Mohon tunggu...
Teopilus Tarigan
Teopilus Tarigan Mohon Tunggu... Pegawai Negeri Sipil

Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal, memelihara hati dan pikiranku... Blog Pribadi: https://surantateo.wixsite.com/terraincognita

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Gambaran Realisme-Naturalistik dalam Ide Kehidupan Setelah Kematian

21 September 2019   13:42 Diperbarui: 21 September 2019   13:53 0 0 0 Mohon Tunggu...
Gambaran Realisme-Naturalistik dalam Ide Kehidupan Setelah Kematian
The Vision of The Valley of The Dry Bones (https://commons.m.wikimedia.org/wiki/.jpg#mw-jump-to-license)

"Fisika tidak bisa begitu saja menciptakan sesuatu dari kehampaan," ujar Uskup Agung Canterbury, Dr. Rowan Williams kepada CNN, membantah pendapat fisikawan Inggris, Stephen Hawking, yang menyatakan bahwa Tuhan dan surga, kehidupan setelah mati, itu tidak ada. Hal ini sebagaimana dilansir dari laman cnnindonesia.com, edisi 22/10/2014.

"Saya menganggap otak itu seperti komputer yang akan berhenti bekerja saat komponen pendukungnya rusak. Tidak ada surga atau kehidupan lain untuk komputer yang rusak, itu hanya cerita dongeng," kata Hawking, saat wawancara bersama The Guardian 2011 silam.

Mensejajarkan pendapat uskup agung Canterbury, Dr. Rowan Williams, yang menentang pendapat Hawking tentang ketiadaan Tuhan dan surga, mungkin sama seperti tafsir yang tidak utuh atas visi Yehezkiel tentang kebangkitan sebuah bangsa yang sudah porak poranda, seperti tumpukan tengkorak manusia dan sisa-sisa tulang belulangnya.

Visi itu adalah penglihatan Yehezkiel atas suatu lembah penuh tulang kering (Vision of the Valley of Dry Bones), suatu nubuat dalam Kitab Yehezkiel pasal 37. Pasal ini memuat rincian penglihatan yang diwahyukan kepada nabi Yehezkiel, dalam suatu penggambaran yang realistis-naturalistik.

Visi Hawking sendiri seperti kutipan ayat yang terputus hanya sebagaimana yang tertulis dalam kitab Yehezkiel 37:1-3: "Lalu kekuasaan TUHAN meliputi aku dan Ia membawa aku ke luar dengan perantaraan Roh-Nya dan menempatkan aku di tengah-tengah lembah, dan lembah ini penuh dengan tulang-tulang. Ia membawa aku melihat tulang-tulang itu berkeliling-keliling dan sungguh, amat banyak bertaburan di lembah itu; lihat, tulang-tulang itu amat kering. Lalu Ia berfirman kepadaku: "Hai anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?""

Sebagaimana Fisika yang tidak mungkin menciptakan sesuatu dari kehampaan, mungkin pertanyaan ini pun tidak akan mungkin dijawab oleh Hawking, seandainya pertanyaan yang sama ditujukan kepadanya. Kini ia telah tiada.

Padahal, visi Yehezkiel secara utuh, bahwa ia melihat dirinya yang berdiri di lembah yang penuh tulang belulang kering itu, diperintahkan untuk menyampaikan suatu nubuat. Selanjutnya, tulang belulang yang di hadapannya saling menyambung menjadi sosok-sosok manusia, kemudian tulang-tulang itu ditutupi dengan jaringan tendon, daging dan kulit.

Gambaran realistis-naturalistik tulang-tulang dalam visi Yehezkiel itu adalah gambaran bangsa pilihan Tuhan yang tertindas hingga binasa di pembuangan. Namun, nubuat nabi menyatakan bahwa Tuhan akan menghidupkan manusia-manusia itu, membangkitkan mereka dan membawa mereka kembali ke tanah perjanjian. Itu adalah sebuah gambaran kehidupan setelah kematian, berbeda dengan visi Hawking.

Dalam dunia sastra, pengertian realisme sering tertukar dengan naturalisme. Aliran realisme mengangkat tema yang realistis, yang tidak harus selalu mirip dengan referensinya. Sementara itu, Naturalisme mengutamkan kemiripan gambar yang dilukiskan sesuai dengan referensinya di alam. Namun, realisme juga dapat memanfaatkan kemiripan tersebut untuk membuat gagasan dan tema yang lebih realistis.

Istilah naturalisme sering digunakan pada dunia sastra, yang berarti prosa fiksi yang lebih radikal dari cerita realisme. Artinya, sastra aliran naturalisme menceritakan dengan gamblang kenyataan yang terjadi sehari-hari tanpa menyensor adegan atau dialog yang kontroversial.

Dengan demikian, penggambaran secara realistis-naturalistik terhadap visi Yehezkiel tentang lembah tulang belulang ini, bisa ditafsirkan dalam dua aspek. Yang pertama, itu diartikan secara sederhana seperti apa adanya, yakni niat Tuhan untuk membangkitkan orang mati pada akhir zaman. Yang kedua, itu adalah perumpamaan, bahwa tulang-tulang kering itu adalah melambangkan orang-orang yang terbuang, dan kebangkitannya melambangkan kepulangan orang-orang terbuang ke tanah airnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2