Teguh Adi
Teguh Adi

saya berpikir maka saya ada by Rene Descartes dan salah satu hasil dari berpikir adalah menulis

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Mencermati Pertemuan SBY-Prabowo

31 Juli 2017   14:24 Diperbarui: 31 Juli 2017   17:43 1429 1 1

Selama hampir sepekan terjadi kebisingan media yang menanggapi pertemuan yang terjadi antara dua pimpinan partai politik (partai Demokrat dan Partai Gerindra) di Indonesia. kebisingan yang terjadi di media tidak lebih dari sekedar memprediksi apa yang dibicarakan oleh SBY dan Prabowo. sebenarnya apa yang dilakukan dan dibicarakan akan sangat mudah kita cermati, karena beliau berdua merupakan politisi maka sangat jelas dan pasti mereka berdua akan berbicara masalah politik meskipun tidak secara gamblang namun dapat dipastikan jika karena urusan politik inilah kemudian mereka bertemu. apabila kemudian pertanyaan dikembangkan lagi, lantas urusan politik apa yang membuat mereka bersedia duduk berdampingan? 

nah untuk pertanyaan yang satu ini perlu tingkatan pemahaman yang lebih mendalam, misalnya mengapa pertemuan mereka disebut sebagai "diplomasi nasi goreng?" karena menu yang disajikan pada acara tersebut adalah nasi goreng, lalu muncul pertanyaan lagi mengapa nasi goreng? karena itu langganan pak SBY, sampai disini kemudian kita mulai bermain logika... apakah ketika kita menjamu tamu cukup hanya karena kita sudah langganan di warung tertentu?apakah sang tamu doyan?untuk pertanyaan ini saya ijinkan anda untuk berkelana dengan logika anda.

baiklah kita tinggalkan "diplomasi nasi goreng" dan mulai membicarakan esensi dari pembicaraan SBY dan Prabowo. Banyak pendapat yang berasumsi jika beliau berdua kemudian membicarakan Pemilu, kalau menurut saya tidak salah karena moment Pilkada sudah dekat (pertengahan tahun 2018) Pilpres pun sudah dekat (tahun 2019). lalu apakah ada kemungkinan untuk berkoalisi?

Kemungkinan selalu ada, bahkan partai Demokrat berkoalisi dengan PDI P pun bisa saja terjadi karena dalam politik tidak ada musuh dan kawan yang abadi. sekarang yang perlu dicermati kalau beliau berdua berniat koalisi, siapa yang akan dicalonkan sebagai Presiden kalau ranahnya Pilpres, SBY secara konstitusi sudah tidak bisa mencalonkan sebagai Presiden karena sudah dua periode menjabat sebagai Presiden, lantas siapa?. banyak anggapan bahwa SBY akan menjadikan AHY sebagai cawapres untuk mendampingi Prabowo, apakah popularitas AHY cukup untuk mampu menganggkat perolehan suara pasangan Prabowo-AHY kalau memang keduanya maju?kalau bukan AHY lalu siapa?Ibu Any?

Sepertinya nama Ibu Ani sebagai Cawapres lebih realistis dibandingkan dengan AHY baik dari segi populeritas maupun pengalaman ibu Any lebih unggul. seperti yang kita ketahui dulu di akhir masa jabatan SBY periode ke dua sempat muncul wacana bahwa partai Demokrat akan mencalonkan ibu Any sebagai Capres periode 2014-2019 namun entah mengapa wacana tersebut tidak terbukti. Lantas siapa lagi yang memungkinkan untuk dicalonkan sebagai cawapres 2019-2024? kalau kita masih berbicara terkait koalisi Partai Demokrat dan Partai Gerindra maka ada satu nama yang belum di sebut dari kubu Demokrat dimana beliau memiliki populeritas lebih tinggi dibandingan dengan AHY dan ibu Any, siapakah beliau?tentunya beliau adalah SBY sendiri. memang benar beliau sudah tidak bisa mencalonkan diri sebagai Presiden tapi tidak ada aturan yang melarang beliau untuk maju sebagai wakil Presiden, untuk ini kita akan sama-sama membuktikannya dalam Pemilu 2019 mendatang.

selain "diplomasi nasi goreng" dan Pemilu, kita dapat mencermati efek yang diharapkan setelah pertemuan ini. kita semua mengenal siapa SBY dan Prabowo keduanya merupakan Jenderal yang mempunyai nama besar di lingkungan militer. siapa yang tidak gentar jika kedua nama besar tersebut disatukan, orang awam seperti saya pun penasaran mengenai permasalahan yang akan di bahas dua jenderal tersebut sebelum akhirnya saya mengingat bahwa kedua jenderal tersebut merupakan politisi yang pastinya akan membicarakan tentang politik. hal lain yang kemudian membuat saya tidak begitu mengkhawatirkan pertemuan kedua jenderal tersebut adalah beberapa hari sebelumnya presiden Jokowi melantik/mewisuda taruna/taruni AKPOL dan AKMIL dimana tradisi ini terputus semenjak era kepemimpinan SBY dengan jeli pak Jokowi kemudian menjalankan tradisi tersebut. 

Acara pelantikan yang dilakukan oleh presiden Jokowi sebenarnya bukan semata-mata pelantikan biasa tapi bisa dimaknai banyak diantaranya bahwa presiden Jokowi sebagai warga sipil mencintai TNI dan Polri serta TNI dan Polri berada di kubu prsiden Jokowi, hal ini di respon dengan baik oleh SBY dengan mengadakan pertemuan dengan jenderal lain yang memiliki nama besar dan di perhitungkan dalam militer (meskipun saya belum mendapatkan informasi kapan acara SBY dan Prabowo direncanakan) dan saya yakin jika Pak Wiranto bukan bagian dari kabinet Jokowi maka Pak Wiranto pun akan di tarik dalam "diplomasi nasi goreng" tersebut. tentunya bukan maksud saya untuk menyebut bahwa pertemuan antara SBY dan Prabowo berniat buruk terhadap pemerintahan presiden Jokowi namun saya memandangnya pertemuan mereka sebagai suatu kewajaran di dunia politik dan show of force bahwa mereka masih memiliki kekuatan untuk sekedar bertarung di Pilpres.

demikian sekilas unek-unek saya terkait pertemuan antara SBY dan Prabowo, feed back sangat kami nantikan.

Terima Kasih