Mohon tunggu...
Okti Li
Okti Li Mohon Tunggu... Ibu rumah tangga suka menulis dan membaca.

"Pengejar mimpi yang tak pernah tidur!" Salah satu Kompasianer Backpacker... Keluarga Petualang, Mantan TKW, Indosuara, Citizen Journalist, Tukang icip kuliner, Blogger Reporter, Backpacker,

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Kecewa oleh 'Pariwisata' Yogyakarta

2 Januari 2012   18:24 Diperbarui: 25 Juni 2015   21:25 0 1 0 Mohon Tunggu...
Kecewa oleh 'Pariwisata' Yogyakarta
13255282921364551773

Kecewa oleh 'Pariwisata' Yogyakarta [caption id="attachment_152805" align="aligncenter" width="300" caption="Bus Pariwisata sebelum menurunkan penumpang di luar Terminal Leuwi Panjang"][/caption] Membaca tulisan Mas Sigit Priyadi disini, secara kebetulan saya mengalami kejadian yang hampir sama. Tanggal 1 Januari 2012 saya pun kembali dari Yogyakarta terpaksa naik bus malam "dakota" dengan nama "Pariwisata". Bedanya, jika Mas Sigit menggunakan dakota menuju Jakarta, sementara saya menuju Bandung. Karena kepentingan lain yang sifatnya mendadak, maka mau tidak mau bus malam pun jadi alternatif perjalanan Yogya-Bandung tepat hari minggu tanggal 1 Januari 2012 kemarin. Saat saya memesan ticket bus malam yang biasa saya tumpangi P.O KD di stand M-1 Terminal Giwangan, yang menjual ticket bus menyanggupi jika malam itu saya mendapatkan bus yang dikehendaki. Saya percaya dan mau saja membayar seharga Rp. 140 ribu /orang tanpa jatah makan. Padahal pengalaman saya berlangganan menggunakan P.O KD jika bepergian ke wilayah Jawa Tengah dan Timur dengan tarif di bawah 100 ribu saja sudah termasuk ticket makan dalam perjalanan jika waktu keberangkatannya sebelum jam makan. Plus pelayanan yang ramah dari para sopir dan kondekturnya, tentu saja. Kajanggalan dan kecurigaan saya makin kuat saat di lembaran tiket yang diberikan si penjual karcis tertera tulisan nama bus: Pariwisata (lalu diikuti nama) P.O KD. "Ini bus tambahan P.O KD, Bu. Soalnya tiket untuk bus yang normal sudah habis terjual," kilahnya saat saya tanya kenapa di nama bus tertera embel-embel 'Pariwisata'-nya dan ticket yang saya terima bukan lembaran ticket resmi dengan P.O yang alamat garasinya di Jalan Ambon Bandung --yang saya pesan. Ya sudahlah, saya setuju saja. Yang penting bisa berangkat, terlebih mereka meyakinkan jika penumpang akan diantar sampai terminal Cicaheum, Bandung. Suasana tahun baru dan hujan yang sangat deras membuat saya malas banyak berdebat. Usut-punya usut --saat hujan dengan derasnya mengguyur wilayah Yogya di hari pertama tahun baru itu-- sesampainya di Terminal Giwangan sore pukul 17.00 saya diantar oleh kondektur bus dengan baju seragam P.O L (bukan seragam P.O KD!) menuju bus wisata 'biasa'. Saat itulah saya sadar jika saya akan naik bus yang tidak sesuai dengan yang saya maksud. Bus Pariwisata yang dijadikan bus malam 'jadi-jadian' tanpa tolilet yang saya tumpangi ini pasti akan menimbulkan berbagai masalah dalam perjalanan sampai di tujuan, batin saya. [caption id="attachment_152806" align="aligncenter" width="300" caption="Beberapa kebocoran diantisipasi oleh penumpang menggunakan kain gorden"]

