Mohon tunggu...
Teopilus Tarigan
Teopilus Tarigan Mohon Tunggu... ASN - Pegawai Negeri Sipil

Pro Deo et Patria

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Estomihi: Jadilah Bagiku Gunung Batu Tempat Perlindungan

24 Februari 2020   11:55 Diperbarui: 24 Februari 2020   14:10 407
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bang Ginting dan anak-anaknya (Foto: Dokpri)

Bang Ginting dan anak-anaknya, bersama karung bototnya (Foto: Dokpri)
Bang Ginting dan anak-anaknya, bersama karung bototnya (Foto: Dokpri)

Kembali ke kenyataan Roma, siapakah yang mampu membuat kedua bola mata dua orang bocah balita anak Bang Karoja, yang hidup dalam kemiskinan dan keterbatasan tampak sangat berseri, kalau bukan Tuhan yang dikenali lewat kasih kedua orang tuanya yang masih saja setia mendulang asa di antara barang-barang bekas dan bau busuk tempat-tempat sampah yang mereka sambangi secara bergantian setiap hari? Kalau hari ini istrinya mencari botot ke arah pasar dan bang Karoja ke arah perumahan, besok sebaliknya, dengan kedua anaknya tetap ikut bersama mereka.

Saat aku lewat, bang Karoja yang mengumpuli botot sambil menjaga anaknya, tampak sedang mengganti popok anak bungsunya dan menyiapkan susu dalam botol susu formula untuk bayi. Ia membaringkan anaknya, di emperan teras rumah dengan alas kain gendongannya.

Sementara anak sulungnya yang berumur 3 tahun, bermain-main di sekitar kedua sanak keluarganya itu, tetap dengan sorot mata cerah dan senyumnya yang ceria. Seolah tidak mau tahu dengan kerasnya kehidupan yang sedang mereka jalani, berbekal perlindungan dari bapak dan ibunya, yang sebenarnya juga membutuhkan tembok perlindungan dari kerasnya kehidupan. Ya, apalagi cuaca saat inipun sangat dingin pada malam hari dengan angin yang berhembus cukup kencang. Entah bagaimana keluarga ini mampu melewati semua hari hanya dengan berbekal beberapa kilogram "sampah-sampah" kemasan plastik yang mereka kumpulkan setiap hari.

Kutanya, "Sudah makan Pak?" jawabnya, "Sudah Pak, tadi ada dikasih sama orang".

Teringat kepada ibadah kebaktian Minggu pagi sehari yang lalu, saat pendeta berkhotbah bahwa tidak ada seorang manusiapun yang bisa lepas dari masalah dalam hidup. Oleh sebab itu, manusia membutuhkan perlindungan. Seringkali dijumpai dalam kenyataan, 10 sukacita yang dialami dapat dikalahkan oleh 1 saja penderitaan dan masalah dalam hidup.

Manusia yang sedang tidak dirundung masalah sebenarnya bertanggung jawab membawa sesamanya yang sedang dirundung masalah datang meminta perlindungan ke hadapan Tuhan. Barangkali, begitu juga maksud Kristus kepada murid-murid dan orang-orang yang mendengar khotbahnya saat Ia mengatakan "Apa yang engkau perbuat kepada salah seorang saudaraku yang paling hina, itulah yang engkau perbuat kepadaku". Bukankah sulit untuk memahami, bagaimana seseorang bisa mengatakan bahwa ia mencintai Tuhan, saat saudaranya sendiri yang tampak di depan matanya tidak mampu ia cintai?

Kalau Paman Ben pernah berpesan kepada Peter Parker keponakannya yang adalah sang Spiderman, bahwa "Di dalam kekuatan yang besar terkandung tanggung jawab yang besar", maka dalam kaitan ini bisa juga dikatakan bahwa "Dalam berkat yang melimpah terkandung tanggung jawab yang besar". Bila ditimbang-timbang, dalam kehidupan ini hampir tidak relevan dalam setiap hal bagi setiap seorang yang hidupnya diberkati dengan melimpah untuk berkata: "Ini bukan urusanku, atau itu bukan urusanku". Justru dalam tanggung jawab bersama untuk mengatasi masalah bersama umat manusia, dari sanalah nilai dari frasa "sesama manusia" menjadi relevan.

Bahkan juga bagi orang gila sekalipun. Benarkah orang gila tidak berpikir? Jika manusia adalah apa yang mereka pikirkan, dan orang yang tidak berpikir bukan manusia, sehingga dengan demikian orang gila menjadi tidak memenuhi kriteria untuk dikatakan sebagai manusia, dan bahwa manusia tidak ada yang lepas dari masalah, bukankah itu berarti "Orang gila adalah orang yang lepas dari masalah"?

Tapi siapakah sesamanya kalau orang gila dianggap tidak memenuhi kriteria untuk dikatakan sebagai manusia yang punya sesama? Atau jangan-jangan sesamanya pun mungkin adalah orang-orang yang juga dipandang gila lainnya? Mereka yang dipandang gila, sebagaimana diangkat dalam novel Norwegian Wood, karya Haruki Murakami, sebenarnya memiliki kelebihan, karena mereka sadar mereka gila, bukan dalam artian pura-pura gila. Dan karena itulah mereka berobat.

Buktinya, sering kali mereka yang dipandang gila justru tidak mendendam seperti manusia "normal". Mereka tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tidak memperhitungkan balasan budi "gila"nya. Itu adalah apa yang tidak dimiliki oleh manusia normal dan sesamanya, yang sering kali justru tidak menyadari kalau mereka gila.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun