Mohon tunggu...
Yugo Tara
Yugo Tara Mohon Tunggu... PW

Observer

Selanjutnya

Tutup

Keamanan

Kivlan Zen Jadi Dalang Kerusuhan (Lagi)?

11 Juni 2019   21:47 Diperbarui: 11 Juni 2019   22:00 0 1 0 Mohon Tunggu...
Kivlan Zen Jadi Dalang Kerusuhan (Lagi)?
Mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen (Purn) Kivlan Zein.(KOMPAS.com/SABRINA ASRIL)

Kepolisian RI baru saja merilis peran tersangka Mayjen (Purn) Kivlan Zen dalam kasus dugaan kepemilikan senjata api ilegal dan rencana pembunuhan terhadap empat pejabat negara. Jenderal TNI bintang dua ini diyakini sebagai otak kejahatan. Polisi juga menduga bahwa Kivlan turut andil menjadi dalang kerusuhan berdarah di Jakarta, pada 21-22 Mei lalu.

Peran Kivlan terungkap dari keterangan para saksi, pelaku dan sejumlah barang bukti. Di antaranya, Kivlan diduga berperan memberi perintah kepada tersangka HK alias I dan AZ untuk mencari eksekutor pembunuhan. Ia memberikan uang Rp 150 juta kepada HK alias I untuk membeli beberapa pucuk senjata api.

Setelah mendapatkan empat pucuk senjata api, Kivlan masih menyuruh HK mencari lagi satu senjata api. Kivlan juga diduga berperan menetapkan target pembunuhan, yakni empat tokoh nasional (Wiranto, Luhut binsar Panjaitan, Budi Gunawan, Gories Mere) dan satu pimpinan lembaga survei (Yunarto Wijaya).

Tidak hanya itu, polisi kini juga tengah menelusuri keterlibatan mantan kepala staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) itu dalam kerusuhan berdarah. Inidikasi keterlibatan Kivlan cukup banyak. Salah satunya, ia merupakan penggerak aksi 'people power' untuk menolak hasil Pemilu 2019.

Bahkan, putri Kivlan, Dahlia Zein, Ketua Umum Baladhika Indonesia Jaya yang merupakan pendukung Prabowo, disebut-sebut juga ikut berperan menggalang massa aksi dan membantu menyediakan akomodasi di sebuah hotel di Cikini.

Indikasi keterlibatan Dahlia itu berdasarkan transkrip pembicaraan dirinya dengan Letkol (Purn) Fauka Noor Farid, mantan anggota Tim Mawar Kopassus yang kini menjabat ketua Garda Prabowo.

Dalam pembicaraan kedua tokoh tersebut (sebagaimana dimuat Majalah Tempo edisi 10 Juni), Fauka dikutip menyambut baik terjadi kerusuhan dalam aksi protes, lebih baik jika jatuh korban, begitu kata dia seperti ditulis Tempo. Kala itu, Fauka dikisahkan bertugas sebagai konduktor aksi demonstrasi di lapangan.

Jika hal ini benar, maka bisa dipastikan bahwa kerusuhan berdarah yang menelan korban jiwa delapan orang, memang sengaja diciptakan. Tujuannya, selain untuk menciptakan martir dalam pemberontakan, aksi itu juga sekaligus bisa ditunggangi untuk kepentingan kejahatan lainnya. Misalnya untuk membunuh tokoh lawan politik.

'Mayjen K'

Sejak dulu, sosok Kivlan memang begitu akrab dengan sejumlah aksi kerusuhan. Pada saat reformasi, ia pernah diduga menjadi dalang rusuh di Ambon, Maluku. Adalah Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang mengungkap ke publik bahwa provokator kerusuhan itu merupakan petinggi tentara berinisial 'Mayjen K'.

Meski Presiden RI ke-4 itu hanya menyebut inisial, namun Kivlan langsung merasa tersindir. Ia lalu mendatangi rumah Gus Dur untuk meminta klarifikasi. Namun, mantan ketua PBNU menjawab dengan guyonan, bahwa yang ia maksud dengan 'Mayjen K' adalah Mayjen Kunyuk (monyet).

Bisnis Galang Massa

Cerita miring tentang Kivlan lainnya adalah soal Pam Swakarsa atau Pasukan Pengamanan Masyarakat Swakarsa. Sebuah kelompok sipil bersenjata tajam yang dibentuk oleh TNI untuk membendung aksi mahasiswa sekaligus mendukung Sidang Istimewa MPR (SI MPR) tahun 1998, yang berakhir dengan Tragedi Semanggi.

Kivlan mengakui hal ini. Pada Februari 2019 lalu, ia mengaku mendapat instruksi dari Jenderal (purn) Wiranto yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima ABRI untuk mengamankan sidang istimewa MPR. Lantaran militer tak bisa digunakan, maka dibentuklah Pam Swakarsa, sehingga bentrokan terjadi antara massa dengan massa.

Pembiayaannya berasal dari anggaran Badan Urusan Logistik (Bulog) sebesar Rp 10 miliar. Dana inilah yang hingga kini dipersoalkan Kivlan, karena menurutnya, belum sepeserpun ia terima dari Wiranto.

Tindakan Kivlan inilah yang dikecam oleh banyak aktivis kemanusiaan. Sebuah bisnis penggalangan massa. Rakyat diadu dengan rakyat. Unjuk rasa mahasiswa dilawan dengan sipil bersenjata. Puluhan orang tewas, sementara penggalang massa meraup untung dari bisnisnya.