Mohon tunggu...
Thamrin Sonata
Thamrin Sonata Mohon Tunggu... Wiswasta

Penulis, Pembaca, Penerbit, Penonton, dan penyuka seni-budaya. Penebar literasi.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kompasianer Buka-bukaan (In) Toleransi dan Prof Mahfud MD

22 Maret 2017   10:03 Diperbarui: 22 Maret 2017   11:32 1368 34 22 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kompasianer Buka-bukaan (In) Toleransi dan Prof Mahfud MD
Cover buku (In) Toleransi dan Prof. Mahfud, MD (dok. KutuBuku)

Bukan keajaiban membukukan tulisan para Kompasianer. KutuBuku, di mana saya, TS, dengan Isson Khairul merawat kejernihan pikir dalam menulis. Jika kali ini perihal Toleransi, tersebab sedang menyalak-nyalak intoleransi di belantara milenial kini.

Saat ditawarkan ke lingkar dalam – kayak jalan bebas hambatan di dalam kota saja, yang sesungguhnya macet-macet juga – KutuBuku sambutannya antusias sekali. Saya ikut, Bang, Mas, Pak! Bahwa kemudian macet, ya bisa dimaklumi pula. Mereka kan manusia juga. Berbagai alasan yang memang bisa dimaklumi. Sungguh, tanpa basa-basi.

Namun yang menggembirakan, ketika perihal ini saya tawarkan kepada teman-teman baru KutuBukuers. Antusias meski awalnya gamang. Mereka, sesungguhnya punya potensi menulis, dan setidaknya sudah berlatar belakang memadai: Strata Satu, bahkan banyak yang lebih. Pasca Sarjana. Dan benar. Tulisan mereka lebih dari lumayan sebagai pemula! Hanya karena belum tahu jalan saja. Inilah yang menggeret KutuBuku ke ranah bermarwah sebagai guru untuk menulis. Baca: pendidik. Bukan sekadar guru. Mereka dari Cianjur (Erni Wardhani, Ade Supartini, Nuraeni, Nita Helida, Atjih Koerniasih) dan Bogor (Ning Ayu).

Ngoplah Bedah Buku (In) Toleransi (dok. TS)
Ngoplah Bedah Buku (In) Toleransi (dok. TS)
Agar buku Toleransi menemukan jejak kuat dan lebih bermartabat, dicobacarikan pemberi Kata Pengantar yang berkompeten alias yang tepat. Jadilah, ketemu dengan Prof. Mahfud, MD – guru besar hukum UII, Jogja. Tentu, berliku. Sebab ini hanyasekelompok orang yang ingin waras di tengah hiruk-pikuk yang mesti diakui dari picuan Pilkada DKI Jakarta. “OK. Apa yang mesti saya omongkan?” sebut mantan Ketua MK ketika disambangi KutuBuku (Tamita Wibisono).  

Guru besar yang merupakan sahabat Gus Dur asal bangkalan, Madura, yang satu ini memang pantang menampik kalau ada perseorangan atau komunitas dan apalagi media untuk meminta “kejar setoran, istilahnya”. Jadilah sebuah pengantar bernas, sesuai dengan kapasitas seorang guru besar. Ada idiom yang diambil dari Gus Dur, sehingga TS sebagai editor memberinya judul: Pluralisme itu Satu Rumah Banyak Kamar.

33 Kompasianer menulis di Kolam Kompasiana, suatu yang menjadikan warna tersendiri buku ini. Pas, klop dengan tema yang disorongkan ke teman-teman dengan berbagai latar belakang: guru, dosen, aktivis, ahli hukum, jurnalis, profesional  di KutuBuku. Empat di antaranya Kompasianer bermukin di Luar negeri: Itali, Australi, Jerman, Malaysia, yakni: Gordi, Tjiptadinata Effendi, Gaganawati Stegmann, Rita Audriyanti-Kunrat. Tentu, bagaimana dengan yang tinggal di sekitar Tanah Betawi alias Jabodetabek. Di samping dari Aceh hingga Papua. Jadilah.

