Mohon tunggu...
Thamrin Sonata
Thamrin Sonata Mohon Tunggu... Wiswasta

Penulis, Pembaca, Penerbit, Penonton, dan penyuka seni-budaya. Penebar literasi.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

(LOMBAPK) Gusdurian, Imlek, Haul dan Jokowi

12 Januari 2017   14:54 Diperbarui: 12 Januari 2017   15:30 0 15 11 Mohon Tunggu...
(LOMBAPK) Gusdurian, Imlek, Haul dan Jokowi
Ger-geran. Gus Dur ketika bertemu Bill Clinton (dok. Merdeka.com)

Nggak kebayang kalau Gus Dur menjadi presiden genap lima tahun. Lebih-lebih kalau sampai dua kali alias sepuluh tahun full. Mungkin akan banyak kebijakan yang membuat orang geleng-geleng kepala. Karena, misalnya, suasana  sakral di Istana era Pak Harto ditabrak-tabrak ndak keruan. Ini karena bani Hasyim yang satu ini nyelenehnya minta ampun. Bukan alang-kepalang. Gaya pesantrenan pun dibawa ke Istana.

“Gus ...! Ini kami dateng ...mau minta sarapan. Jangan pura-pura tidur, ya,” ujar rombongan kyai dari Jawa Timur, setelah diperbolehkan masuk ke lingkungan Istana. Saat itu ada Gus Mus.

Kali lain, budayawan M. Sobary alias Kang Sedjo, bercerita. Ia malam-malam nyelonong ke Istana, dan oleh para bawahan RI-1 keempat disebutkan, bahwa Presiden sudah istirahat. M. Sobary pun bingung, dan menyebutkan bahwa ia sebenarnya diundang Gus Dur. Percakapan antara Kang Sedjo dengan orang Istana itu rupanya terdengar oleh Gus Gur. “Sopokuwi? Bar ...Bari yo. Sini masuk, aku belum tidur, kok!”

Pengawal Istana pun hanya bisa menarik nafas panjang. Seraya membuka kedua tangannya.

Pendeknya, Gus Dur oye! Lha, wong kunjungan dan jadwal pembicaraan dengan Bill Clinton di Gedung Putih saja bisa molor waktu. Orang nomor satu Paman Sam itu dibuat terpingkal-pingkalnya sampai kebablasan waktu yang ditentukan bagi tamu kenagaraan di Amrik nan ketat itu.

Itu semua karena apa? Gus Dur yang entengan. Tanpa sekat. Ia bergaul dengan segala macam kalangan. Tak aneh kalau kemudian muncul istilah Gusdurian atawa pengikut faham atau gaya Gus Dur. Terutama di kalangan Nadliyin. Walau dengan Muhammadiyah pun, keturunan pendiri NU itu tak keberatan apa-apa. Bahkan dengan Amien Rais, ia tak bisa dicegah berteman, meski ia kerap nyindir kalau pentolan Muhammadiyah itu kebelet jadi presiden. Eh, malah ia yang jadi presiden. Persis seperti yang diucapkan Emha Ainun Nadjib saat saya dan tiga teman, termasuk wartawan senior ke rumahnya di Patangpuluhan, Jogja, saat itu Cak Nun belum punya kelompok Kyai Kanjeng dan Pak Harto masih bertahta. “Kalau saya milih Gus Dur saja yang jadi presiden,” ujarnya setengah serius.

sumber gambar: dok. pri
sumber gambar: dok. pri
“Kenapa?” tanya kami serempak.

“Ya sopo sing iso meredam bar Pak Harto lengser? Gaya Jawatimurane Gus Dur kan kena. Bisa diterima banyak umat,” alasannya. Eh, sayang Habibie-lah yang menggantikan Presiden kedua yang malang-melintang 32 tahun itu.

Perihal Gus Dur kelewatan tolerannya, pernah dolan ke rumah Amien Rais dan rada-rada ndableg. Kalau istilah teman saya kerabat dari Amien Rais sih sederhana. Dolan dalam perspektif kyai sarungan ya entengan, nggak pakai rumusan. Nggat ada target. Termasuk entengan nggak akan tidur di hotel tapi memilih tidur di tamu yang didatangi. Maka  saat Amien Rais mesti mengajar di UGM, eh Gus Dur ngomong enak saja, “Ya, silakan. Saya nunggu di sini,” katanya.

Dan ketika Amien Rais sore hari pulang memberi kuliah di UGM, Gus Dur masih di rumah. Hehehe.

Sikap toleransi Gus Dur ndak ada tandingannya. Termasuk menerima persahabatannya dengan etnis Cina yang tak tertahankan, tak berbatas itu. Bahkan ia bersedia nyanyi ketika digandeng Jaya Suprana yang memainkan piano untuk bersama – satu-satu, ding, lalu direkam – Megawati, dan tokoh lainnya. Ya, walau suaranya ... sumbang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x