Sandy Sitorus
Sandy Sitorus PNS

Senang untuk berbagi dan membantu

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Bulan Mei, Bulan Kesadaran Kesehatan Mental

9 Mei 2018   16:10 Diperbarui: 18 Mei 2018   10:00 376 0 0

Bulan Mei menjadi Bulan Kesadaran Kesehatan Mental (Mental Health Awareness Month) di Amerika. Setiap tahun jutaan orang Amerika menghadapi kenyataan hidup dengan penyakit mental. 

Selama bulan Mei, Mental Health America, afiliasinya, dan organisasi lain yang tertarik dalam kesehatan mental melakukan sejumlah kegiatan yang didasarkan pada tema yang berbeda setiap tahun. Mereka memerangi stigma, memberikan dukungan, mendidik masyarakat dan mengadvokasi kebijakan yang mendukung orang dengan penyakit mental dan keluarga mereka.

Jenis penyakit mental yang dimaksud di sini seperti :

  • depression; suatu suasana hati yang lemah, dan tidak menyukai aktivitas yang dapat memengaruhi pikiran, perilaku, kecenderungan, perasaan, dan rasa sejahtera seseorang.
  • schizophrenia; gangguan mental yang ditandai dengan perilaku sosial yang tidak normal dan kegagalan untuk memahami realitas
  • bipolar disorder; sebelumnya dikenal sebagai manic depression, adalah gangguan mental yang menyebabkan depresi muncul dan masa dimana terjadi  peningkatan suasana hati secara abnormal

Kesemua penyakit mental di atas bisa berujung pada bunuh diri. Hal ini lah yang melatarbelakangi Mental Health America untuk menjangkau jutaan orang dan mensosialisasikan Kesadaran Kesehatan Mental lewat media, acara lokal, dan pemutaran film sejak tahun 1949.

Ada 5 (lima hal) yang harus diketahui tentang kesehatan mental:

1. Penyakit Mental adalah Normal

Orang-orang yang memiliki masalah kesehatan mental, merasa berbeda dari yang lain; walaupun banyak diskusi topik hal ini yang menyinggung bahwa seolah-olah mereka adalah kelompok asing yang jarang kita temui. Penelitian baru-baru ini mengklaim bahwa penyakit mental itu sangat umum terjadi.

Dari hasil penelitian terhadap pria dan wanita dengan usia 11-38 tahun, hanya 17% yang menghindari penyakit mental, 41%  memiliki kondisi kesehatan mental yang berlangsung selama bertahun-tahun, dan 42% memiliki penyakit mental yang berumur pendek. 

Ini menunjukkan bahwa, cepat atau lambat, penyakit mental menjadi masalah bagi kebanyakan orang. Depresi, kecemasan, dan penyalahgunaan obat-obatan adalah diagnosis yang paling umum dalam penelitian ini.

2. Jenis Kelamin Mempengaruhi Diagnosis Kesehatan Jiwa

Banyak dari kita pernah mendengar bahwa 1 dari 68 anak yang didiagnosis menderita autisme, mayoritas adalah laki-laki. Sebuah studi baru menunjukkan ini mungkin karena provider (alat pendeteksi) gagal mengenali tanda-tanda autisme pada anak perempuan. Alasannya? Rasa empati yang berbeda antar jenis kelamin.

Mereka yang autis sering tampak kurang memiliki rasa empati atau mengenali isyarat sosial. Menurut penelitian, anak perempuan lebih menunjukkan tanda-tanda empati. Para peneliti percaya anak perempuan menguasai keterampilan sosial jauh lebih kuat daripada anak lelaki. Jadi anak perempuan, secara sadar atau tidak, memiliki rasa sosial yang tinggi.

3. Di Seluruh Dunia, Depresi adalah Penyebab Utama Terjadinya Kecacatan

Penyebab utama terjadinya kecacatan bukanlah kanker ataupun nyeri kronis, melainkan depresi. Walaupun banyak orang menyadari hal ini, tingkat depresi bukannya semakin membaik; antara 2005-2015, tingkat depresi sebenarnya meningkat sebesar 18%. Dan kebanyakan orang, tidak mau melakukan terapi perawatan saat depresi melanda mereka.