Gayengnya Ngoplah dan toleransi (dok. pri)
Gayengnya Ngoplah dan toleransi (dok. pri)
Hal lain yang tak salah, kalau teman KutuBukuers ini sebagian sudah punya buku secara solo, ditulis sendirian, semisal: Much. Khoiri, Tjiptadinata Effendi, Gaganawati, Kang Nasir, Iskandar Zulkarnain, Thamrin Dahlan, Maria Margaretha, Erni Wardhani, Teha Sugiyo, Ikhwanul Halim, Rita Audriyanti, Yuzelma, Ning Ayu, dan Sugiyanto Hadi serta Rooy John asli Ambon.

Di sinilah peran KutuBuku untuk waras di tengah pekik sumbang bernama intoleransi. Bahwa dengan menulis, ingin menularkan toleransi dengan cara bermartabat. Ada pembacaan dan pengalaman dari lingkungan, masa lalu serta perenungan setelah kini. Sesungguhnya, bertoleransi itu perlu di negeri berbagai-bagai etnis di Nusantara ini. Bisa lewat wisata (Baskoro, Semarang), pengamatan (Mohammad Mustain, mantan jurnalis, Tuban) masa lalu (Peny Wahyuni) dan dari tempat beribadah keagamaan (Gordi, Luana Yunaneva, Fajr Muchtar), lingkungan yang khas etnis (Johanis Malingkas - Manado, Bambang Setyawan - Salatiga dan Ismail Suardi Wekke - Papua) sampai sosial (Moch Khoiri, M Jaya Nasti) atau Budaya (Yuzelma, Riau). Bahkan di dalam rumah sendiri – dan mengacu judul Kata Pengantar buku ini.

Teha Sugiyo dan Isson Khairul, serius nyimak buku (dok.TS)
Teha Sugiyo dan Isson Khairul, serius nyimak buku (dok.TS)
Rooy John, Kang Nasir, dan TS (dok.pri)
Rooy John, Kang Nasir, dan TS (dok.pri)
Erni Wardhani, pembicara mendampingi Kang Nasir dan Pak Teha Sugiyo (dok.pri)
Erni Wardhani, pembicara mendampingi Kang Nasir dan Pak Teha Sugiyo (dok.pri)
Tibalah saatnya Ngoplah, Ngobrol di Palmerah atau kandangnya Kompasiana, pada Sabtu (18/3) siang hingga sore yang gayeng. Ya, teman-teman datang dari Bandung (Teha Sugiyo), Cilegon (Kang Nasir), Cianjur (Erni Wardhani dan Ade Supartini). Ya KutuBuku tak menyediakan ongkos naik bis, kereta atau mbensinin kendaraan yang membawa ke Palmerah Barat 32-37. Bahkan mereka justru membawa makanan kering atawa cemilan ke tempat Ngoplah ngeriung: Kang Nasir, Tamita Wibisono, dan Rooy John spontan membeli donat di sekitar Palmerah. Ajaib.

Ya, sungguh ajaib. Sekelompok orang yang mencoba waras di hari libur (week-end) kumpul dan membahas buku yang masih amat sangat kurang di negeri ini (Laporan Unesco 212-2013). Pun tema yang diangkut, soal “keyakinan” orang atau tenggang rasa kelompok tertentu. Lain ladang lain ilalang.

Dari sinilah berhamburan kisah (In) Toleransi dari KutuBukuers dalam buku yang bisa berantakan panjang bak kaca pecah karena sebuah tembakan ngawur. Ada banyak kisah menarik, dan bisa dibilang undercover. Kisah perjalanan penulis pada masa kecil, dalam keluarga, saat masa-masa sekolah, dan lingkungan etnis Cina atau di daerah konflik bernuansa agama. Melengkapi apa yang ada dalam tulisan buku setebal 240 halaman ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN