Mohon tunggu...
Thamrin Dahlan
Thamrin Dahlan Mohon Tunggu... Saya seorang Purnawirawan Polri. Saat ini aktif memberikan kuliah. Profesi Jurnalis, Penulis produktif telah menerbitkan 24 buku. Organisasi ILUNI Pasca Sarjana Universitas Indonesia.

Mott Menulis Sharing, connecting on rainbow. Pena Sehat Pena Kawan Pena Saran

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Sekolahlah Sampai Habis

11 Maret 2019   20:42 Diperbarui: 11 Maret 2019   21:41 24 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sekolahlah Sampai Habis
ub3-5c867540677ffb3df06dc213.jpg

Dokumen Pribadi

Belajar dan belajar sampai pintar. Ketika dilahirkan semua anak manusia adalah kertas kosong. Kertas itu ditulisi oleh orang tua selagi si bayi masih belum bisa bicara dan tidak paham sedang berada dimana.  Usia sekolah belajar tulis baca  di tingkat Sekolah Dasar.  Kertas  mulai diisi oleh dirinya sendiri walaupun sang ortu tetap berperan agar isi kertas tidak ada yang merah.

Belajarlah sampai tua.   Benarlah ungkapan nenek moyang "belajar dari buaian sampai liang lahat". Belajar tidak musti di kelas ada guru dan kawan kawan seangkatan.  Belajar di alam terkembang memiliki makna bahwa apapun yang dihadapi sesungguhnya adalah proses pembelajaran.  Tidak semua orang paham bahwa pembelajaran itu akan  melahirkan  ke arifan.

Itulah sebabnya 27 Februari 2019 awak bersungguh sungguh menghadiri Sidang Terbuka Program Doktoral dr. Rommy Sebastian, M. Kes. Universitas Merdeka Malang Jawa Timur sebagai salah satu  perguruan tinggi tertua tampaknya sangat konsisten dalam ikut mencerdaskan kehidupan bangsa.  DR. Rommy  Doktor bidang Ilmu Sosial ke 265 dan urutan ke 445 Doktor lulusan UnMer.

Sekolah DR Rommy sudah habis.  Tidak ada lagi pendidikan akademis setelah Sarjana Strata Doktoral.  Dapat dibayangkan berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencapai gelar Doktor. SD, SMP, SMA, Si, S2 dan S3 secara normal menghabiskan waktu 20 tahun.  Duirasi waktu cukup panjang apabila dibanding usia harapan hidup penduduk  Indonesia.  Artinya sepertiga  hidup dihabiskan di bangku sekolah.

ub2-5c867372ab12ae78d4310289.jpg
ub2-5c867372ab12ae78d4310289.jpg
Dokumen Pribadi

Awak cukup  bersyukur bisa mencapai pendidikan S2.  Pendidikan tidak linier dipaksakan sembari bekerja.  Untunglah semua pendidikan formal itu dibayai oleh bebarapa Yayasan. SD, SMP dan SMA awak mendapatkan bea siswa dari Yayasan IDA.   Kemudian ketika mengambil pendidikan D3 bea siswa diberikan oleh Yayasan UNI.

Lanjut kuliah S1 di Universitas Indonesia masih ada yayasan yang berbaik hati menyekolahkan melalui Bea Siswa Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional.   Masih semangat di usia  setengah abad awak memaksakan diri kuliah S2 Pasca Sarjana UI setelah diyakinkan ada bea siswa dari Yayasan ISTRI.  Bersyukur seluruh jenjang pendidikan sekolah tak berbayar dan ucapan terima kasih kepada Yayasan Ibu dan Ayah (IDA), Yayasan UNI, kakanda Husna Dahlan dan terakhir Istri tercinta mengelola kekuangan keluarga untuk membayar uang semesteran kuliah S2.

Setiba di kota Malang awak bertemu denbgan 2 orang cucu yang sedang kuliah di Universitas Brawijaya.  Voni  dan Ricko  mahasiawa semester 2 dan semeter 4  mengambil kuliah di Jurusan Ekonomi Bisnis.  Tak lain dan tak bukan ketika bertemu anak keponakan  memberikan motivasi agar mereka tetap semnagat menyelesaikan kulaih sampai mendapat gelar sarjana.

ub1-5c86751a6ddcae51191f9e54.jpg
ub1-5c86751a6ddcae51191f9e54.jpg
Dokumen Pribadi

Laiknya Datuk dan Cucu ketika menikmati Bakso Malang Asli disalah satu kedai, anak anak muda ini berkisah tentang sukaduka kuliah jauh dari orang tua.   Voni dan Ricko belajar mandiri karena ayah ibu bermukim di Bogor. Voni  putri ke 2 kemekanandan Idham Khalid sedangkan Rico putra ke - 2 Edy Darmansyah.  Mengapa memilih kota Malang tentu ada cerita tersendiri.  Satu hal pasti kuliah di Perguruan Tinggi Negeri selain biaya semester terjangkau juga ada kepastian bahwa Universitas terkreditasi A.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN