Mohon tunggu...
Teguh Ari Prianto
Teguh Ari Prianto Mohon Tunggu... Penulis - -

Kabar Terbaru

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

"Ruh" Lirik "Kaulinan Barudak"

3 September 2022   18:56 Diperbarui: 3 September 2022   19:07 2219
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Peserta Kemah Literasi dari Forum TBM Kota Bandung, Forum TBM Majalengka dan Forum TBM Kab. Bandung. Photo: Hati

Lirik ini merupakan serangkaian gaya penyampaian seseorang dalam bentuk sindir, sampir, simbul, siloka dan sasmita.

Dalam buku Kasundaan Rawayan Jati (2003), R. Hidayat Suryalaga memberikan penjelasan terhadap kelima istilah tersebut. Silib adalah sesuatu yang dikatakan secara tidak langsung tetapi dikiaskan; sindir sesuatu yang dikatakan secara tidak langsung tetapi menggunakan susunan kalimat yang berbeda. Simbul, menyampaikan suatu maksud dengan bentuk lambang. Siloka menyampaikan suatu maksud dengan bentuk pengandaian. Adapun sasmita adalah pemaknaan yang berkaitan dengan perasaan hati.

Kembali kepada gaya penulisan lirik Cing Cangkeling, bahwa manuk atau burung itu adalah simbul kepemimpinan.

Secara makna, lirik Cing Cangkeling mengantarkan kita kepada pemahaman bahwa ada pemimpin hebat, namun dia hanya diam dan diamnya di tempat gelap (kolong) juga tidak memiliki hasrat (buleneng) apapun terkait hal kepemimpinan yang sedang dijalaninya.

Lirik yang cukup ironis, raja digjaya namun sedang tidak berdaya. Keadaan kritis itu, dalam sejarahnya karena timbulnya pemberontakan dan penyerangan terhadap  kerajaan oleh orang-orang yang ada disekitar lingkungan kerajaan.

Disisi lain, raja merasa malu karena kualitas kepemimpinan yang ia jalankan ada dibawah kualitas kepemimpinan pendahulunya yaitu Prabu Sri Baduga Maharaja.

Surawisesa akhirnya "menyerah" dengan keadaan lalu melepaskan diri dari segala macam bentuk kekuasaan dan memilih jalan hidup menjadi resi atau guru berjuluk "Siksa Kanda'ng Karesian" dan menetap di Pegunungan Galunggung.

Lirik Cing Cangkeling ini memuat kesedihan yang luar biasa. Namun dalam permainan anak tradisonal, lirik ini sering dinyanyikan dengan riang gembira. Mengapa?

Inilah kepiawaian sang pujangga, bagaimana merekam suatu situasi dan keadaan pada ratusan tahun silam menjadi  karya bermakna dan abadi untuk generasi mendatang.

Sang pujangga menyebutkan bahwa karyanya dia "pahatkan" dalam rongga suara (elak-elakan) dimulut anak cucunya. Tujuannya, agar pengalaman ini terpatri dan tersampaikan kemudian sebagai bahan pembelajaran pada suatu masa tertentu.

Lirik-lirik, permainan anak tradisional dan gerak atraktif para pemainnya adalah warisan keluhuran nilai yang berharga bagi generasi bangsa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun