Mohon tunggu...
Tengku Ariy Dipantara
Tengku Ariy Dipantara Mohon Tunggu...

Sejarawan Gadungan dan Sastrawan Amatiran yang bekerja untuk kemanusiaan @TengkuDipantara

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Cinta Dalam Masyarakat Kapitalistik

7 November 2015   22:47 Diperbarui: 8 November 2015   09:03 317 0 0 Mohon Tunggu...

Orang boleh berkata (dan mengejek), ‘’apa yang bisa didiskusikan dengan cinta’’. Tapi nampaknya tetap perlu untuk membicarakannya sebab manusia butuh pengetahuan, tentang apapun. Mungkin mereka juga mengejek romantisme dan kata-kata indah: karena, mewakili kalangan yang pesimis-apatis, mungkin mereka terbiasa melihat kenyataan bahwa kata-kata indah selalu menghiasi dan menjadi aroma dalam dinamika kapital; kata-kata indah menjadi alat dan komoditas pasaran, iklan, kepura-puraan artis film dan sinetron. Masyarakat disuguhi estetika yang bapak-ibunya adalah modal.

 

Mereka belum membayangkan masyarakat selain masyarakat kapitalisme: mereka, manusia massa dewasa ini, jarang yang berpikir dan merasa, atau merenung, tentang hakekat cinta. Akhirnya mereka apatis dan tidak lagi percaya dengan cinta, dan menempuh cara-cara yang justru menjauhi nilai-nilai holistis dari cinta itu sendiri. Akibatnya, pelarian filosofis orang-orang korban sistem mengarah pada hal-hal berupa ikut arus secara membuta, atau menyatakan kebejadan sistem dan kemanusiaan dengan cara menjadikan diri sebagai pelaku yang asal-asalan.

Banyak orang menjadi pelacur, maling, pembunuh, dan lain-lain hanya karena mereka apatis dalam menghadapi keadaan yang seolah-olah semuanya “bejad”. Adagium “Jaman edan, yen ra edan ra melu keduman” (jaman sudah gila dan rusak, kalau nggak ikut rusak tidak akan mendapatkan sesuatu yang kita inginkan) merupakan ide yang mewakili kalangan itu. Pelarian ini adalah akibat dari ketidakpercayaan masyarakat pada cinta, kebersamaan, kebajikan, serta mengilusi mereka bahwa percuma diadakan perjuangan untuk mengembalikan makna cinta sejati dalam sistem sosial ini. Dan apa yang kita lihat dari hari ke hari? Amoralitas, kanibalisme, dekadensi, degenerasi, kehancuran lingkungan kemanusiaan dan alam semakin merajalela.

Tapi, dalam kondisi pesimisme sosial-budaya seperti itu, tetap masih ada sosialisasi tentang makna dan esensi cinta secara benar dalam masyarakat. Sehingga dunia saat ini butuh propagandis-propagandis cinta yang militan, bukan sebagai artis atau pelacur di majalah-majalah, koran dan TV. Aparat-aparat kapital itu hanya menunjukkan pemaknaan mereka yang “tidak karuan” terhadap cinta, yang justru menjadi propagandis penindasan dan akselerator dehumanisasi. Telah lama muncul istilah ‘’pacaran’’—ditunjukkan dengan agresifitas perburuan (hunting) antar lawan jenis dalam kesemarakan remaja kita, yang tetap mengatasnamakan cinta… cinta yang benar-benar “buta”.

 

Jadi, selain ada orang-orang yang pesimis sekali terhadap cinta dan keindahan, juga ada orang yang optimis. Sementara masyarakat kapitalis menciptakan manusia pemuja keindahan secara membuta berdasarkan logika kapital dan buaian-buaian iklan. Kreasi keindahan yang diciptakan dalam logika pencarian keuntungan dan akumulasi kapital demi kemewahan dan kemudahan hidup golongan penumpuk modal telah mengkondisikan manusia mengalami estetisasi kehidupan sehari-hari, atau membuat pengaburan atas perasaan dikotomis antara kebahagiaan dan penderitaan: manusia bahagia dalam penderitaannya, menderita dalam kebahagiaannya ataupun puas melihat kebahagiaan orang lain. Inilah corak masyarakat yang dirayakan sebagai modernitas itu: Hasil dari kontradiksi kapitalisme yang berupa kesenjangan kelas ekonomi-politik diestetisasi menjadi kemampuan untuk menerima begitu saja yang hadir bertubi-tubi sebagai humor, erotika, kesedihan, kebahagiaan; dan semuanya bercampuraduk menjadi estetika yang berganti-ganti tiap detik: manusia menjagi gila dalam ketidaksadarannya— sebentar ketawa, sebentar marah, sebentar sedih, sebentar bahagia dari situasi iklan TV yang berganti-ganti dengan sinetron, humor, tragedi, serta acara-acara yang berganti-ganti sebagai kegilaan yang berubah-ubah dalam kesemarakan pasar yang ramai barang-barang konsumen. Tawa, tangis, kesedihan, kemarahan, humor, senyum, air mata, juga menjadi barang dagangan yang menjadi hiburan. –Dalam kapitalisme dewasa ini segalanya menjadi komoditas, termasuk cinta: dan di antara mereka ada yang pesimis, bahwa cinta tidak ada... Tapi mereka masih memungkiri bahwa mereka hanyalah spesies biasa yang kehilangan ancangan filsafat. Inilah the death of phylosophy itu.

 

Kedalaman hidup, makna cinta sejati, sulit ditemukan dalam manusia kapitalis jika tidak ada perjuangan yang konsisten menuju sistem lain. Karena mereka tidak bisa berpikir banyak di luar hubungan kepemilikan pribadi serta upaya-upaya dan tindakan-tindakan untuk mengatur hubungan pertukaran diri (tubuh dan jiwa) dalam percaturan kapitalistik. Bahwa diri adalah modal, bahwa tubuh, kerja, dan perannya, adalah pertukaran yang diwadahi oleh klaim-klaim kepemilikan pribadi. Pada hal cinta adalah kebebasan untuk dibatasi selain kerelaan; tidak ada cinta sejati selama manusia menganggap bahwa dirinya adalah miliknya sendiri tetapi sebenarnya terasing. Kemanusiaan dan cinta adalah “menjadi”, dan bukan “memiliki”.

 

Jadi, kapitalisme mengembalikan manusia pada wilayah kedalaman id dan ego-nya yang paling liar, bukan alami pada tingkat konformitas alamiahnya dengan individu lain, alam dan Tuhan. Akhirnya, manusia kembali pada kebinatangannya yang lebih buruk dari pada jaman (komune) primitif. Sebagaimana dipercaya oleh banyak ilmuwan dan tokoh-tokoh filsuf dari mazab materialisme, bahwa kapitalisme adalah kesalahan paling fatal dalam sejarah umat manusia.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x