Mohon tunggu...
teddos ndarung
teddos ndarung Mohon Tunggu... Tedos Ndarung

Cucu dari ex-Manajer PT. Gola Malang di Uma Lilin sekaligus putra bungsu dari Distributor Gola Malang terpopuler di Manggarai

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Kehendak Baik dan Euforia Politik Pilkada Mabar 2020

7 November 2019   01:53 Diperbarui: 7 November 2019   02:16 0 1 1 Mohon Tunggu...

Sejak gendrang pilkada Mabar 2020 ditabuhkan pada bulan September 2019 kemarin banyak para politisi bersemangat mendeklasikan diri sebagai bakal calon (balon) kemudian melakukan pendaftaran ke berbagai partai politik.

 Begitupun sebaliknya, beberapa partai politik sembari membuka pendaftaran, mereka juga menyampaikan penyataan dukungan penuh kepada politisi tertentu. 

Selain itu, para Balon secara intensif bergerilya turun ke masyarakat dan tidak sungkan-sungkan menyampaikan sejumlah gagasannya untuk membangun Mabar ke depannya. 

Hasil amatan penulis sendiri dari berbagai berita yang berseliweran di lini masa media sosial, semua para Balon yang tampil mempunyai formulasi visi yang berkelas untuk Mabar ke depannya.

 Tetapi berdasarkan teori komunikasi politik, visi yang disampaikan oleh seorang politisi dalam pertarungan politik tidak sekadar kalimat hampa-tanpa makna, tapi memiliki sejumlah modus operandi tertentu, salah satu yang paling penting yaitu untuk menarik perhatian massa-rakyat. Hal ini dilakukan untuk meraih kekuasaan.  

Namun, satu pertanyaan yang perlu kita refleksikan, apakah mereka yang maju sebagai petarung di pilkada kali ini mempunyai visi yang lahir dari hati nurani atau hanya lahir dari nafsu kekuasaan belaka? Visi-misi dari hati nurani adalah yang oleh kebanyakan orang menyebutnya sebagai kehendak baik. Dan visi-misi nafsu kekuasaan adalah interest pribadi untuk memuaskan diri sendiri serta mengesampingkan kepentingan masyarakat. Nafsu kekuasaan ini sering dijumpai dalam diri koruptor, melegitimasi kekuasaan hanya untuk memuaskan kepentingan pribadi. Dua kekuatan besar ini, hati nurani dan nasfu kekuasaan sudah pasti menyelinap masuk di pintu pentas pilkada Mabar 2020.

 Dengan demikian, pilkada Mabar 2020 jangan secara mutlak dibaca sebagai ajang memperbaiki kondisi rakyat. Tetapi harus dianalisa dari dua sisi. Pada sisi yang pertama, ia menjadi kekuatan baru Mabar kedepannya dan di sisi lainnya menjadi momok yang menakutkan bagi perjalanan Kabupaten Mabar kedepannya. Kekuatan baru terjadi jika semua kontestan mempunyai visi-misi yang berlandaskan nurani atau moralitas bangsa. 

Moralitas berbangsa muncul ketika seorang kandidat memunyai kehendak baik dalam dirinya untuk ikut bertarung. Sebaliknya pilkada Mabar 2020 akan menjadi peristiwa yang menakutkan jika mereka yang maju bertarung hanya untuk memenuhi hasratnya untuk berkuasa. 

Filsuf Jerman, Friedrick Nietzsche pernah mengatakan dengan kalimat yang menakjubkan, yaitu kehendak berkuasa (will to power). 

Bila hasrat berkuasa ini dibiarkan, maka panggung politik dipenuhi oleh semangat menghalalkan segala cara. Berkaitan dengan fenomena ini, ajaran Machiavelli selalu menjadi dasar pijakan bagi para politisi yang mengabaikan kehendak baik dalam memburu kursi kekuasaan.

Oleh karena itu, kehendak baik adalah hal yang paling penting untuk ditumbuhkan dalam diri para Balon karena hanya dengan kehendak baik segala sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat akan dijadikan masalah utama untuk kemudian diperhatikan secara serius.

