Cerpen

Dokter "Zaman Now"

6 Januari 2019   13:37 Diperbarui: 6 Januari 2019   14:00 219 0 0

"Gimana? Ada keluhan apa?" Lugas tanpa basa basi pertanyan di ajukan padaku. No senyum, no contact eye. Jemari sibuk menekan tuts gadget keluaran terbaru, kulirik aplikasi whatsapp. Hm, WA mewabah memang.

Awal aku mengenal wa tahun 2010 orang masih tergila-gila dengan BBM. Rela mengantri untuk mendapatkan versi terbaru. Sekarang, setelah Whatsapp diakuisisi facebook, penggunanya mengalami lonjakan tajam.

"Kontrol jahitan dok." Singkat juga jawabku.

"Jahitnya di sini?" Masih dengan nada getas. Pemegang gelar dokter di depanku ini rupanya lebih kepo terhadap berita yang muncul di tangannya, dibanding cerita bagaimana aku bisa mendapatkan luka jahit sebanyak 7 sepanjang jari kelingking di dahiku.

Bisa jadi ceritaku tak menarik dan tak simpatik. Lebih seru cerita yang bertebaran di media sosial, dan simpatinya sudah berada di sosmed beralih rupa jempol, atau emot wajah dengan tanda love.

Atau semasa kuliah, ada mata kuliah membaca pikiran pasien, sehingga tak perlu bertanya dia sudah tahu sejarah luka jahitku. Entahlah, ini dokter jaman now.

"Tidak, di puskesmas."

Tak beralih dari gadget, diraihnya gagang telepon meminta perawat masuk ke ruangan. Gadis berjilbab mengenakan kacamata masuk membawa kidney dish berisikan gunting, pinset, kasa steril, plester. Kelihatannya sang perawat lupa membawa senyum dan sapa ramah, tertinggal di salah satu sosial media mungkin.

"Coba lihat itu ada tanda keloid tidak?" Masih berkosentrasi pada bunyi tang tung di tangan, sang dokter memberi perintah.

"Silakan Tiduran," tak kalah kering nada suara, sang perawat memintaku berbaring di patient bed. Aku Merebahkan diri searah dengan sang dokter. Laptop yang sedari tadi memunggungiku, sekarang bisa kulirik layarnya. Guess what? Aplikasi line for PC terpampang di sana. Sirna sudah runtutan hikayat 7 jahitan yang terkonsep di otakku sejak dari rumah. Diam memejamkan mata, membiarkan tangan perawat bergerak membuka perban, mengoles salep, menutup dengan kasa, terakhir merekatkan dengan plester. Tak ada percakapan renyah meringankan nyeri. Ah, memang jaman now. Percakapan lebih hangat dan seru melalui jemari bukan lagi intonasi dan suara lunak merayu syahdu hingga kalbu.

"Sudah," kata perawat singkat sambil membereskan peralatan dan keluar ruang.

"kembali lagi hari Senin, untuk membuka jahitan," dokter berkata sambil menulis sesuatu di kartu rekam medis dan resep. Yah paling tidak sejenak tangannya lepas dari gadget untuk menulis.

"Ya," singkat juga jawabku sembari berdiri keluar ruangan menuju instalasi farmasi. Duh kemana dokter-dokter ramah dengan wajah teduh dan sabar mendengarkan keluh kesah pasien yang kadang tak berhubungan dengan penyakit yang di derita. Kemana perginya sumpah dokter yang terucap dengan kitab suci di atas kepala. Teralihkan kotak ajaib bernama gadget sistem android.

***

PASIEN

Wanita denga perban sepanjang dahi memasuki ruangan. Seputar matanya dan dagunya lebam, hmm.. bisa jadi jatuh. Nada notifikasi aplikasiku berbunyi, komentar teman di grup menghadirkan senyum simpul. Selalu seru bersama dengan teman masa lalu. Merajut masa yang pernah tertinggal, mengulang romansa bersama mereka di waktu yang berbeda. Dan hebatnya WA mampu memenuhi perasaan nostalgia yang banyak orang rasakan.

Wanita tersebut menjawab pertanyaanku dengan dingin, tegas. Tak tersirat rasa nyeri di wajahnya. Cukup tegar. Tak banyak bicara, seperti umumnya pasien yang bercerita tanpa di tanya. Rautnya terlihat cerdas, kulitnya kuning bersih, bisa dikatakan cantik.

"Kapan dijahitnya?" Tanyaku.

"Senin," jawabnya

"Belum pernah di kontrolkan?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2