Mohon tunggu...
Marjono Eswe
Marjono Eswe Mohon Tunggu... Alumnus UNS, SP2W Desa Miskin Indonesia, Penulis Lepas

Pernah bekerja pada penerbit di Solo, pernah bekerja sebagai SP2W Desa Miskin, seorang ASN Pemprov Jateng, Redaksi Majalah Nusa Indah Semarang, Wasek Pengda KMA-PBS Pengda Jateng

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Hormat pada Skripsi

13 Juli 2020   15:06 Diperbarui: 13 Juli 2020   14:54 34 4 0 Mohon Tunggu...

Aksi kurang etis membuang skripsi mahasiswa yang terjadi di Universitas Lancang Kuning (Unilak) baru-baru ini menjadi aksi fenomenal yang akhirnya menuai banyak komentar dari berbagai pihak.

Pedih dan naif rasanya, di tengah pergumulan mahasiswa yang berjuang habis-habisan untuk mempertahankan karya ilmiah akademiknya di hadapan para penguji, tiba-tiba menjadi komoditas rongsok dan menjadi konsumen manusia karung. Aksi ini menjadi tidak pantas di pusaran budaya akademik yang terus kita gelorakan.

Rupanya tak ada apresiasi sama sekali dari bos perpustakaan. Namun demikian, tak masuk akal kala petinggi perpustakaan kampus dengan gampangnya meloakkan bundel-bundel skripsi tanpa pemberitahuan sebelumnya ke pimpinan langsungnya.

Skripsi saham siapa? siapa yang mesti diedukasi? Ya semua pihak yang terlibat di dalamnya. Elit perpustakaan tak mungkin bekerja sendirian.

Otokritik menjadi penting dalam konteks ini. Apa yang kita lakukan sudah mewakili emosional civitas akademika. Memang arsip maupun data ada expired nya. Namun begitu, tentu kita tak boleh semena-mena memperlakukannya. Apalagi itu karya anak sendiri. Bagaimana rasanya jika hasil kreasi atau inovasi dari anak-anak kita kita buang secara serampangan.

Begunung-gunungnya skripsi di gedung kampus, berisiko rusak jika terlampau lama terbiar, kemudian yang pasti menerbitkan kekecewaan yang dalam jika harus dibuang dan menjadi viral lagi.. Ekstremnya, seolah menjadi sia-sia, tak ada baik-baiknya. Meski itu barang atau benda mati. Sesungguhnya bukan skripsinya, tapi proses membuat skripsinya yang harus jauh lebih dihargai ketimbang bekerja hanya asal. Atau sekadar asal bersih ruang dan gedung kampus.

Diakui atau tidak sepertinya jangkar moral akademisi atau khususnya kampus kita menjadi beku, sebeku nalar para elit Unikal. Bukan tak mungkin, peristiwa "pinggiran," itu karena arus komunikasi yang tersendat bahkan tercekat. Di sinilah semua pihak perlu buka kanal-kanal komunikasi yang responsif, mudah, murah dan informatif.

Fakta di atas hanya menujukkan lemahnya pihak kampus atas kinerjanya. Bagaimana tidak, perlakuan pembuangan skripsi menjadi tragedi akademik meski tidak secara langsung. Namun, lagi-lagi, aksi itu lebih mengindikasikan cara kerja yang tak punya nurani. Ia telah menghancurkan kaukus psikologis mahasiswanya.

Absen bahkan nihilnya teladan (role model) kampus yang memperlakukan benda sebagaimana kita sebagaimana manusia. Jika skripsi itu bisa bicara, ia akan memberontak atau melawannya dengan sekuat tenaga.

Semestinya etika dan etos mesti ada balancing. Keduanya harus beroleh bobot yang sama jika tidak ingin mutu elit kampus terperosok. Skripsi mestinya diberikan space pada tempat yang terhormat, begitu juga disertai maupun hasil riset lainnya bahkan rupa-rupi olah kreasi inovasi keluarga raya kampus.

Penulis juga jebolan kampus dan mengalami suka duka membuat skripsi, sangat menyayangkan tindakan buang-buang skripsi di atas. Padahal, jika kita cermat bisa menjadi bahan referensi bagi mahasiswa atau pihak lain yang ingin mengembangkan hasil riset tersebut untuk menyempurnakan dan bahkan bisa menjadi rekomendasi bagi pemangku kepentingan dalam perencanaan kebijakan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN