Mohon tunggu...
Thamrin Dahlan
Thamrin Dahlan Mohon Tunggu... Guru - Saya seorang Purnawirawan Polri. Saat ini aktif memberikan kuliah. Profesi Jurnalis, Penulis produktif telah menerbitkan 24 buku. Organisasi ILUNI Pasca Sarjana Universitas Indonesia.

Mott Menulis Sharing, connecting on rainbow. Pena Sehat Pena Kawan Pena Saran

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Penulis Nafas Pendek

27 Juni 2021   16:34 Diperbarui: 27 Juni 2021   16:37 79 8 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Penulis Nafas Pendek
Dokumentasi pribadi

Nafas Pendek

Catatan Thamrin Dahlan

Menulis novel ibarat pelari marathon. Nafasnya panjang sampai di finish. Penulis cerpen seperti pelari jarak pendek. Sangat cepat namun nafas tersengal.

Awak lebih suka menulis humaniora gerak kehidupan manusia penuh hikmah. Meliput gerak makhluk di alam semesta. Inilah sumber inspirasi nan tak pernah habis. Terlatih dalam kepekaan menyaksikan segala sesuatu yang menghampiri diri untuk dijadikan tulisan.

Dan pula awak hobby menulis fiksi berupa pantun dam puisi. Sesungguhnya curahan isi hati nan paling dalam lebih tepat di torehkan dalam bentuk fiksi.

Pantun pelembut hati. Saling berbalas pantun seyogyanya menghibur hati. Belum ditemukan bait bait pantun saling mencaci apalagi benci.membenci. Acap acaplah kawan menulis pantun atau paling tidak membaca pantun. Rasa jenaka untaian kata yang bukan saja enak dibaca, mendayu pula didengar dalam langgam melayu.

Terkadang awak tergoda menulis opini. Keterpaksaan itu ketika menyaksikan sesuatu peristiwa ketidakadilan melewati batas berdasarkan versi TD. Pekan lalu posting opini terkait huru hara 3 periode. Bersebab rasa kesel bin sebel jadilah artikel bertajuk "Jangan ganggu konsentrasi Presiden Jokowi. Stop wacana 3 Periode"

Tentu saja menorehkan opini di bidang politik tetap mempedomani motto menulis di media sosial. 3 pena : panasehat penakawan dan penasaran tak menghujat dan tak lupa sertakan solusi. InshaAllah amanlah dari fitnah hoax dan resiko kreatif seorang jurnalis.

Lebih jauh dari pada itu bergiat di sosial media hendaknya mengedepankan keutamaan niat berbagi. Berbagi kebaikan saling menyapa dan mendoakan.

Ibarat melempar bola kasti kedinding maka bola itu akan kembali ke diri. Itulah aksi reaksi bersilaturahmi baik berupa tatap muka maupun via media sosial.Tersirat sedemikian banyak kebahagiaan ketika kita menabur benih kebaikan.

Kini awak masih bernafas pendek. Baru mampu menulis reportase dan fiksi terkadang opini juga menulis cerpen. Nantilah berlatih keras dulu agar suatu ketika mampu bernafas panjang. Mudah mudahan terbit juga sebuah novel kreasi TD.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN