Film

Film Deadpool 2 (Memang) Film Keluarga

8 Juni 2018   10:22 Diperbarui: 8 Juni 2018   10:32 387 0 0
Film Deadpool 2 (Memang) Film Keluarga
www.inverse.com

Film yang dirilis tanggal 15 Mei 2018 yang lalu ini adalah sebuah film keluarga, jika beberapa adegan ciuman dan pembunuhan sadis dihilangkan. Meskipun terdapat adegan-adegan yang tidak cocok untuk dikonsumsi oleh penonton yang berusia di bawah 17 tahun, tanpa bimbingan orang tua, ada beberapa hal yang menjadi alasan kuat mengapa film ini disebut sebagai film keluarga. 

Tokok Deadpool yang dimainkan oleh Ryan Reynolds sendiri, dengan cara yang mengundang gelak tawa menyebut kelayakan film ini untuk ditonton bersama keluarga. Berikut hal-hal yang perlu disimak, bagi mereka yang masih mengira-ngira bagaimana film ini sejatinya mengajarkan nilai-nilai dalam keluarga: 

1. Kehadiran tokok anak dalam film 

Disebutkan oleh kekasih Deapool, Vanessa: "Kids give us a chance to be better than we used to be." Dengan masa lalu Deadpool yang menyedihkan sebagai seorang anak, maka wajarlah jika ia merasa tidak mampu menjadi ayah yang baik bagi anaknya kelak. Ucapan Vanessa tentang kesempatan yang selalu kita miliki untuk menjadi pribadi yang lebih baik, apalagi jika diperuntukkan untuk seorang anak, adalah pembukaan bagi petualangan Deadpool di sekuel yang ke-2 ini. 

Tokoh anak ini (Firefist) digambarkan sebagai pribadi yang seringkali mengalami perundungan (bullying). Dengan badannya yang tambun dan memiliki kemampuan yang tidak normal untuk dimiliki oleh anak-anak seusianya, ia adalah gambaran sempurna ketakutan manusia akan penerimaan msyarakat. 

Ia juga merupakan apa-apa yang tidak ia miliki untuk dianggap pantas atau sempurna di hadapan orang lain kebanyakan. Dengan ciri-cirinya yang demikian, dan kehampaan cinta yang ia rasakan, dia berubah menjadi ironi tokoh jahat yang tidak percaya akan ada orang yang mencintai dia apa adanya. Familiar dengan hal ini? 

Masa remaja bisa saja menjadi saat paling sulit bagi seorang anak. Di masa ini, dia perlu tahu siapa dirinya. Tidak perlu bergantung dengan penilaian kawan-kawannya. Cukuplah percaya kepada dirinya sendiri - bahwa bagaimanapun keadaannya, ia pantas diperlakukan baik. Tak perlu menjadi pintar untuk menjadi pantas disayangi, dan tak perlu pula berpenampilan sedemikian rupa hanya untuk bisa berkawan. Ada baiknya bagi orang tua yang memiliki anak usia remaja untuk mulai bertanya, "bagaimana perasaanmu belakangan ini?" Di usia remaja, bukan lagi susu formula yang dibutuhkan, melainkan penghargaan, cinta dan kasih sayang. 

2. Deadpool sebagai gambaran sempurna kasih sayang orang tua kepada anak 

www.stuff.co.nz
www.stuff.co.nz
Setelah menonton film ini hingga akhir, mungkin sebagian penonton berkesimpulan bahwa Deadpool telah sukses menjalan peran sebagai orang tua bagi Firefist. 

Hubungan keluarga bisa jadi rumit, serumit hubungan Deadpool dan Firefist. Firefist yang pernah berharap kepada Deadpool bahwa ia akan selalu menemaninya harus menelan kecewa, ketika Deadpool menyuruhnya untuk menjauh darinya. Karena ketidakmampuannya untuk melindungi Firefist saat itu, Deadpool mengatakan dengan tegas bahwa Firefist perlu mencari sosok lain untuk menjaganya. Bagi Firefist, perkataan Deadpool ini seperti pembenaran bahwa tak ada yang mau menyayanginya, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menjadi seseorang yang jahat. 

Tersadar dengan bagaimana perkataannya membuat Firefist menjadi sosok yang jahat, dan teringat akan janjinya kepada mendiang kekasihnya, Deadpool memutuskan untuk 'menyelamatkan' Firefist. Ada adegan dimana Firefist mencela Deadpool dan mengungkapkan ketidakpercayaannya terhadap ungkapan kasih sayang Deadpool kepadanya. Adegan ini pun berlanjut dengan  usaha Firefist untuk menjauhkan Deadpool darinya. Kesakitan dengan serangan dari Firefist, Deadpool tetap ingin menunjukkan bahwa ia menyayanginya. Deadpool pun rela untuk tewas, asal Firefist percaya kepadanya, bahwa ia sungguh menyayangi Firefist. 

Beberapa adegan terakhir ini mengingatkan bahwa Deadpool ini memang bukan film heroik, ini memang film keluarga. Setiap dari kita, orang tua kita atau siapapun dia yang tetap mencintai sekalipun yang kita cintai ini memberi beribu alasan untuk pergi. Mencintai sesungguhnya adalah mencintai dia yang tak dapat dicintai. Memberi, jika dihargai adalah berkah. Sedang memberi namun tak mengharap kembali, siapa yang bisa lakukan itu jika bukan kedua orang tua kita? 

3. Akhir cerita yang membahagiakan

www.express.co.uk
www.express.co.uk
Seperti film keluarga kebanyakan, film ini berakhir bahagia. Dengan Deadpool yang hidup kembali dan keluarga yang saling menyayangi, yang akhirnya dimiliki oleh Firefist. Selalu ada kesempatan ke-dua untuk keluarga, mungkin itu yang ingin disampaikan oleh penulis dan sutradara film ini. 

Tiap pecinta adalah pahlawan bagi ia yang dicintai, dan hanya jika ada kesempatan ke-dua, akhir bahagia dapat dirasakan. Seringkali pelajaran paling berharga tentang cinta, setelah sekian waktu yang begitu panjang, atau malah setelah kematian memisahkan dia yang mencintai dan dicintai. 

Selagi masih ada waktu dan kesempatan, lihatlah dia yang mencintaimu, sekalipun beribu alasan kau berikan kepadanya untuk berhenti mencintaimu. Ucapkan terima kasih, walau mungkin sulit. Setidaknya usaha untuk membuka hatimu kepada cinta pernah kau lakukan. Tak ada sesal, jika ini untuk dia yang benar-benar menyayangi dan mencintaimu.