Mohon tunggu...
TauRa
TauRa Mohon Tunggu... Konsultan - Rabbani Motivator, Penulis Buku Motivasi The New You dan GITA (God Is The Answer), Pembicara Publik

Rabbani Motivator, Leadership and Sales Expert and Motivational Public Speaker. Instagram : @taura_man Twitter : Taufik_rachman Youtube : RUBI (Ruang Belajar dan Inspirasi) email : taura_man2000@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

3 Pelajaran Idul Adha dari Nabi Ibrahim AS

19 Juli 2021   20:58 Diperbarui: 19 Juli 2021   21:16 479
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ambillah hikmah dari sejarah Nabi Ibrahim AS di Hari Idul Adha ini (pikiran-rakyat.com)

Dengan penuh kesadaran, besok adalah hari raya Idul Adha. Hari raya yang sebenarnya jauh lebih besar perayaannya dari hari raya Idul Fitri. Selain karena ibadah haji yang disyariatkan di dalamnya, juga ada ibadah kurban yang selalu dinantikan oleh seluruh umat muslim di seluruh penjuru bumi.

Sejarah yang paling sering diulang pada perayaan hari Adha tentu saja adalah sejarah Nabi Ibrahim AS yang diminta oleh Allah untuk berkurban. Singkatnya, anaknya lah (Nabi Ismail AS) yang diminta untuk "dikurbankan" hingga akhirnya Allah menggantinya dengan seokor kibas pada saat penyembelihan berlangsung.

Lebih jauh, dari semua proses yang ada, minimal ada 3 pelajaran atau hikmah yang bisa kita ambil dari sejarah Nabi Ibrahim AS dan keluarganya ini. Berikut adalah 3 hikmah yang bisa kita ambil.

1. Membentuk Keluarga yang Taat Kepada Allah 

Kalau hari ini ada seorang ayah yang taat kepada Allah, maka itu belum istimewa. Kalau ada orangtua (suami dan istri) yang taat kepada Allah, itu juga masih belum istimewa.

Tapi, kalau satu keluarga taat kepada Allah, itu baru istimewa. Ya, Nabi Ibrahim AS sukses membentuk ketaatan atas keluarganya secara utuh. Dia tidak ingin taat sendiri, tapi dia berhasil membentuk anak dan istri yang juga taat kepada Allah.

Bagaimana cara Nabi Ibrahim AS membentuk keluarga yang taat kepada Allah? Kuncinya ada di keteladanan. Hari ini, banyak orang yang kehilangan keteladanan hingga akhirnya perintah tak didengar, aturan dilanggar dan lain sebagainya. Ya, salah satu faktor utamanya karena krisis keteladanan. 

Coba bayangkan, andai saja anak zaman sekarang yang diminta ayahnya untuk disembelih? kira-kira apa jawaban anak sekarang? Saya yakin kita semua tahu jawabannya. Tapi berbeda dengan Nabi Ismail AS ketika diminta untuk disembelih oleh ayahnya. Ya, itu bukan saja karena dirinya, tapi juga karena ada iman dan ketaatan yang terhujam di dalam jiwanya. Dan tentu saja salah satu faktornya adalah keteladanan dari sang Ayah. 

2. Komunikasi yang Lancar Antaranggota Keluarga

Nabi Ibrahim meskipun seorang Nabi dan yakin mimpinya dari Allah, tidak pernah memaksakan kehendak untuk langsung menyembelih anaknya. Dia memilih jalur diplomasi dan komunikasi dengan anaknya untuk menanyakan pendapat anaknya tentang mimpinya. Alquran Surah Assafat ayat 102 mengurai bagaimana dialog yang dilakukan Nabi Ibrahim kepada anaknya.

Singkatnya, dalam keluarga butuh komunikasi. Di masyarakat butuh komunikasi. Bahkan hingga bernegarapun kita butuh ilmu komunikasi. Semakin bagus komunikasi kita, maka tidak jarang akan semakin bagus hubungan yang terjalin antarberbagai pihak.

Pertanyaannya, sudah baikkah komunikasi kita dalam berbagai aspeknya? Kita yang paling tahu jawabannya.

3. Sabar Menghadapi Ujian Hidup

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun