang anak laki-laki. Senang membaca, menulis, dan bermain musik. Hidup terasa lebih indah dengan adanya bacaan, tulisan, dan musik.

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Cerita di Balik Sepeda

26 Juli 2022   16:47 Diperbarui: 26 Juli 2022   16:56 313
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerita di Balik Sepeda

Sepeda, alat transpotasi beroda dua ini memang sangat istimewa. Di masa pandemi sepeda menjadi ngetop. Banyak orang dari kalangan menengah ke atas menjadikan alat transportasi ini untuk memenuhi beberapa kebutuhan. Antara lain menjadi sarana untuk olahraga.

Kesehatan dan kebugaran tubuh sangat diperlukan terutama pada saat virus tersebar ke mana-mana. Imun tubuh harus tetap terjaga agar tidak mudah tertular penyakit. Pada saat itu bermunculan komunitas-komunitas pecinta sepeda. 

Pada waktu tertentu mereka berkumpul dan melakukan perjalanan bersama. Gowes, istilah yang mereka pakai. Mereka akan menempuh jarak yang sangat panjang sehingga memerlukan pengawalan dari petugas keamaanan agar semuanya baik-baik saja. 

Pada saat itulah harga sepeda melambung tinggi. Akan tetapi setinggi apa pun barang yang satu ini tetap dibeli. Benda tersebut juga menjadi sarana untuk  berkumpul dengan anggota komunitasnya.

Orang nomor satu di Indonesia selalu memberikan sepeda kepada orang-orang dari berbagai kalangan dengan catatan bisa menjawab pertanyaan dari beliau. 

Maka tak heran banyak yang mengharapkan ditanya dan bisa menjawab pertanyaan Bapak Presiden sehingga mendapatkan hadiah tersebut. Hadiah sepeda itu akan menjadi barang yang sangat istimewa, karena berasal dari  bukan sembarang orang. Sebuah kebanggaan tersendiri bisa mendapatkannya.

Rakyat kecil menggunakan sepeda untuk mencari nafkah sehari-hari. Sering terlihat di jalan raya seorang bapak menuntun sepeda ke mana-mana. Belia tak pernah menaiki sepeda itu. Tempat duduknya direlakan sebagai tempat dagangannya yaitu pisang. Bapak tersebut menaruh harapan hidupnya kepada sepeda itu.

Di sebuah taman tersedia penyewaan sepeda dari bermacam merk dan ukuran. Cara penyewaannya pun beragam. Ada yang per jam, ada juga yang sepuasnya dengan patokan harga tertentu.

Sepeda, alat transportasi sangat sederhana. Didayung, dan menjaga keseimbangan tubuh, maka sepeda akan membawa ke mana pun pengendaranya suka. Akan tetapi, tak sesederhana itu cara mengendalikannya. Ada orang yang sama sekali tak bisa mengendarai sepeda. Antara lain karena tak bisa menjaga keseimbangan. Tentu juga harus tersedia tenaga yang cukup untuk menjalankan sepeda tersebut.

Tulang lutut yang mulai rapuh tak akan mampu mendayung sepeda dengan baik.  Selain itu ukuran sepeda yang dipakai harus sesuai dengan ukuran tubuh si pemakai. Sepeda yang tinggi dan besar tak akan cocok bagi mereka yang badan pendek dan kecil. Hal itu perlu disadari oleh si pemakai, karena akan menimbulkan bahaya. Kemungkinan terjatuh akan lebih besar.

Seperti saya alami, yang bertubuh semampai (semeter tak sampai katanya). Saya menaiki sepeda yang tinggi, tak sesuai dengan ukuran tubuh. Maka yang terjadi sudah bisa ditebak, saya terjatuh bersama sepeda itu. Wow ... mantap jatuhnya. Posisinya rata dengan tanah, tertelungkup. Baju kotor, dan bibir njonor. Walaupun begitu yang melihat peristiwa ini  tetap bisa menemukan keberuntungan saya.

Untung tidak jatuh di jalan raya yang ramai.

Untung jatuhnya di tanah yang lembut.

Untung masih bisa bangun lagi.

Untung tidak menabrak orang lain.

Untung tidak membentur benda keras.

Untung tidak terluka.

Ternyata, untungnya lebih banyak dibandingkan dengan satu kemalangan yang saya alami. Manusia memang lebih banyak mengalami suka daripada duka. Namun, sering kali kita manusia menyepelekan hal-hal yang seharusnya pantas disyukuri (kata Cynthia Ozick)  dalam buku "Kekuatan Berpikri Positif". Karena kita fokus dengan kemalangan yang dialami, sehingga keberuntungan yang diterima tak terlihat.

Tuhan menyediakan 86.400 detik perhari, untuk manusia menjalani hidupnya, antara lain bersyukur. Sudahkah kita lakukan?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun