Mohon tunggu...
Theodorus BM
Theodorus BM Mohon Tunggu... Writer

Seorang pemuda yang senang menyusun cerita dan sejarah IG: @theobenhard email: theo_marbun@yahoo.com wattpad: @theobenhard

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

The Power of Faith

13 Juli 2020   09:48 Diperbarui: 13 Juli 2020   09:56 94 2 0 Mohon Tunggu...

THE POWER OF FAITH

Aku tertawa dalam hati ketika mendengar kakak pembina sermon pemuda gereja, Andre,  membacakan ayat dari Alkitab tentang iman. "Ibrani 11:1. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." Begitu ujarnya. Aku adalah orang logis. Scientifik. Bagaimana mungkin mengharapkan sesuatu dari yang belum ada atau tidak terlihat?

Selebihnya dalam sermon itu, aku bersikap suam -- suam kuku. Perhatianku melayang -- layang di tugas kuliahku tentang fisika kuantum. Ya, walaupun masih tingkat awal, namun itu jauh lebih menarik daripada mempelajari tentang Alkitab. Ilmu fisik mengajarkan kepastian, sedangkan kepercayaan mengajarkan...percaya. Sejujurnya aku pun malas berada di tempat ini, di ruang pemuda Gereja St. Thomas. Satu -- satunya alasanku berada di sini adalah untuk melihat senyuman seorang bidadari yang berada di seberangku sekarang. Indri namanya. Dan sepertinya ia pun membalas perhatianku.

Sebenarnya aku bukan orang yang anti dengan ajaran kepercayaan. Aku bersikap netral. Orang bebas berpendapat atau beropini apa saja, selama itu tidak merugikan orang lain. Namun bagiku untuk mempelajari bahwa ada ilmu cenayang di luar ilmu pasti, sulit untuk diterima logika. Misalnya saja apa yang dikatakan oleh Andre sekarang. Jika kita beriman sebesar biji saja, maka kita bisa memindahkan gunung. Bukan orang sembarangan, malah Yesus sendiri yang mengatakan ini! Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?

Aku menganggap sisa sermon hanyalah sebagai sebuah khayalan atau fantasi belaka. Indri berkali -- kali memerhatikan diriku, sehingga aku berpura -- pura mendengar perkataan Andre. Kini tibalah sesi diskusi. Seseorang bernama Erlangga melemparkan diskusi tentang kelanjutan pengertian iman di Ibrani 11 ayat 1 tadi. Ayat -- ayat selanjutnya berkisah tentang saksi -- saksi iman. Banyak tokoh -- tokoh besar Alkitab. Ada Nuh, Abraham, Yusuf, Ishak, dan Musa. Orang -- orang ini bertindak berdasarkan iman. Mereka pun menerima apa yang dijanjikan Allah sebagai ganjaran dari iman mereka.

Misalnya Abraham. Di tengah ketidakpastian, ia diminta untuk meninggalkan tanah kelahirannya dan menuju yang tidak diketahui. Ia menuruti kemauan Allah, dan mendapatkan tanah yang lebih baik dan subur. Contoh kedua, masih dari Abraham. Ia memiliki iman bahwa di usia seratusnya janji Allah tentang keturunan masih akan berlaku padanya. Sementara istrinya Sara sudah menertawakan Abraham, namun kakek ini masih percaya kepada Allah. Ia mendapatkan ganjaran dengan lahirnya Ishak, yang kemudian menjadi sebuah cikal bakal bangsa besar.

Apa pikiran pertamaku tentang hal -- hal ini? Tentu saja, tidak ada bukti saintifik, tidak ada bukti sejarah. Bisa saja semuanya hanya karangan belaka. Aku kadang benci sifatku, namun begitulah adanya. Tetapi bukan itulah yang didiskusikan oleh Erlangga. Ia merasa bahwa jika kita beriman, maka hal baik akan datang kepada kita. Apa pun permasalahan yang kita hadapi. Ia melempar topik diskusi ini. Semua peserta sermon menyetujui, bahkan Indri berbagi kisah tentang kucingnya yang hilang seminggu yang lalu. Ia berdoa, berdoa, dan berdoa. Mukjizat terjadi, kucing kesayangannya sudah kembali, tepat ketika ia hendak berangkat sore ini ke gereja. Luar biasa.

Aku tidak fokus lagi pada sisa diskusi. Orang -- orang Kristen ini menceritakan sebuah fenomena bernama kebetulan. Bisa saja kucing Indri kembali karena ingat jalan pulang, bukan karena doa. Bisa saja uang paman Kelvin hanya terselip di sela -- sela sofa. Bisa saja aliran listrik tiba -- tiba nyala kembali ketika kebaktian hendak dilaksanakan minggu lalu. Bisa saja, bisa saja, bisa saja.

Aku lega ketika akhirnya sermon pemuda selesai, saat Andre berdoa penutup. Masih dilanjut dengan pengumuman -- pengumuman singkat tidak penting. Di samping, pemuda -- pemuda lain sudah siap -- siap beranjak. Namun, Indri menghampiriku.

"Tommy, kamu ikut kan?"

"Ikut apa?" ujarku bingung.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x