13255284131254749810
13255284131254749810
[/caption] Di terminal Jombor setelah 'ngaret' sekitar 2 jam (dalam bus malam yang sebenarnya hampir tidak ada kata terlambat berangkat kan?) bus 'wisata' itu penuh mengangkut penumpang jurusan Bandung. Mereka para penumpang ada yang mengatakan akan turun di Cileunyi, Cicaheum, dan terakhir di Cimahi. Kebanyakan penumpang ialah remaja yang telah menghabiskan malam tahun baru di Yogyakarta. Saya terus mengamati bus yang kondisinya telah sangat tua. Bahkan untuk dioperasikan sebagai bus angkutan pariwisata/umum sepertinya sudah tidak layak lagi. Deretan kursi dua-dua berbaris ke belakang. Lutut saya tak bisa leluasa bergerak, terjepit di belakang sandaran kursi di depan. Parahnya sandaran kursi pun macet, tak bisa dioperasikan! Beberapa kursi di bagian sisi, saya dapati sandaran tangan dan pengaturan sandarannya dalam kondisi rusak. Membuat para penumpang yang naik-turun saat istiahat (malam hari; sempit dan gelap) tersandung dan tergores. [caption id="attachment_152807" align="aligncenter" width="300" caption="Sandaran tangan dan pengaturan sandaran kursi rusak/lepas"]
1325528496793738231
1325528496793738231
[/caption] Benar saja, bus pariwisata yang kami naiki itu sudah menimbulkan berbagai masalah. Selain bunyi mesin dan kendaraan yang sangat bising --cekat-cekot besi reyot/tua tak layak dengan kenyamanan bus malam yang seharusnya-- kebocoran pun terjadi di beberapa tempat. Penumpang yang hendak beristirahat otomatis terganggu. Sibuk menadah air hujan yang teramat lebat di luaran. Air yang menetes membasahi kursi-kursi yang diduduki mencoba dihalau oleh kain gorden yang ada. Selama perjalanan guncangan-guncangan membuat penumpang seakan melompat-lompat di kursi. Omelan dari penumpang mulai keluar, namun sang kondektur dan sopir bus cuek saja menyikapinya. [caption id="attachment_152808" align="aligncenter" width="300" caption="Sandaran mencuat, sempat menggores dan membuat penumpang tersandung"]
1325528577224543649
1325528577224543649
[/caption] Di kota Kebumen hujan mulai surut. Tapi aktivitas penumpang menadah air bocor tak bisa dihentikan. Tetes demi tetes masih terus membasahi kursi, entah itu berasal dari air yang menggenang di atas bus atau air pembuangan dari AC bus itu. Yang jelas hal itu membuat penumpang bus tak bisa istirahat dengan nyaman. Yang membuat lebih kecewa seluruh penumpang, (kecuali yang telah turun terlebih dahulu sebelum Tol Cileunyi) adalah kami di Bandung diturunkan terlantar! Bus tidak melalui rute yang seharusnya. Tidak ada penumpang yang turun di Cicaheum apalagi di Cimahi, semua diturunkan beberapa kilometer sebelum Terminal Leuwi Panjang. Saya sempat mengumpat pada sopir dan kondekturnya, diikuti beberapa gerutuan penumpang lain dengan tujuan Cimahi. Jelas mereka sangat direpotkan, turun tidak pada tempatnya; masih jauh ke tujuan, sementara barang bawaan begitu banyak, ditambah kebobrokan Bus Pariwisata yang kami tumpangi. Kekecewaan bukan hanya karena berarti penumpang harus mengeluarkan ongkos naik angkutan lagi, namun terlebih pada kebohongan sistem menajemen penjualan tiket/agen penjualan tiket di Yogyakarta yang mengumbar kata-kata manis supaya menarik hati calon penumpang mau dan tertarik ikut bus itu sementara kenyataannya bus yang menjadi sarana tumpangan tidak sesuai dengan kenyataannya. [caption id="attachment_152809" align="aligncenter" width="300" caption="Bus Pariwisata, kondektur dengan baju batik dan penumpang terlantar"]
1325528752360829025
1325528752360829025
[/caption] [caption id="attachment_152810" align="aligncenter" width="300" caption="Turun dari bis beberapa kilometer dari Terminal Leuwi Panjang, penumpang memilih duduk di trotar, mencari alternatif angkutan ke tujuan"]
13255289331598130451
13255289331598130451
[/caption] Jika saja bus itu layak pakai, mungkin penumpang tidak akan kecewa. Masih beruntung 'hanya' kecewa karena kondisi bus yang bobrok, bagaimana jika karena bus itu sudah tua, tidak layak pakai dan mengalami kecelakaan? Jika menimbulkan korban jiwa, siapa yang bertangung jawab? Tahukah Dinas Perhubungan --khususnya DIY-- dalam hal penggunaan bus malam 'jadi-jadian' ini? Sempat bersyukur saya telah memfoto papan nama Dinas Perhubungan Yogyakarta di Terminal Giwangan, di sana tertera alamat email-nya. Saya pastikan tulisan ini akan saya foward ke alamat itu, demi perbaikan Yogyakarta kedepannya. Cukuplah saya dan Mas Sigit Priyadi yang mengalami kekecewaan ini. Atau teman-teman punya rekomendasi kemana sebaiknya tulisan ini saya foward supaya bisa mendapat tindak lanjut yang nyata?

KONTEN MENARIK LAINNYA
x