4. Kesehatan Mental dan Fisik Tidak Terpisahkan

Bukanlah suatu hal yang baru kita ketahui bahwa kesehatan mental dan fisik saling mendukung. Akan tetapi, selama beberapa generasi, terjadi perubahan pemikiran, yang memisahkan antara mental dan fisik.

Contoh dimana kesehatan mental dan fisik itu sangat berhubungan; beberapa penelitian menunjukkan bahwa peradangan kronis dapat menyebabkan depresi. 

Di sisi lain, penyakit mental dapat mempengaruhi kesehatan fisik, atau menyebabkan gejala nyeri kronis. Peran latihan dalam memerangi penyakit mental dicatat dengan baik. Orang yang memakai beberapa obat kemoterapi mungkin lebih rentan terhadap depresi, bahkan ketika para peneliti mengontrol efek yang sudah ada pada orang yang sudah menderita kanker. 

Sebuah penelitian baru, menunjukkan bahwa untuk menurunkan risiko depresi, lebih disarankan mengkonsumsi makanan rendah lemak, daripada susu berlemak. Pikiran kita berada di otak, dan otak hidup di dalam tubuh. Itu dipengaruhi oleh apa yang kita makan, bagaimana kita menghabiskan waktu kita, dan kesehatan kita secara keseluruhan.

5. Masalah Lingkungan Untuk Kesehatan Mental

Banyak diskusi membahas tentang kesehatan mental itu berfokus pada genetika, zat kimia otak, dan fenomena biologis lainnya. Memang benar bahwa penyakit mental bisa diturunkan secara biologis, tetapi itu tidak berarti bahwa semua kasus penyakit mental sudah terprogram. Lingkungan dapat mempengaruhi perilaku gen, studi tentang epigenetik memperjelas hal itu. 

Lingkungan yang penuh stress dan tidak kondusif dapat mengubah cara gen berperilaku, memicu munculnya penyakit mental. Sebagai contoh, penelitian baru-baru ini, ditemukan bahwa ada hubungannya antara tumbuh kembang seseorang yang kekurangan makanan dengan meningkatnya risiko kesehatan mental.

Lingkungan di mana orang tumbuh juga mengajarkan mereka bagaimana menangani semuanya, mulai dari stres harian hingga trauma serius. Misalnya, orang dapat belajar berpikir depresif dari orang tua mereka, atau mereka mungkin mengalami trauma pada usia dini yang berakhir dengan masalah kesehatan mental mereka.

Penyakit mental tentu memiliki komponen biologis, tetapi percaya bahwa itu sudah terprogram dan tidak dapat dihindari sama dengan percaya bahwa pengobatan tidak ada gunanya. Itu tidak benar. Perawatan membantu otak mempelajari kembali cara-cara baru memproses informasi seperti halnya perawatan membantu mereka mengatasi emosi yang sulit. Dan sama seperti lingkungan dapat membuat seseorang memiliki penyakit mental, pengobatan pun dapat membantu lepas dari penyakit mental.

Kondisi di Indonesia

Di Indonesia, isu tentang kesehatan mental belum lah menjadi hal yang penting. Padahal kalau kita melihat kondisi masyarakat Indonesia pada saat ini, sudah banyak orang yang terkena gangguan kesehatan mental. 

Hal ini bisa kita lihat dari perilaku sosial yang terjadi di media sosial maupun di lingkungan sebenarnya; menggunakan kalimat-kalimat yang tidak sesuai etika sosial dalam menyampaikan pendapat mereka. Di atas sudah disebutkan bahwa otak berpengaruh terhadap etika bersosial. Jadi jika etika sosial sudah dianggap tidak ada lagi, berarti ada masalah dengan proses kerja otak, dan hal ini akan berujung pada gangguan kesehatan mental.

Biarlah kita masyarakat Indonesia juga menyadari pentingnya kesehatan mental. Bukan hanya masyarakat tapi pemerintah harus juga bergerak akan hal ini, sehingga penyakit mental tidak semakin banyak menjangkiti masyarakat Indonesia, melainkan semakin banyak yang dipulihkan.

"A life lived for others, is the only life worth living." Albert Einstein

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2