Mohon tunggu...
Yugo Tara
Yugo Tara Mohon Tunggu... PW

Observer

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Salah Satu Tokoh yang Bisa Meredam Kegaduhan

22 Mei 2019   18:25 Diperbarui: 22 Mei 2019   18:31 0 6 5 Mohon Tunggu...

Beberapa waktu yang lalu, saya menuliskan sebuah keinginan agar Presiden Republik Indonesia ke-III, Prof. Dr. Ing Bacharuddin Jusuf Habibie turun dan membereskan situasi yang kian memanas. Ketakutan saya pada waktu itu adalah, polariasasi dan permainan politik identitas telah melampaui batas batas dan membawa demokrasi ke arah yang tidak sehat.

Sejak sepekan terakhir apa yang saya takutkan itu mendekati kenyataan. Puncaknya, adalah kerusuhan yang terjadi tadi malam di depan Kantor Badan Pengawas Pemilu dan Pusat perbelanjaan Sarinah di jalan MH. Thamrin Jakarta. Saya tidak tahu sampai kapan aksi demo akan terus berlangsung.

Namun yang saya sayangkan, di tengah kegaduhan itu, tidak ada satupun pihak yang didengar oleh masyarakat. Bahkan sekelas Presiden RI ke VI, Dr. Susilo Bambang Yudhoyono yang jauh-jauh hari sudah menawarkan rekonsiliasi dianggap angin lalu saja oleh masyarakat. SBY bahkan dicaci dan dimaki, tidak hanya dirinya, namun juga keluarganya, anak dan istrinya ikut pula merasakan bully-an dari netizen yang sudah kelewatan batas.

Memang harus diakui, sikap Partai Demokrat dan langkah politik partai itu tidak sesuai dengan keinginan masyarakat yang kian terbelah. Namun tentu menjadi tanggung jawab bersama bagi segenap pemimpin untuk meredam kegaduhan agar tidak meluas dan makin menyengsarakan.

Saya teringat apa yang saya tuliskan saat itu. Satu-satunya harapan untuk menyelesaikan masalah ini adalah hadirnya orang tua yang bijak dan tidak menjadi irisan dari suatu kelompok masyarakat yang terbelah. Tanpa bermaksud untuk menafikan peran para pemimpin saat ini, namun posisi Pak Habibie lah yang paling bisa dimajukan karena "standing positionnya" yang tidak termasuk dalam dua kubu yang tengah bertikai.

Pak Habibie, adalah satu satunya negarawan yang tidak terlibat dalam persaingan politik saat ini. Ia bukan ketua umum partai politik manapun, ia bahkan tidak masuk dalam peta "orang istana". Saya menyebut demikian karena Pak Try Sutrisno saat ini menjabat sebagai anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang diketuai oleh Presiden RI kelima Megawati Soekarno Putri.    

Tanpa menafikan Political Standing Ibu Megawati dan Pak SBY dalam mengurai konflik, saya jelas tidak setuju keduanya dikedepankan tersebab keduanya adalah Ketua Umum Partai Politik yang saat ini tengah bersaing di Pileg dan terbelah di Pilpres. Namun, jika Pak Habiie mengajak keduanya ikut serta dalam barisan untuk menyelamatkan demokrasi, jelas hal itu akan membuat keduanya menambah kekuatan agar kedamaian politik dapat diwujudkan.

Tentu waktu yang berlangsung sejak Agustus 2018 silam menjadi waktu yang sangat lama bagi kita untuk merasakan kerasnya pertarungan politik antara kubu Joko Widodo dengan kubu Prabowo Subianto. Kedua kubu yang sudah saling berhadap-hadapan dan bertempur ranah politik tengtu tidak mau memperpanjang waktu pertandingan.

Saya meyakini waktu tujuh bulan pula hingga hari ini, kemarut politik ini tidak hanya menyita energi dan perasaan. Namun juga menyedot ratusan milyar dana yang digunakan untuk kampanye yang dikeluarkan semua pihak. Baik kedua kubu capres, partai pendukung, maupun pihak penyelenggara yang dalam hal ini Komisi Pemilihan Umum.

Semua sudah pula dikeluarkan. Semua amunisi dan persenjataan, mulai dari baliho, spanduk, sampai bermacam jenis caci, puji, dan bahkan makian. Tua-muda, tokoh-awam, terdidik dan bodoh, semua terlibat. Tidak pandang bulu dan tidak pula pandang usia dan strata pendidikan. Isu agama, sampai pandangan politik dan ekonomi menjadi senjata yang dilontarkan guna menjatuhkan kredibilitas lawan.

Maka, saat seperti ini, tokoh sekelas Presiden RI ke-III Bacharuddin Jusuf Habibie adalah solsusi kebuntuan komunikasi. Pak Habibie akan bisa menjadi "orangtua" bagi Prabowo dan Joko Widodo. Beliau juga masih sangat sehat dan kredibel. Harapan itu mungkin tidak main-main. Ketokohan dan integritasnya sebagai tokoh dan presiden yang pernah sukses memimpin di era transisi adalah modal kuat kembali merekatkan masyarakat yang sudah terpecah belah.

Pak Habibie harus memanggil Jokowi dan Prabowo bersamaan. Mungkin dinasehati atau bahkan dimarahi. Pilpres ini bukan hanya milik Jokowi dan Prabowo. Ini pesta rakyat. Namun yang terjadi sebaliknya, karena keduanya bersaing untuk satu jabatan yang sama, ratusan juta rakyat terpecah belah dalam dua kutub yang kian menegang dan sudah mengorbankan nyawa.

BJ Habibie bisa memanggil keduanya. Sebagai tokoh dan negarawan senior, Habibie bahkan bisa memerintahkan kepada Jokowi dan Prabowo untuk meredam pendukung masing-masing.

Kini siapa yang bisa datang ke kediaman Habibie dan membujuk Bapak Bangsa itu untuk turun tungun guna menyelesaikan masalah. Yang bersedia dan suka rela acungkan tangan.