Teguh Yuswanto
Teguh Yuswanto wartawan

jurnalis dan penulis

Selanjutnya

Tutup

Musik Pilihan

Tafsir Lagu "Belum Ada Judul"dari Duet Iwan Fals dan AgnezMo

12 Januari 2019   16:22 Diperbarui: 12 Januari 2019   17:17 345 3 1

Ada yang menarik dari gelaran UlangTahun ke 24 Tahun Televisi Indosiar pada Jumat (11/1)  malam lalu. Salah satunya duet antara Iwan Fals (57) dan AgnezMo (31) lewat lagu Belum Ada Judul dan Matahariku.

Kalau soal penampilan mereka, sudah tidak perlu dibahas lagi. Keduanya mempunyai reputasi yang luar biasa. Agnez tercatat sebagai penyanyi yang berhasil Go International. Bahkan Agnez pernah rekaman di Amerika Serikat, pada single berjudul Coke Bottle bersama Timbalan.

Sementara Iwan Fals, bisa dibilang penyanyi yang tetap eksis di tengah serbuan penyanyi baru di mana persaingan lebih berat lagi dibanding dahulu. Dari deretan nama-nama yang seumuran Iwan Fals, barangkali Iwan Fals, penyanyi yang tetap bersinar di puncak.

Harga show nya masih termahal dibanding penyanyi lain. Pihak Managament Tiga Rambu menerapkan  sistem kontrak yang adil. Kalau hendak mengontrak Iwan Fals, mesti jelas mau diminta nyanyi berapa lagu dan berapa jumlah penonton. Kalau menyanyi di depan 2000 penonton tentu berbeda dengan menyanyi di depan lebih dari 2000 penonton.

Tapi kalau Iwan Fals diminta tampil untuk kalangan terbatas seperti Ormas Oi dan kerabat dekat, pihak management Tiga Rambu tidak mematok bayaran. Karena itu memang hajatan Iwan sendiri. Akan tetapi jika pihak anggota Oi menggelar konser atau sebagai panitia, pihak Management Tiga Rambu memberi keringanan dengan ada diskon khusus. Soal besarnya tergantung kesepakatan bersama. Intinya, pihak Tiga Rambu dan Iwan juga ingin mereka yang aktif di Ormas Oi juga bisa belajar entrepreuner di bidang EO.

Kembali ke soal lagu berjudul Belum Ada Judul yang dinyanyikan pria kelahiran 3 September 1961 ini, mempunyai cerita yang sarat makna. Lagu itu dibuat  Iwan saat masih kuliah di STP (Sekolah TinggI Publisistik) sekarang dikenal IISIP (Institu Ilmu Sosial dan Ilmu Politik).

Bisa dibilang Iwan masih mencari jati diri dalam dunia musik.  Akan tetapi popularitas sudah menjulang tinggi. Pada saat itu Iwan merasa sahabat terdekatnya, yang biasa nongkrong bareng di tempat kos seperti meninggalkan dia. Padahal pada saat itu, Iwan sangat membutuhkan kehadiran sahabatnya. Lalu ditulislah lagu itu, kemudian direkam dalam sebuah kaset. 

Melalui seorang teman yang lain, rekaman lagu itu diberikan kepada sahabat Iwan yang dimaksud. Hingga kini persahabatan antara Iwan dengan teman-teman semasa kuliah di STP, masih terus berjalan.

Merekalah yang kemudian mengusulkan kepada Iwan  untuk mendirikan organisasi massa OI. Yang semula sebagai tempat ngumpul para fans Iwan Fals. 

Ide munculnya ormas Oi memang berawal dari kepergian Galang Rambu Anarki yang meninggal pada tahun 1997. Iwan merasa kesepian. Lalu para sahabat yang selalu setia menemani ini, mengusulkan bikin Oi. Awalnya Yoi (yayasan Orang Indonesia).  Para sahabat Iwan berasal dari berbagai lingkungan. Tapi lebih banyak dari teman-teman saat masih kuliah di STP. Terutama teman-teman satu kos dan satu angkatan.

Bagi Iwan, sahabat adalah segala-galanya. Mereka seperti cermin yang berani mengatakan salah kepada Iwan. Sahabat-sahabat Iwan inilah yang sering berkumpul, ngopi bareng sambil membahas kondisi terkini Indonesia. Dari masukan para sahabatnya inilah Iwan menulis lagu dan bersikap di masyarakat. Juga bagaimana menyikapi kondisi pemerintahan.

Dari sahabatnya ini juga ada yang mengajak Iwan untuk terjun ke politik. Tapi ada juga yang menyarankan Iwan tetap di jalur seni. Menurut Iwan, politik yang mengotori, seni yang membersihkan. Iwan lebih tetap konsisten tidak akan berpolitik. Dan sikap Iwan tetap netral tidak mau berpihak. Mereka yang berada di kubu yang berbeda semua sahabat -- sahabatnya.

"Dengan tetap jadi penyanyi, buktinya, calon presiden, calon gubernur dan calon   legislatif dan para menteri pada datang ke sini. Artinya penyanyi itu profesi yang  tinggi dan penting juga," ungkap Iwan pada satu ketika.

Tahun 1992, Iwan merilis album Belum Ada Judul dimana sebagai lagu andalannya, lagu Belum Ada Judul.  Menurut Rumi Aziz, pencipta lagu yang pada saat itu masih sebagai karyawan Musicas Studio ini, salah satu orang yang ikut berperan lahirnya album tersbeut.

Album  itu digarap dengan sangat sederhana. Iwan hanya menyanyi dengan iringan gitar dan harmonika. Album itu berisi lagu di antaranya, Besar dan Kecil, Mereka Ada di Jalan, Mencetak Sawah, Di Mata Air Tidak Ada Air Mata,Ikrar, Iya Atau Tidak, Panggilan dari Gunung, Coretan di Dinding dan Potret.   

Oleh  Rumi Aziz, album itu ditawarkan ke Handoko, bos Harpa Record. Konon, album itu berhasil terjual dengan harga yang sangat fantastis, Rp 500 juta.  Disebut sangat fantastis, karena biaya produksi album itu sangat murah. Iwan merekam secara live, sehingga tidak perlu  lama-lama sewa studio rekaman. Dan perbandingan dolar pada saat itu masih berkisar di angka Rp 2500.  

Begitu beredar di pasaran album itu bak kacang goreng. Para fans Iwan langsung menyerbu. Dalam tempo singkat album itu telah terjual ratusan ribu keping. Dan hingga kini, album itu masih diminati para fans Iwan Fals. Lagu Belum Ada Judul usianya  sudah puluhan  tahun. Dibuat saat Agnez Mo masih balita.