Kehendak baik menurut Emanuel Kant sama dengan budi praktis. Karena itu hukum moral adalah stimulus dari budi praktis yang memerintahkan untuk dirinya apa yang harus dan apa yang tidak boleh dilakukan. Budi praktis selalu konsisten karena tidak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Karena itu dia bersifat otonom, budi yang otonom ini merupakan sumber kewajiban moral (Ceunfien.ms, 2005). Ketika moral mendapat tempat dalam diri para Balon, maka dengan sendirinya ia patuh terhadap etika politik. Tetapi, etika politik juga memiliki banyak jenis.

Max Weber (1864-1920) membedakan dua bentuk etika, yaitu etika maksud baik (gesinnungsethik) dan etika tanggung jawab (Verantwortungsethik). Etika maksud baik menegaskan bahwa nilai moral suatu tindakan ditentukan oleh maksud (Gesinnung) atau kehendak si pelaku. Suatu tindakan bernilai baik, bila timbul dari kehendak baik. Karena itu, tujuan yang baik tidak pernah menghalalkan pemakaian cara yang secara moral salah. Segala bentuk praktik politik yang menghalalkan segala cara, seperti menyebar hoax, isu SARA, dan money politic adalah manuver politik yang tidak baik dan otomatis salah dari sisi moral. Tujuan perilaku politik seperti ini jelas merusak peradaban, bukan memperbaiki keadaan.

Etika tanggung jawab menegaskan pentingnya pertanggungjawaban (Verantwortung) atas akibat tindakan. Pemimpin harus mempertanggungjawabkan tindakannya di hadapan hati nuraninya dan di hadapan orang lain, bahkan di hadapan Tuhan. Hal penting di sini adalah kesadaran diri untuk siap menjalankan visi yang telah diformulasikan ke publik. Pemimpin harus tahu bahwa pilkada merupakan tindakan yang memerlukan pertanggungjawaban praktis dan bukan sebuah pertunjukan drama yang hanya menimba acungan jempol dari publik. Oleh karena itu, gagasan yang disampaikan oleh para Balon lebih kepada menjawabi pertanyaan publik dengan kata-kata, kemudian dilanjutkan ke tindakan praktis (jika terpilih), bukan janji belaka.

Oleh karena itu, etika maksud baik dan etika tanggung jawab secara substansial memiliki perbedaan. Distingsi ini mau mengatakan bahwa etika maksud baik saja tidak mencukupi untuk mengatasi persoalan-persoalan rakyat, karena itu harus diimbangi oleh etika tanggung jawab. Begitupun maksud baik para Balon yang dijabarkan dalam bentuk visi-misi tidak cukup untuk mengatasi persoalan-persoalan di tengah masyarakat, tapi harus diikuti oleh pertanggungjawaban berupa tindakan nyata.

Tindakan nyata sangat penting untuk mengubah beberapa cara pandang masyarakat. Pertama, distrust rakyat terhadap pemimpinnya. Gejala ini muncul ketika banyak pemimpin yang hanya pandai mengingkar janji. Kedua, menghilangkan persepsi rakyat bahwa politik itu buruk. Ketiga, rakyat takut berpolitik, karena merasa bahwa berpolitik itu dosa besar-kerjanya hanya menipu. Hal ini timbul karena para pemimpin di negeri ini tidak kalah banyaknya telah menjadi tersangka kasus korupsi.

Sebagai Penutup
Sebagai penutup tulisan sederhana ini, kita juga memberikan apresiasi atas semangat para Balon yang juga merupakan tokoh terbaik Manggarai Barat untuk merebut kekuasaan di tanah yang kaya, tapi tidak maju ini. Dengan demikian tulisan ini bukan men-judge para Balon yang tampil, tapi membuka pikiran rakyat Mabar agar hati-hati dalam menentukan para pemimpinnya, karena hasrat untuk berkuasa dimiliki setiap diri manusia, tapi hasrat untuk berkehendak baik hanya dimiliki oleh orang yang ingin melayani rakyat. 

KONTEN MENARIK LAINNYA
x