Mohon tunggu...
Thamrin Sonata
Thamrin Sonata Mohon Tunggu... Wiswasta

Penulis, Pembaca, Penerbit, Penonton, dan penyuka seni-budaya. Penebar literasi.

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Kalau KPU Diadu dengan Prabowo, Siapa Pemenangnya?

15 Mei 2019   10:19 Diperbarui: 15 Mei 2019   10:46 0 6 2 Mohon Tunggu...
Kalau KPU Diadu dengan Prabowo, Siapa Pemenangnya?
Komisioner KPU Wahyu Setiawan. Menantang adu data Pilpres. (foto: Kompas.com)

Pemilu, khususnya Pilpres 2019 punya narasi tersendiri. Terutama yang datang dari Kubu Paslon 02: Prabowo-Sandi. Sehari terakhir ini (14/5), klaim kemenangan kubu mereka turun dari kisaran 62 persen menjadi cukup 54 persen.

Saya akan menolak hasil Perhitungan suara KPU, sebut Prabowo di Hotel Sahid Jakarta dalam acara penting Kubu 02 itu.

Jelas. Juga menjadi narasi di ruang publik itu sah, boleh. Mengingat sudah bukan sekali saja Prabowo bersujud syukur menyatakan kemenangannya. Namun menolak hasil perhitungan KPU, bagaimana? Ini yang bisa membuat kondisi -- hatta ini bulan puasa -- menjadi ingar-bingar lagi. Bahkan Amien Rais sesepuh di Kubu 02 ini tetap akan turun ke jalan meski tak lagi menggunakan istilah people power.

KPU yang menjadi penyelenggara jalannya Pemilu dan sudah mendekati penghitungan secara keseluruhan, melalui Komisioner Wahyu Setiawan menyayangkan.  "Membangun narasi kecurangan di luar rapat pleno rekapitulasi justru dikhawatirkan akan memperkeruh nalar publik. Harusnya sampaikan saja di rapat pleno jika ada data yang berbeda," kata dia seperti dilansir KOMPAS. Com.

Dengan kondisi seperti ini, memang muncul frasa lumayan aneh. Setidaknya Kompas pun perlu membuat judul: "KPU Tantang BPN Prabowo-Sandi Adu Data di Pleno Rekapitulasi." Mengingat sikap Saksi Kubu 02 berbeda dengan BPN, terutama dalam acara di Hotel Sahid itu. Di sana menerima, di sisi ini menolak.

Pedebatan di ruang publik belum menemukan "jalannya". Entah hingga KPU tetap menyelesaikan dan mengumumkan pada 22 Mei, dan akan seperti apa Kubu Paslon 02 itu nantinya: "People power"? Jika 22 Mei masih pada bulan puasa, tak juga mampu meredam api panas khususnya Pilpres, kita akan terus dalam emosi politik yang bahasanya memang lain dengan bahasa qolbu.

Politik memang punya jalannya sendiri. Bahasanya yang khas. ***