Mohon tunggu...
Theodorus BM
Theodorus BM Mohon Tunggu... Writer

Seorang pemuda yang senang menyusun cerita dan sejarah IG: @theobenhard email: theo_marbun@yahoo.com wattpad: @theobenhard

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

The Poor (Cerpen Rohani)

14 Juni 2021   09:50 Diperbarui: 14 Juni 2021   10:02 197 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
The Poor (Cerpen Rohani)
pjstar.com

THE POOR (Si Miskin)

Sore ini semua terjadi di luar perkiraan. Dagangan termbikar dan karpetku hanya laku sedikit, hanya empat biji, alhasil hanya dapat uang delapan peser saja. Ah, sudahlah, tidak mengapa, yang penting selalu bersyukur atas nikmat Tuhan di dalam hidup.

Biasanya di sepanjang jalan pulang si periang Lolita akan menyambut dan menemaniku dengan sifatnya yang menyenangkan. Namun, kali ini ia tidak ada. Mungkin ia sedang bermain dengan teman -- temannya.

Bapak dan ibunyalah yang membuat tembikar dan karpet ini, sedangkan akulah yang menjualnya. Keuntungan kami bagi -- bagi. Walau tidak banyak, tapi sudah cukup untuk keperluanku sehari -- hari. Ya, lagipula, untuk seorang janda tua sepertiku, apa lagi yang menjadi kebutuhanku?

Tentang diriku? Ingin mengetahui tentang diriku? Tidak perlu. Aku hanya seorang janda tua sederhana yang tinggal di sebuah petak pinggiran Yerusalem, dikelilingi oleh tetangga -- tetangga yang menyenangkan. Hidup kami bukanlah hidup yang rumit. Kebanyakan menjadi pedagang di pasar, atau pekerja kebun. Dan nelayan tentunya, walau laut terletak cukup jauh dari tempatku ini.

Suamiku meninggal tahun lalu, dan kadang -- kadang aku masih terbayang wajah manisnya itu. Ada sesuatu yang hilang, ada senyum yang hilang ketika aku berangkat ke pasar, namun aku hanya bisa pasrah dan berserah kepada Yang Mahakuasa. Aku yakin Tuhan memberikan yang terbaik bagi kepunyaan -- Nya.

Orang -- orang mengatakan aku memiliki sifat religius. Namun, percayalah, sifat itu membantuku untuk menjalani kehidupan sehari -- hari. Ketika mengetahui bahwa daganganku tidak laku, aku percaya bahwa Tuhan akan memenuhi kebutuhan umat -- Nya. Ketika mengetahui bahwa pasokan tanah liat mandek, membuat bapak dan ibu Lolita tidak bisa membuat tembikar dan tikar, aku bisa menghibur mereka.

Ketika mengetahui banjir tiba dan menghanyutkan harta benda kami, kami bisa saling membantu dan tertawa. Ketika mengetahui orang Romawi menutup pasar, kami bisa berdoa dan menyaksikan bagaimana mukjizat Tuhan terjadi dengan pasar yang terbuka kembali. Ketika mengetahui bahwa anak -- anakku mungkin sudah melupakan ibunya di tempat ini, hatiku hanya bisa bersukacita di hadapan Tuhan.

Yah, begitulah. Orang -- orang menyebutku Tamim si janda sederhana. Dan kini aku melihat Lolita sedang menangis di depan rumahnya. Di sampingnya ada sebuah tembikar yang pecah.

"Ada apa, Lolita, mengapa engkau menangis?"

"Ti, tidak, tidak mengapa, nek."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x