Thamrin Sonata
Thamrin Sonata wiraswasta

Freelance writer

Selanjutnya

Tutup

Politik

Bumi Lancang Kuning Terguncang, Polda Riau Diserang, 4 Teroris Tewas

16 Mei 2018   14:43 Diperbarui: 16 Mei 2018   14:51 336 3 0
Bumi Lancang Kuning Terguncang, Polda Riau Diserang, 4 Teroris Tewas
Penyerangan terorir ke Markas Polda Riau. Mobil putih ditabrakkan ke pintu gerbang. Dan seorang Polisi gugur. Repro: Viva.co.id

Pintu gerbang Selatan Markas Polda Riau, sebenarnya agak tertutup. Dijaga ekstra daripada hari-hari biasa. Ini antisipasi pihak kepolisian dengan serangkaian serangan, terutama bom bunuh diri Surabaya dan dilanjutkan penyerangan ke Mapolresta Surabaya, Jawa Timur. 

Namun sebuah mobil Avanza putih nekad masuk lewa pintu samping  Markas  Kepolisian Daerah Riau di Jalan Gajah Mada, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau.

Lalu terjadilah insiden, di mana empat orang keluar dari mobil dan menyerang aparat yang berjaga. Dengan senjata tajam, bukan bom atau senjata api. Polisi pun tak tinggal diam. Sehingga terjadi baku hantam. Ujungnya, para pelaku teros itu terkapar. 

Satu teroris meninggalkan TKP kabur, meski kemudian diberitakan tertangkap. Beberapa orang mengalami luka di TKP, seperti Wartawan TV One dan jurnalis lainnya. Seorang Polisi gugur.

Riau, Negeri Lancang Kuning nyaris tak tersentuh aksi teror dalam sepuluh tahun terakhir ini. Kenapa sekarang justru Mapolda Riau diserang para pelaku teror, Senin (16/5) sekitar pukul 09. Pagi ini. 

Sebuah kemunduran? Atau sebuah kemajuan dan sasaran bagi para pelaku, yang nekad menyasar sekaligus terencana? Mengingat para pelaku sudah berhitung, meski tak bersenjata semisal bom yang bisa langsung fatal eksesnya, seperti di Surabaya beberapa hari belakangan ini.

Pesan apa sebenarnya yang terjadi di wilayah hukum Riau itu? Benny Mamoto, mantan anggota Satgas Antiteror Polisi menyebut: bahwa limbahan mereka yang baru dari Suriah bisa melakukan perlawanan dengan senjata apa pun. 

Mendekati teori-teori atau modus-modus yang terjadi Luar negeri. Mereka bisa sebagai pejalan kaki atau apa pun, termasuk menabrakkan diri dengan mobil.

Apa yang terjadi Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, tak bisa dinafikan sebagai yang berdiri sendiri dari serangkaian bom di Surabaya dan Riau hari Rabu ini. Seperti sebelum napi melakukan perebutan senjata dan penyanderaan di Mako Brimob dan memakan korban polisi sendiri, mereka sudah mempersiapkan untuk melakukan perlawanan. 

Sehingga ketika aksi 36 jam di Kelapa Dua berakhir, ada beberapa dari kelompok mereka yang merapat ke Depok itu tidak tahu. Dan daripada tak bisa bergabung, karena Markas Brimob itu dijaga lebih ketat sembari mengevakuasi napi teroris ke Nusakambangan, mereka melakukan di berbagai daerah. Kecil-kecilan, dibandingkan dengan di markas Polisi.

Kejadian di Makas Polda Riau menjadi sebuah peluit. Agar pos-pos polisi yang bisa dianggap musuh mereka -- kaum radikalis -- diperketat. Mengingat bisa saja mereka yang baru datang dari negeri yang menyebut diri untuk merebut yang wilayah yang bukan sealiran dengan mereka, kelompok apa pun namanya untuk menyerang.

Juga, sementara markas Polisi dijaga ketat, tim Densus 88 perlu bergerak dengan cepat sekaligus cermat. Pengembangan tim Rabu siang ini ke Jalan Gempol, Cipondoh, Tangerang dan menemukan tiga orang laki-laki serta seorang wanita diduga teroris adalah, kelompok yang terkait. Ini perlu wispadai secara sungguh-sungguh. ***